
Bab 151
"Tumben kamu main-main ke sini," kata Tom Simon sambil melihat Aleena. Bibirnya masih menyungging seulas senyum ramah dan lembut yang membuat hati Son terasa sakit tapi juga senang.
Hati Son terasa sakit karena papanya sangat jarang melemparkan senyum yang begitu ramah dan lembut padanya. Bahkan boleh dibilang Tom jarang sekali tersenyum padanya. Kalaupun ada, itu adalah senyum kaku yang terasa dipaksakan yang berkesan tegas dan keras. Tidak lembut dan ramah seperti senyumnya pada Aleena.
Son tidak tahu apa salahnya sehingga papanya seperti membencinya. Padahal dia adalah anak kandungnya bahkan anak satu-satunya. Seperti ada yang mengganjal dalam hati Son akan sikap papanya terhadapnya. Mungkinkah karena papanya menyalahkannya disebabkan kepergian mamanya 7 tahun lalu yaitu saat dia berusia 8 tahun?
Dan sekarang Son berusia 15 tahun. Usia remaja yang seyogianya mendapat perhatian lebih dan kasih sayang maksimal dari kedua orangtua supaya dia bisa bertumbuh dewasa dengan bekal kedua hal itu yang akan membawanya menjadi manusia yang perasaannya utuh. Yang utama adalah perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Setelah itu baru dari saudara-saudari, kerabat, teman, dan masyarakat atau orang lain yang tak dikenal.
Kehilangan perhatian dan kasih sayang seorang ibu di usia 8 tahun membuat hati Son terasa gersang dan haus akan kasih sayang seorang ibu. Setidaknya, Son merindukan kelembutan seorang wanita yang selalu siap membelainya atau memeluknya. Apalagi papanya Son yaitu Tom Simon hampir tidak pernah memeluknya.
Satu-satunya pengobat luka hati Son adalah Elen, kepala atau pengurus rumah tangga yang memberinya perhatian dan kasih sayang penuh setelah kepergian mamanya. Bahkan Elen sudah seperti mama kandung bagi Son karena perhatiannya yang begitu besar dan tulus.
Karena Elen memiliki sifat dan sikap yang tegas pada semua anak buahnya yang bekerja di rumah Tom, maka Son yang melihatnya pun seperti meniru sifat dan sikap Elen itu. Apalagi papanya Son juga selalu bersikap dingin pada Son, maka Son pun jadi bersikap dingin pada orang lain.
Kalau pada Aleena, Son bisa bersikap semaunya dan kasar tanpa takut Aleena tersinggung. Buktinya, dia bisa dengan spontan menepiskan tangan Aleena dengan kasar dan langsung memarahinya atau membentaknya saat Aleena memegang pergelangan tangannya dan merogoh saku celana ponggolnya waktu di kafe malam tadi.
"Iya, Om. Aku rindu Son, anaknya Om yang ganteng ini, makanya aku datang ke sini mencarinya. Ohya, anak Om ini sangat dingin dan ketus. Kenapa begitu, Om?" tanya Aleena pada Tom setelah dia mengungkapkan isi hatinya atau pendapatnya tentang Son.
"Hah? Masa begitu?" Tom memandang Aleena dengan rasa takjub karena dia merasa Aleena ini sangat imut, lincah, lucu, spontan, dan berani. Buktinya, terhadap orang tua seperti Tom yang biasanya banyak orang menyeganinya atau tidak berani sembarang bicara atau bertanya padanya, Aleena berani. Sedangkan bawahannya atau anak buahnya Tom pun selalu mengangguk, menunduk, atau memberi salam yang sopan padanya saat bertemu Tom. Ini anak kemarin sore yang masih anak bawang berani menatapnya langsung dengan tegak dan berkata-kata dengan lepas dan terus terang bahkan terkesan ceplas ceplos.
"Hahaha, masa begitu, Aleena?" tanya Tom sambil tertawa lepas. Dia tak mampu menahan rasa senang dan geli di hatinya melihat tampang gadis belia yang mimiknya dirasa Tom begitu imut, lucu, dan menggemaskan.
"Iya dong, Om. Anaknya Om Tom ini sangat dingin dan cool, nggak sama seperti Om yang hangat dan friendly. Tapi sama-sama ganteng kok, Om. Cuma Om masih kalah ganteng sama anak Om ini," ceplos Aleena sambil melempar seulas senyum yang lebih mirip menyengir pada Tom. Tak lupa juga setelah berkata begitu, Aleena melirik pada Son untuk melihat reaksinya.
* * *