Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Teman-teman Son Jalan-jalan di Taman



Bab 85


"Ya sudahlah, usah berdebat lagi," kata Winy. "Jadi kita sekarang mau ngapain?" tanyanya. "Kan latihan drama kita sudah selesai dan kita juga belum bisa pulang ke rumah karena mobil om-nya Shania belum datang."


"Ya, mau ngapain?" tanya Joseph juga.


"Mmm...," Shania tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. Matanya melirik Son yang masih berdiri tegak di tempatnya.


Shania belum ingin pulang ke rumah cepat-cepat karena dia masih ingin berada di dekat Son. Dalam hati Shania, dia malah berharap supir om-nya lebih lama lagi balik ke sini supaya dia punya banyak waktu berada di rumah Son atau di dekat Son.


"Bagaimana kalau kita minta Wilson membawa kita jalan-jalan ke taman rumahnya?" usul Shania.


Joseph, Winy, dan Cyntia melirik Son. Begitu juga Shania.


Son yang ditatap oleh keempat temannya hanya diam tak berkutik. Dia mengerutkan kening.


"Iya, Wilson?"" tanya Shania. Matanya menatap lekat wajah Son yang masih tampak tenang dan dingin.


"Betul juga ya, kita kan belum sempat melihat-lihat di taman tadi ada apa saja di sana karena buru-buru mau latihan drama," kata Joseph.


"Iya, aku setuju. Ayo bawa kami jalan-jalan ke taman, Wilson," pinta Cyntia.


"Sepertinya tadi aku melihat ada kolam ikan dan ayunan di sana," kata Winy. "Kita jalan-jalan ke sana dululah sambil menunggu supir om-nya Shania datang menjemput."


"Iya, aku juga pengen ke sana. Ayo, Wilson," ajak Joseph.


Son yang terus menerus diajak keempat temannya mau tak mau menuruti kehendak mereka. Walau tak menjawab, tapi Son mengangguk kecil lalu berjalan meninggalkan ruang tamu menuju taman.


Son membawa keempat temannya jalan-jalan di taman. Mereka tentu saja senang. Seketika suasana hati mereka berubah dari serius dan tegang saat latihan drama tadi menjadi santai dan riang setelah berada di taman.


Apalagi saat berada di ruang tamu tadi sempat terjadi suasana hati yang tak mengenakkan dikarenakan Son berbicara akrab dengan Aleena di ponsel yang membuat Shania merasa gerah.


Bahkan Cyntia dan Winy juga sempat berdebat dengan Joseph mengenai kebiasaan menonton televisi sekarang dan Cyntia yang juga melemparkan candaan pada Son.


    


Pokoknya kalau sekelompok teman berkumpul, pasti akan terjadi pembicaraan yang kadang sejalan atau seide tapi kadang juga berbeda jalan atau bertolak belakang.


"Wah, bagus sekali ikan-ikan di kolam ini," kata Shania saat langkah mereka sampai di tepi kolam ikan.


"Iya, bagus ya, Wilson," kata Cyntia. Sepertinya dia berusaha memancing Son bicara atau membuat cowok yang pendiam itu mengeluarkan suara juga seperti mereka. Bukankah akan lebih seru jika apa yang kita omongkan itu ditanggapi oleh orang lain? Itu tandanya ada apresiasi.  


Walau teliti mendengarkan tapi orang lain tak akan percaya atau tak akan puas kalau tak dibalas. Kecuali orang atau teman yang sudah mengerti kita sebagai seorang yang pendiam dan tak suka banyak bicara, maka teman itu akan maklum atau memaklumi sikap kita.


"Baguslah," timpuk Winy. Malah dia yang mewakili Son menjawab kata-kata Cyntia.


"Kita duduk-duduk di sini saja," kata Shania.


Shania melirik Son yang berdiri tak jauh darinya. Ketiga temannya yang lain sudah mengikuti Shania duduk di batu di tepi kolam ikan tapi Son masih berdiri. Dalam hati Shania berharap Son mau mengambil tempat di sampingnya yang masih kosong.


Tatapan mata Shania bertemu dengan tatapan mata Son. Cowok itu tak menyadari keinginan hati Shania yang berkehendak Son duduk di sampingnya. Dia hanya berdiri mengawasi keempat temannya yang sedang berceloteh satu sama lain tentang ikan-ikan di kolam. Bahkan Joseph bercerita tentang ikan-ikan besar di kolam ikan yang dia lihat di sebuah rumah makan besar di kota Medan. Di kolam ikan itu ada air mancur yang suaranya membuat adem para pengunjung.


* * *