Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Tom dan Son Sampai di Kafe



Bab 54


Tom dan Son sampai di kafe "Sunflower Shine" pukul 19.40 WIB.


Tom memberhentikan mobilnya di tempat parkir mobil yang ada di halaman kafe. Setelah menarik rem tangan, dia mengajak Son turun dari mobil.


Begitu pintu mobil dibuka dan Son keluar dari sana, angin malam yang dingin menerpa tubuhnya. Son menutup pintu mobil dan berjalan mengikuti langkah Tom menuju pintu masuk kafe.


Tom menguakkan pintu kafe dan masuk ke dalam diikuti Son. Dilihatnya keadaan kafe sudah jauh berbeda dibandingkan 20 tahun lalu. Sepertinya telah direnovasi dan diganti tatanannya. Bukan saja bagian-bagian atau ruang-ruang 


yang ada di kafe, tapi juga meja, kursi, hiasan di dinding, sampai ke para karyawannya.


Son merasa seolah bukan lagi masuk ke kafe "Sunflower Shine" yang waktu SMA dulu sering dikunjunginya bersama teman-teman sekolah. Kafe itu seolah telah disulap sedemikian rupa sampai tak mirip lagi dengan 20 tahun lalu. Bahkan pintu masuknya pun sudah diganti. Termasuk tatanan bunga-bungaan yang ada di taman atau halaman kafe.


Mungkin saja pemilik kafe sudah berganti orang sehingga dia merombak semuanya. Hanya nama dan tempat kafenya saja yang masih sama. Tapi apakah cita rasa semua masakan dan minumannya masih sama? Jangan-jangan, menunya pun sudah berbeda, pikir Tom.


Tom berjalan menuju sebuah meja yang agak jauh dari pintu masuk lalu duduk di sana. Son mengikutinya dan Tom menyuruh Son untuk duduk di sebelahnya.


Tampaknya Feby belum datang karena tidak ada tamu lain di kafe kecuali dia dan Son yang barusan datang. Ke mana para pengunjung lain? Apakah kafe ini sekarang sepi pelanggan? pikir Tom membandingkan keadaan kafe yang sekarang ini dengan yang dulu.


Tom melihat seorang pelayan wanita sedang berjalan mendekatinya. Sementara beberapa pelayan lain tampak sibuk mempersiapkan makanan dan minuman di meja panjang yang berada di samping kasir. Beberapa koki yang memasak makanan pastinya sedang berada di ruang dapur melakukan tugasnya.


Tom merasa heran, untuk siapa makanan dan minuman yang banyak itu kalau tidak nampak pengunjung lain selain dia dan Son?


Pelayan wanita yang sudah sampai di meja Tom bertanya, "Bapak ini tamunya Nona Feby?"


Tom terpana sesaat. "Iya," jawabnya agak heran. "Memangnya kenapa? Apa kafe ini  di-booking olehnya?" tanya Tom cepat saat dugaan itu melintas di benaknya.


Pelayan wanita itu tersenyum dan mengiyakan dengan sopan. "Betul, Pak


Kafe ini di-booking Nona Feby malam ini untuk merayakan ulang tahun temannya."


"Oh... iyakah?" Tom agak surprais. Siapa teman Feby yang berulang tahun hari ini? Apakah itu temannya juga? ApakahTom mengenalnya? Kalau tidak, untuk apa dia diundang ke sini?


Entah siapa pula yang berulang tahun hari ini? pikir Tom. Kalau tahu Feby menggunakan trik supaya dia mau menghadiri pesta ulang tahun temannya, Tom tak bakalan mau datang. Soalnya dia sudah lama tak pernah lagi ketemuan atau makan minum di kafe bareng teman lama atau teman SMA. Kabar mereka satu per satu bagaimana pun Tom tidak tahu.


Yang berkepentingan dengan Tom saat ini bukan lagi teman sekolah atau teman lama, tapi adalah para klien yang mendatangkan keuntungan bagi perusahaannya. Para rekan bisnis yang bisa saling bekerja sama dan berbagi hasil.


Tom seolah sudah melupakan teman-teman lama dan teman-teman sekolahnya karena dia sudah jarang lagi hang-out atau kumpul-kumpul bareng mereka setelah dia menikah dengan Kathy. Bahkan setelah Kathy tiada, Tom pun masih sibuk mengurus perusahaan yang ditinggalkan papanya sampai tak punya banyak waktu untuk bertemu atau bersua kembali dengan teman-teman lamanya.


Yang dipikirkan Tom atau yang menjadi prioritas Tom sudah tentu para rekan bisnis dan klien perusahaannya yang berinteraksi dengannya hampir tiap hari. Yang sering berkomunikasi dengannya dan yang saling berkepentingan. Sedangkan teman sekolah dan teman lama sudah  tidak saling berkomunikasi lagi karena sudah tidak saling berkepentingan. Mereka hanya menjadi sebuah kenangan.


"Ohya? Masih lama lagi ya Feby-nya datang?" tanya Tom masqul. Dia merasa kesal bila harus menunggu lama untuk sesuatu hal yang tidak penting baginya.


Barusan Tom bertanya begitu, pintu kafe tiba-tiba dibuka dari luar. Seorang wanita cantik yang kelihatan berusia 30-an muncul di ambang pintu. Sebenarnya dia sudah berusia 40-an atau sebaya dengan Tom.


Dia adalah Feby, taman SMA Tom yang barusan pulang dari luar negeri dan mengajak Tom ketemuan di kafe ini. Pakaiannya modis, rambutnya panjang dan ikal, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, bibirnya sensual, dan pipinya merona jingga karena polesan make-up yang tamapak sempurna.


Dari kejauhan, Feby sudah melihat Tom yang duduk di meja yang agak jauh dari pintu masuk. Matanya hanya tertuju pada Tom seorang yang sewaktu SMA ditaksirnya dan didekatinya tapi tak mau. Selama 20 tahun ini dia tak bisa melupakan Tom walaupun berada di luar negeri.


Hari ini, dia senang sekali bisa bertemu kembali dengan laki-laki yang disukainya sewaktu SMA itu. Hingga kini Feby masih sering mengingatnya.


Dan malam ini saat Feby masuk ke kafe dan melihat sosok Tom dari kejauhan, dia merasa perasaannya masih belum sirna. Bahkan hadir kembali tiba-tiba saat dia melihat Tom yang masih kelihatan muda dan tampan di usianya yang sudah 40 tahun.


Feby tahu jelas kalau rasa yang kembali muncul tiba-tiba saat melihat Tom malam ini adalah rasa suka yang terus dipendamnya selama 20 tahun lebih.


Feby seolah lupa kalau dia masuk ke kafe bersama seorang gadis belia yang sebaya Son. Gadis itu mengikut di belakangnya dan berhenti melangkah juga saat Feby menghentikan langkahnya di depan meja Tom.


Mata Feby hanya tertuju pada Tom. Sama sekali tak menyadari adanya seorang cowok yang masih remaja memperhatikan dirinya yang hadir di depan Tom.


Son mengernyitkan alis. Dia merasa wanita cantik dan modis yang kini berdiri di depan dia dan papanya melekatkan pandangan yang sangat spesial pada papanya. Tatapan matanya dipenuhi rasa rindu dan cinta. Bahkan wajahnya terlihat begitu bahagia dan berseri-seri.


* * *