Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Perdebatan Aleena dengan Shania



Bab 121


"Eh... kenapa dengan wajahmu?" tanya Aleena sambil memasang wajah kaget. Dia pura-pura terkejut melihat perubahan mimik wajah Shania dari lembut menjadi sangar.


Mendengar pertanyaan Aleena yang dirasa sengaja memancing amarahnya itu, Shania mau tak mau menoleh sedikit pada Aleena dengan mata mendelik.


Melihat Shania terpancing kata-katanya, Aleena pun semakin menjadi-jadi. "Waduh, Wilson... Wilson... coba kamu tenangkan dulu perasaan Shania-mu ini. Lihat, amarahnya sudah mau meledak!" seru Aleena dengan suara keras yang sengaja dibuat bergetar seolah-seolah ketakutan.


Aleena sengaja memanggil Son dengan panggilan "Wilson" seperti yang biasa Shania lakukan. Padahal biasanya Aleena memanggil Son dengan "Son" saja. Tapi karena tadi Shania ikut-ikutan Aleena memanggil Son dengan "Son" saja, maka Aleena pun membalas dengan ikut-ikutan memanggil Son dengan "Wilson" seperti yang biasanya dilakukan Shania.


"Kamu...!" Shania sungguh gerah melihat tingkah laku Aleena itu. Tak tahan lagi dia langsung membalas seruan Aleena, "Apa maumu?!" tanya Shania lalu dia pun bangkit dari duduknya dan berdiri tegak dengan wajah galak di hadapan Aleena.


"Hah? Maksudmu apa?" tanya Aleena pura-pura tak mengerti. Matanya memicing memandang wajah Shania yang sudah merah padam.


"Jangan berpura-pura bodoh!" kata Shania dengan wajah palak. "Maksudmu apa mencari gara-gara denganku?" tanya Shania.


"Maksudku? Maksudmu?" Aleena bertanya sambil memasang wajah memikir. "Maksudku, yah terus terang saja. Aku tak terima karena gara-gara kamu Son sampai berbuat tidak adil padaku. Coba ingat-ingat dulu apa yang telah Son buat padaku waktu di taman rumahnya tadi? Dia meninggalkan dan melupakanku begitu saja untuk ikut dengan kalian ke sini. Kalau aku tidak menerobos masuk ke dalam mobil, maka aku hanya akan menjadi seorang pecundang yang dipermainkan yang hanya bisa diam saja," kata Aleena dengan mimik sebal. "Lalu malam tadi juga di kafe Son bisa tiba-tiba marah dan emosi sama aku hanya gara-gara aku merogoh saku celana ponggolnya untuk mengambil hp-nya. Dan... dan... banyak lagi yang Son buat tidak adil padaku gara-gara kamu."


"Ya kupikir kamu selama ini sudah berhasil mempermainkan perasaan dan emosinya Son. Kamu sengaja ya kan? Kalau tidak, kenapa dia jadi begitu? Sedikit saja bisa emosi?"


"Woi! Aku baru berkenalan dengan Wilson kemarin. Baru 2 hari aku dan Wilson berteman!" kata Shania tidak puas dengan tuduhan Aleena.


"Yah, siapa yang tahu baru 2 hari kamu berteman dengan Son di sekolah, tapi di media sosial kalian sudah berteman 2 tahun?" Aleena tidak percaya. "Sifat dan tabiat seseorang kan terpengaruh dari siapa yang paling dekat dengannya atau siapa yang paling disukainya. Asal kamu tahu saja," kata Aleena.


"Bullshit!" seru Shania dengan suara keras dan emosi yang memuncak. "Jangan suka memfitnah atau menuduh orang kalau tidak ada bukti jelas! Ingat ya kata-kata mutiara ini, 'fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!'"


"Ohya?" Aleena balas menatap mata Shania yang tajam dengan mata membesar. "Itu kata-kata mutiara yang sudah basi. Aku pun sudah tahu dari dulu. Mau dengar kata-kata mutiara yang baru nggak? Ini kata-kata mutiaraku, 'Sengaja mempermainkan perasaan dan emosi seseorang atau sengaja menyakitinya itu lebih kejam daripada fitnah! Kamu tahu, berapa ribu orang yang bisa celaka gara-gara hobi kita mempermainkan perasaan dan emosi orang? Kalau memfitnah seseorang, hanya orang yang difitnah saja yang akan celaka. Tapi kalau kebiasaan mempermainkan perasaan dan emosi orang, orang itu akan terkontaminsi racun tersebut lalu menyebarkannya kepada orang lain dan orang lain tersebut akan menyebarkannya kepada orang banyak. Siapa tahu orang tersebut adalah seorang tokoh publik atau public figure yang dikagumi dan dihormati atau disegani selama ini. Tapi gara-gara dia ikut terkontaminasi dan menyebarkannya kepada orang banyak maka teman-temannya satu per satu akan membencinya dan menjauhinya. Jadi, berhentilah melakukan hal itu mulai sekarang, Shania!" kata Aleena dengan suara yang dibuat sabar.


Shania terpana. Dia segera teringat bagaimana perlakuannya pada Richard yang demikian buruk padahal Richard sudah begitu baik padanya.


Apakah dirinya bersalah atau berdosa kepada Richard? Entahlah... hanya dia sendiri yang tahu...


* * *