
Bab 76
"Eh... tapi kenapa kalian tidak berpelukan tadi? Bukankah di naskah drama yang ditulis Wilson adegannya Wilson memeluk Shania dengan erat?" tanya Joseph dengan wajah polos dan mimik lugu. Dia merasa heran karena adegan yang dipraktikkan Son dan Shania tadi melenceng dari isi naskah.
Shania yang sedang bertatap-tatapan dengan Son pun tiba-tiba merasakan wajahnya memerah dan panas. Aliran hangat terasa menjalar di tubuhnya mendengar pertanyaan Joseph itu.
"Ehm-ehm...," Winy dan Cyntia pura-pura mendehem dengan suara keras untuk menyadarkan Joseph akan pertanyaannya yang pasti sangat susah dijawab oleh Son.
Joseph melirik Winy dan Cyntia dengan tatapan tak mengerti. Bukannya sadar, dia malah bertanya lagi. Pertanyaannya kali ini membuat wajah Son ikut memerah juga.
"Wilson, kenapa kamu tidak memeluk erat Shania seperti isi naskah yang kamu tulis? Kalau tidak sama isi naskah dengan adegannya berarti salah. Nanti ibu guru bakal mengurangi nilai kerja kelompok kita," kata Joseph.
"Ehm-ehm, kurasa betul juga kata-kata Joseph," serobot Winy cepat. Dalam hatinya merasa penasaran juga. Dia merasa ada yang janggal saat melihat adegan Son berbicara dengan Shania. Mereka berdua berdiri berhadapan dan saling menatap dengan sorot mata penuh cinta tapi Son tidak memeluk Shania erat seperti yamg ditulisnya sendiri di naskah drama.
"Kenapa kamu bertanya begitu, Win?" Cyntia pura-pura memotong dengan keberatan. "Masa Wilson benar-benar harus memeluk Shania dengan erat di depan kelas? Yang benar saja? Nanti kalau dilihat sama Richard yang naksir Shania gimana tuh?"
"Ohiya... betul juga!" Winy pun pura-pura tersadar. "Kalau begitu berarti isi naskah drama ini harus dirombak lagi dong. Adegan Wilson memeluk Shania dihapus saja. Gimana, Wilson?" tanya Winy sambil memandang Son dengan rasa ingin tahu.
"Iya... kalau tidak sama ya salahlah," cetus Joseph.
"Naskahnya sudah bagus, sayang kalau dirombak lagi," kata Cyntia. "Menurutku, Wilson harus memeluk Shania dengan erat di adegan tadi. Sebaiknya adegan yang tadi diulang lagi."
"Iya, diulang saja. Aku setuju. Adegan yang tadi diulang saja. Tapi kali ini Wilson harus memeluk Shania dengan erat," kata Joseph sambil manggut-manggut.
Shania dan Son yang mendengar pembicaraan Joseph,Winy, dengan Cyntia itu cuma bisa berdiri kaku saling diam tapi berkali-kali saling mencuri pandang. Malu dan jengah mendengar permintaan Cyntia, Winy, dan Joseph yang ingin melihat adegan mereka saling berpelukan.
"Tidak mungkin," kata Son tiba-tiba dengan suara berat.
Shania menatap Son ingin tahu. Kenapa tidak mungkin? tanyanya dalam hati. Jadi apa maksud Son memasukkan adegan itu di naskah drama kalau tidak berkehendak mempraktikkannya? Shania merasa penasaran dalam hati. Tak mengerti maksud Son.
Sebenarnya tadi Shania sudah bersiap-siap membalas pelukan Son jika Son memeluknya erat seperti di naskah drama. Tapi ditunggu-tunggunya Son tidak juga melakukan hal itu.
Son sendiri bingung kenapa dia sampai bisa menulis adegan itu di naskah drama di saat dia merasa tak harus melakukannya di depan teman-temannya atau di depan teman-teman sekelas mereka.
Shania menatap Son lekat seolah ingin meminta Son segera menjelaskan hal itu.
"Kenapa tidak mungkin, Wilson?" kali ini Shania yang bertanya pada Son.
Joseph, Winy, dan Cyntia tiba-tiba diam seolah tahu Shania pun keberatan Son menulis adegan pelukan di naskah drama tapi tidak mempraktikkannya. Mereka memperhatikan Son dan Shania silih berganti.
Son membalas tatapan Shania dengan hati berdebar. Aliran hangat terasa menjalar di tubuhnya. "Aku bukan siapa-siapamu. Aku tidak harus memelukmu, Shania," jawab Son.