
Bab 67
Memang tidak!" jawab Luna cepat. "Tapi sikap kalian itu! Tidak ramah, dingin, cuek, bisa membuat orang marah tahu! Tidak bisakah kalian bersikap lebih ramah dengan membalas sapaan orang?" sentak Luna saking geramnya.
"Suka-suka kamilah mau membalas sapaan orang atau tidak! Mau bicara atau tidak! Kok kalian yang ngatur?!" Shania pun mulai tersulut amarah yang semakin membesar. "Kenapa kamu tumpahkan minuman Wilson ke lengan bajunya?" tanya Shania.
"Emang kenapa? Dia saja nggak masalah?" Luna melirik Son yang sedang duduk sambil melihat ke depan. Son sudah menghentikan makannya karena diganggu Luna. "Lihat, dia diam saja. Kenapa pula kamu yang marah, Shania?" balik tanya Luna.
Shania menarik napas panjang untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak. Dia menunduk sedikit melihat ke depan pada Son yang duduk kaku di bangkunya.
"Kenapa kamu ganggu Wilson, Luna? Dia tidak ada salah apa-apa sama kamu," Shania berusaha menurunkan nada suaranya untuk menata gejolak amarah di dadanya.
Dia bicara sambil berdiri di bangkunya. Sementara Son duduk di depannya dan Luna berdiri di samping Son yang duduk.
"Ya sorilah kalau begitu," kata Luna berpura-pura menyesal. "Aku cuma mau lihat temanmu ini benaran nggak dengar orang bertanya atau pura-pura tak dengar? Ternyata dia masih tetap diam walau disiram. Luar biasa...!" Luna menepuk-nepuk kedua tangannya seolah-olah merasa salut. "Masih diam saja walau sudah disiram. Bukan karena tak dengar, tapi memang..."
Sebelum Luna menyelesaikan ucapannya, Son tiba-tiba bangkit dari duduknya dan menggerakkan badannya ke samping menghadap Luna. Matanya yang dingin menatap Luna dengan tajam seakan-akan hendak melukai tanpa menyentuh atau berucap.
Luna terpana. Sekonyong-konyong dia mundur 2 langkah hingga keluar dari belakang meja. Tatapan Son itu sangat menakutkan. Jelas tergambar ada' rasa marah dan geram di wajahnya. Namun Son masih berusaha bersabar dengan mengepalkan tangan kanannya. Rasanya, dia ingin atau bersiap-siap meninju sesuatu atau seseorang.
"Mau... mau... apa kamu?" tanya Luna dengan hati berdebar keras. Jantungnya seolah copot. Son berdiri menghadapnya seperti hendak melampiaskan amarahnya yang tengah membuncah.
Bagaimana kalau Son benar-benar meninju wajahnya? Bisa-bisa wajahnya yang mulus akan memar dan bengkak. Waduh...! Gawat...! Luna merasa gemetar juga ditatap Son seperti itu.
Untunglah Mark yang melihat ada yang tidak beres dengan sikap Son dan Luna bergegas berjalan mendekati meja Son dan berhenti di samping Luna.
"Mau apa kamu?" tanya Mark sambil menatap Son.
Son tak menjawab. Matanya yang sedang menghunjam wajah Luna beralih menghunjam wajah Mark.
Tentu saja Mark merasa gerah. Dia yang tidak berbuat apa-apa tiba-tiba ditatap Son seperti itu.
"Woiii...! Jangan kamu tatap aku dengan mata seperti itu!" ujar Mark.
Son masih tak berpaling. Dia menatap Mark seolah Mark tadi yang menyiramnya dengan air jus yang ada di kantongan plastik hingga membuat lengan baju seragamnya basah.
Tiba-tiba Desy muncul dari samping sambil memegang sehelai tisu di tangannya.
Namun sebelum tangan Desy singgah di lengan bajunya, Son sudah menepiskannya dengan kasar.
"Aduh...!" Desy pun menjerit. "Aduh...!" Desy menggerak-gerakkan tangannya dan mengembusnya berulang-ulang seolah-olah tepisan Son tadi sangat menyakiti tangannya.
"Woiii...! Kenapa kamu tepis tangan Desy? Sakit tahu!" Mark pun gusar dan mendorong tubuh Son hingga Son yang tak siap siaga nyaris oyong.
Mark merasa ada kesempatan untuk meluapkan segala amarahnya pada Shania dengan terus mendorong tubuh Son. Dia sengaja melakukannya di depan Shania.
Son yang didorong terus-menerus pun akhirnya hilang kesabaran dan langsung menaikkan tangannya melayangkan satu tonjokan ke wajah Mark.
"Aduh!" Mark menjerit kesakitan. Pelipisnya perih. Tonjokan Son ternyata sangat kuat.
Mark pun tersulut amarah yang semakin membuncah dan langsung membalas tonjokan Son itu namun Son berhasil menepisnya.
Mark berusaha maju dan menonjok lagi namun berkali-kali Son berhasil menghalau serangan dari Mark
Murid-murid yang ada di sekitaran kantin menjadi riuh dan beramai-ramai mendekati Son dan Mark.
Beberapa segera melerai Son dan Mark. Ada yang menarik tubuh Mark dan ada yang menahan tubuh Son sehingga keduanya menjauh. Sekarang mereka lebih berjarak daripada tadi.
Mark tampak masih kurang puas karena tonjokan Son tadi yang belum berhasil dibalasnya. Bagian pelipisnya memar dan terasa perih. Besok-besok bakal bengkak lagi.
"Sudah, Mark! Sudah!" terdengar suara beberapa teman sekelas mereka yang kebetulan ada di sekitaran kantin dan melihat kejadian berusaha menahan Mark yang masih hendak maju karena merasa tidak puas.
"Ingat kamu ya!" Mark mengancam Son sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.
Sudahlah, Mark," kata Katrin yang sudah berjalan ke arah mereka dan berdiri di samping Mark.
Sedangkan Richard masih duduk di bangkunya ditemani Fredy.
Richard menyaksikan apa yang dilakukan oleh teman-temannya itu pada Shania dan Son dengan rasa kecewa yang amat sangat. Sekarang semakin pasti, tak bakal ada harapan lagi untuk mendapat simpati dari Shania. Gadis itu pasti akan semakin membencinya gara-gara ulah teman-temannya itu.
* * *