Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Dalam Perjalanan Pulang ke Rumah Masing-masing



Bab 142


"Hah? Masih mau main-main ke rumah Wilson?" tanya Winy. "Sudah sore lho, Non. Entar kamu kemalaman pulangnya."


"Nggak apa-apa. Di rumah juga aku nggak ngapa-ngapain," jawab Aleena. "Tanteku ke rumah temannya sampai malam. Pulang dari rumah temannya dia baru menjemputku. Jadi ya sementara menunggu tanteku datang aku main-main dulu di rumah Son."


"Hhh...!" Winy menghela nafas kesal. "Ya terserah kamulah! Ribet ngurusin kamu!" ketusnya.


"Iya, ngapain pula kamu ngusurin dia?" tanya Cyntia pada Winy.


"Aku kasihan lihat anak ini," kata Winy. "Kayak nggak terurus gitu."


"Hah?! Siapa bilang aku nggak terurus? Kamu jangan sembarang ngomong ya!" marah Aleena. Dia segera melongokkan kepalanya pada Winy yang diapit oleh Shania dan Cyntia.


""Lha? Kan emang benar. Kamu itu nggak terurus. Makanya liar begitu. Sembarangan saja dan semau gue saja," balas Winy.


"Iya tuh," kata Cyntia. "Mana ada cewek yang gitu kasar bisa mencakar dan memukul tangan orang."


"Salahmu sendiri!" ketus Aleena.


"Sudahlah, jangan memulai pertengkaran lagi," kata Joseph sambil menoleh ke belakang, ke jok belakang mobil yang diduduki Aleena, Son, Shania, Winy, dan Cyntia.


"Iya, betul," kali ini Shania buka suara. "Capek aku melihat kalian berdua bertengkar terus dengan orang ini."


"Hah? Orang ini? Orang ini apa maksudmu?!" bentak Aleena pada Shania. "Apa aku tidak punya nama?" Aleena menggemeratukkan bibirnya menahan geram sambil menatap Shania. Pijar bola matanya tampak menyala dan berapi-api.


"Sudahlah, namamu Aleena," kata Son sambil menyentuh bahu Aleena dan mendorongnya supaya jangan semakin mendempet atau mengarah kepadanya karena Aleena terus menoleh dan berkata-kata pada Shania, Winy, dan Cyntia yang duduk di samping kanan Son secara berturutan.


"Jangan bertengkar lagilah," kata Joseph. Setelah berkata begitu, Joseph segera menoleh ke depan dan melihat kembali jalanan yang ditempuh oleh supir yang duduk di sampingnya.


"Iya, capek aku melihat kalian bertengkar terus," sindir Shania.


Winy dan Cyntia diam. Mereka berusaha mengerem mulut masing-masing supaya jangan lagi mengeluarkan kata-kata yang mungkin bisa memanaskan situasi.


"Hei? Kok pada diam semua?" tanya Aleena dengan mimik heran. Dia menatap Winy dan Cyntia yang duduk dekat pintu kanan mobil. Juga Shania yang duduk di samping kanan Son.


Winy dan Cyntia segera membuang muka. Enggan melihat Aleena yang sedang menatap mereka berdua seolah-olah menantang untuk ribut lagi. Sepertinya Aleena tidak suka suasana hening tanpa suara. Dia lebih suka suasana ramai yang bisa membuat semangat dan seru.


"Suka kamulah mau main-main ke rumah Wilson atau tidak. Siapa yang peduli?" tanya Shania. Dia melampiaskan kekesalan hatinya. Melirik sekilas pada Aleena dengan mata mendelik.


Aleena membuang nafas kesal. "Ya makanya tadi kalian berdua jangan ikut campur. Apalagi kasih komen," kata Aleena dengan mimik wajah lega.


Joaeph yang melirik lewat kaca spion tengah cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala.


Sementara supir om-nya Shania terus membawa mobil menyusuri jalan raya di kota Medan pada sore itu sebelum membawa pulang Joseph, Winy, Cyntia, dan Son sampai di rumah masing-masing.


Supir om-nya Shania sudah menurunkan Joseph, Winy, dan Cyntia di depan rumah mereka. Sekarang di dalam mobil tinggal Son, Aleena, dan Shania. Rencananya supir akan mengantar Son dan Aleena sampai ke rumah Son, setelah itu baru kembali ke rumah om-nya Shania dan memarkirkan mobil di sana.


* * *