Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Teman-teman Son Ingin Pulang ke Rumah Masing-masing



Bab 131


"Di mana Aleena?" tanya Son seketika.


"Tapi dia mengejar kalian berdua tadi!" seru Cyntia. "AkuĀ  dan Winy menahan langkahnya dengan memegang kedua tangannya tapi dia malah mencakar, mencubit, dan memukul tanganku. Lihatlah, tanganku sampai merah dan luka gara-gara dia!" keluh Cyntia.


"Iya tuh, wajahku juga hampir ditonjoknya!" seru Winy. "Gitu-gitu badannya imut tapi tenaganya besar."


"Kasar sekali temanmu itu, Wilson. Kupikir cewek biasanya lembut," kata Joseph. "Tak kusangka yang tampak lembut dari luar ternyata bisa kasar begitu."


Son diam. Dia tak menemukan kata-kata yang tepat untuk membela Aleena. Lagipula, dalam kondisi Winy dan Cyntia serta Joseph dan Shania yang sedang marah, Son tidak harus membela Aleena. Bisa-bisa keempat temannya itu jadi marah.


"Di rumahku ada obat untuk luka memar dan luka gores," kata Son. "Nanti kita balik ke rumahku dan aku kasih obat itu untuk Cyntia."


"Wah, nggak usah. Di rumahku juga ada. Banyak lagi. Nggak perlu obat dari orang lain," tolak Cyntia solah-olah menyindir dan menyalahkan Son karena telah membiarkan temannya yang bernama Aleena itu ikut dengan mereka ke mal ini hingga sampai terjadi pertengkaran di antara dirinya dengan Aleena.


"Jadi sekarang gimana?" tanya Joseph. "Kita balik ke rumah masing-masing atau ke rumah Wilson atau ke rumah Shania?"


"Aku mau balik ke rumahku saja cepat," jawab Cyntia. "Nggak mau singgah-singgah lagi ke rumah Wilson atau ke rumah Shania. Mood-ku jadi berantakan dan hatiku jadi nggak enak. Mau cepat pulang obati luka di tanganku ini," Cyntia melirik pergelangan tangannya dan mengibas-ngibaskannya.


"Iya, aku juga mau cepat pulang ke rumahku," kata Winy. "Mau kerjakan PR yang lain lagi. Supir om-nya Shania bisa kan mengantarku pulang ke rumahku saja?" tanya Winy sambil menatap Shania.


"Haduh, aku sudah malas balik ke tempatmulah, Shan. Mau balik ke rumahku sendiri saja," kata Winy.


"Iya, aku juga," kata Joseph. "Ini sudah sore. Kan bisa sekali ini saja minta supir om-mu mengantar kita sampai ke rumah masing-masing, Shan. Gara-gara kita keluyuran ke mal sampai telat pulang ke rumah."


"Iya, betul kata Joseph," Winy setuju. "Nanti mamaku nungguin aku lama belum pulang. Biasanya nggak pernah gitu lama kita kumpul untuk kerja kelompok."


"Iya, ayolah kalau begitu. Kita pulang sekarang!" ajak Cyntia.


Joseph dan Winy pun tampak bersiap-siap. Mereka seolah enggan menatap Son dan Shania yang sedari tadi berdiri mendengarkan keluhan mereka tentang tingkah laku Aleena dan tentang keterlambatan mereka pulang ke rumah masing-masing gara-gara jalan-jalan ke mal.


"Ayolah, Shan," Winy terpaksa melirik Shania. "Mana supir om-mu? Kali ini minta dia mengantar kita pulang ke rumah masing-masing. Kali ini saja, Shan. Plsss...!" Winy menatap Shania penuh harap.


"Dia sedang menunggu di pelataran parkir," jawab Shania. "Ya ayolah kalau begitu," Shania pun melirik Son untuk mengajaknya pulang. "Ayo, Wilson," kata Shania.


Son terpaku. Dia ragu untuk melangkah. Hatinya bimbang karena Aleena tidak ada di antara mereka. Aleena belum balik lagi dari mengejarnya tadi. Jadi apakah mungkin mereka pulang tanpa Aleena? Padahal tadi datangnya sama-sama. Son merasa itu tidak betul. Datang sama-sama maka pulangnya juga harus ama-sama. Nggak boleh ada yang tertinggal atau tercecer.


* * *