
Bab 125
Sementara itu Son yang sedang mengejar Shania berhasil menyusul langkahnya.
"Shan....Shan... tunggu dulu, Shan...," begitu seru Son memanggil nama Shania yang berjalan cepat di depannya.
Shania berjalan menyusuri mal tanpa tujuan. Dia hanya sembarang berjalan saja menaiki tangga eskalator dengan cepat untuk menghindar dari Son yang mengejarnya.
Sudah 3 tangga eskalator yang dinaiki Shania setelah dia berjalan cukup jauh menyusuri sisi-sisi mal yang luas dan lapang.
Mal Deli Park ini sangat bersih dan nyaman dengan mesin pendingin yang sangat dingin dan sejuk. Karena mal ini baru selesai dibangun dan beroperasi pada beberapa tahun lalu, maka mal ini masih termasuk mal baru yang seluruh bangunannya masih terawat, indah, bersih, dan sedap dipandang.
Shania barusan sampai di ujung eskalotor dan baru hendak berbelok ke kanan saat Son berhasil menyamai langkahnya yang demikian cepat dan tergesa-gesa.
"Shan... Shan...," panggil Son lagi.
Tapi Shania tak hendak menoleh untuk melihat Son ataupun menghentikan langkahnya untuk menghadap Son yang mengejarnya.
"Shan...!" Son terpaksa meraih pergelangan tangan Shania dan menahannya supaya Shania tidak bisa melangkah lagi.
"Ada apa?!" sentak Shania tiba-tiba sambil menoleh ke kiri pada Son yang sudah berhasil mengejar langkahnya dan berdiri di sampingnya.
"Shan... kenapa kamu? Kenapa kamu marah padaku dan pergi buru-buru? Kamu tidak menghentikan langkahmu saat aku memanggil-manggil namamu. Kamu bahkan terus berjalan meninggalkanku padahal kamu tahu aku sedang mengejarmu," kata Son.
"Tidak," jawab Shania singkat sambil memalingkan muka.
Iya, hati Shania benar-benar sedih dan kecewa. Dia sedih karena Aleena membuatnya tidak bisa dekat dan memiliki Son seutuhnya. Dia ragu apakah di dalam hati Son Aleena menempati tempat yang spesial? Ataukah di dalam hati Son hanya ada dirinya/Shania?
Shania mulai ragu pada Son saat dia melihat kedekatan Son dengan Aleena. Dimulai dari percakapan Son dengan Aleena lewat ponsel yang terkesan akrab saat Shania cs sedang kerja kelompok di ruang tamu rumah Son.
Lalu Aleena tiba-tiba muncul di depan mereka saat Shania cs sedang duduk di ayunan. Dan Shania melihat Son meraih tangan Aleena lalu menggandengnya atau menariknya pergi.
Mereka cukup lama berada atau berdua di bawah sebatang pohon yang ada di taman villa milik Tom Simon. Apa yang mereka lakukan saja di sana? pikir Shania. Apakah mungkin mereka saling berpelukan? Atau melakukan hal-hal lain yang Shania tidak tahu atau tidak berani memikirkannya?
Shania cemburu pada Aleena. Dia curiga pada Son. Dia kecewa pada Son yang dia pikir telah membohonginya. Shania cemas jika Son menipu perasaannya.
Lalu Aleena juga terus-menerus menguntit mereka. Seolah-olah hendak memisahkan jarak antara dia dan Son. Lihatlah, di mobil saja Aleena sengaja duduk merapat di pangkuan atau di paha Son hingga Shania merasa dadanya panas.
Aleena juga berbicara akrab dan berdiri begitu dekat dengan Son saat Shania sedang mengantre minuman di depan kafe yang menjual minuman Korea dan Jepang. Kemudian Aleena dengan berani merebut gelas minuman Son dan menyeruput pipet bekas Son sebelum Shania sempat melakukannya.
Padahal Shania duluan meminta pada Son tapi Son menolaknya karena merasa segan atau tak pantas jika Shania meminum dari bekas pipetnya. Tapi Aleena malah dengan seenaknya langsung menyerobot gelas minuman Son dan menunjukkan pada Shania kalau dia berani menyeruput minuman dari pipet bekas Son tanpa merasa geli atau segan.
Tindakan Aleena itu sangat mengesalkan hati Shania. Shanka marah pada Aleena dan pada Son karena Son membiarkan Aleena melakukan hal itu. Son bahkan tidak menegur Aleena sama sekali.
Lalu sekarang, untuk apa Son mengejarnya dan menahan langkahnya supaya tidak pergi? Shania tidak bisa terus berada dalam posisi yang seperti itu. Dia tidak bisa terus terjepit amarah di antara Son dan Aleena. Karena itulah Shania berpikir untuk tidak menghiraukan Son lagi atau menghindarinya supaya hatinya tidak sakit atau sedih. Cuma itu yang bisa meredakan amarah Shania atau memupus kekecewaannya pada Son.
Tapi Son merasa tidak bersalah. Dia sama sekali tidak menyakiti hati Shania. Dia bahkan selalu mengutamakan juga menjaga dan melindungi hati Shania. Di dalam hati Son benar-benar tulus pada Shania. Dan dia tidak mengerti kenapa Shania marah padanya?
* * *