Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Jam Pulang Sekolah



Bab 45


Lonceng pulang berbunyi. Murid-murid bergegas menyimpan peralatan tulis dan buku-buku ke dalam tas. Setelah itu satu per satu keluar dari belakang meja dan berjalan menuju pintu keluar. Ada juga yang masih di dalam kelas. Terdengar  mereka bercakap-cakap. Begitu juga 6 sekawan.


"Kamu mau langsung pulang, Chard?" tanya Luna.


"Emang kenapa?" Richard balik bertanya.


"Aku mau numpang mobilmu. Kamu bawa mobil sendiri kan?" tanya Luna.


"Iya," jawab Richard.


"Aku juga numpang mobilmu ya, Chard," kata Desy.


"Aku juga," timpal Katrin.


"Waduh, ramai sekali. Sesaklah dalam mobil," protes Richard.


"Kami kan cuma sesekali, Chard. Sedangkan Fredy dan Mark hampir tiap hari," protes Luna.


"Iya, tapi rumahnya Fredy dan Mark kan searah dengan rumahku dan duluan sampai. Tinggal menurunkan mereka saja. Sedangkan rumah kalian entah di mana-mana. Aku harus putar arah lagi," alasan Richard.


"Masa gitu? Kita kan teman baik, Chard," protes Desy. "Antarkan sampai ke rumah kenapa sih? Supirnya Katrin nggak datang hari ini jadi tadi kami datang naik taxol lho."


Richard garuk-garuk kepala. Sehari-harinya memang Fredy dan Mark menumpang mobilnya pergi dan pulang sekolah. Usia Richard sudah 17 tahun karena dia tinggal kelas 2 kali. Satu kali waktu SD dan 1 kali lagi waktu SMP.


Sedangkan Desy, Luna, dan Katrin sehari-harinya pergi dan pulang sekolah diantar jemput supir Katrin. Rumahnya Desy dan Luna kebetulan nggak begitu jauh dari rumah Katrin jadi mereka tiap pagi berjalan kaki ke rumah Katrin untuk berkumpul di sana dan sama-sama berangkat ke sekolah. Pulang sekolah supirnya Katrin mengantar mereka sampai ke rumah masing-masing.


"Ayolah, Chard, antar kami sekalian," pinta Desy.


Richard pun menarik napas panjang sebelum mengembuskannya. "Iya, okelah," kata Richard.


"Horeee...!" Desy, Luna, dan Katrin pun bersorak kegirangan.


Richard cuma tersenyum tawar sambil matanya melirik ke arah Shania yang sedang menarik ritlesting tas sekolahnya setelah menyusun buku-buku dan peralatan tulisnya ke dalam tas. Peralatan tulis dia simpan ke dalam kotak pensil sebelum dia masukkan ke dalam tas.


"Ayolah, Chard, kamu tunggu apalagi? Kita pulang sekarang," kata Katrin.


Fredy dan Mark melihat arah tatapan mata Richard kepada Shania. Selama 2 tahun ini Richard terus penasaran sama Shania dan berusaha mendekatinya tapi Shania malah semakin menjauh dan semakin mencuekinya. Sikap Shania sangat dingin dan tutur katanya juga terkesan ketus pada Richard seorang walaupun suaranya terdengar lembut.


"Tunggu sebentar," kata Richard. Dia berjalan ke arah Shania.


"Shan," panggilnya pada gadis belia cantik yang bersiap-siap untuk melangkah keluar kelas. Sementara Son yang duduk di belakang Shania juga sudah selesai menyusun peralatan tulis dan buku-bukunya ke dalam tas. Dia hendak bersama-sama dengan Shania keluar dari kelas.


Shania menoleh sekilas melihat Richard yang berjalan mendekatinya.


"Shan, kamu masih pulang dijemput supirmu? Mau ikut mobil aku nggak? Biar kita pulang sama-sama. Kebetulan Desy, Luna, dan Katrin juga ikut mobilku hari ini," tawar Richard.


Shania mengerutkan kening. Apa nggak salah Richard menyuruhnya pulang sama-sama menumpang mobilnya bareng Desy, Luna, dan Katrin yang tidak menyukainya? Walaupun supirnya nggak datang jemput, Shania pun tidak bakalan mau.


Oh, rupanya Shania pulang dijemput supir om-nya, pikir Son.


Yah... Richard pun menarik napas berat sebagai tanda kecewa. Mimik wajahnya terlihat sedih karena Shania selalu menolak dan menjauhinya. Gadis yang disukainya itu terkesan sangat membencinya. Richard bisa merasakan itu.


Walaupun kelima teman Richard merasa kasihan pada Richard dan sebal pada Shania, namun mereka tak berani ikut campur urusan Richard dengan Shania karena temperamen Richard yang tak mengizinkan siapapun memusuhi Shania atau bersikap buruk padanya.


"Minggir sedikit, Chard," kata Shania pada Richard yang menghalangi jalannya.


Richard pun terpaksa menggeser kakinya ke samping supaya Shania bisa lewat.


Son mengikuti langkah kaki Shania yang berjalan meninggalkan ruang kelas.


Richard hanya bisa melihat kepergian Shania bersama Son yang keluar dari pintu kelas. Setelah itu dia berbalik kembali ke mejanya yang ada di barisan belakang.


Kelima temannya yang  memperhatikan Richard bercakap-cakap dengan Shania tadi hanya bisa saling melempar pandang sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Kita pulang sekarang, Chad?" tanya Mark.


"Nggak apa-apa, lain kali masih bisa dicoba," hibur Fredy.


"Mimpi kali!" timpuk Luna. "Sudah jelas dia tak menyukaimu. Kenapa masih dikejar-kejar terus? Sudah 2 tahun lho, Chard," ingat Luna.


"Iyalah, kalau dia suka sudah pasti sejak awal sudah diterima dan tak menjauh saat didekati. Kayak sama murid baru itu. Sikapnya betul-betul lain. Malah aku berpikir Shania yang mendekatinya," kata Katrin.


"Betul, aku setuju," kata Desy.


"Itu tipe kesukaannya Shania. Sekarang aku baru tahu tipe cowok yang disukai Shania setelah melihat murid baru itu," kata Luna. "Namanya Wilson, iya kan?"


Desy dan Katrin mengangguk. "Iya, Wilson," jawab mereka serempak.


"Apa sih kelebihannya Wilson itu? Kok Shania suka padanya?" tanya Mark penasaran.


"Ganteng. Sedap dipandang," jawab Luna. "Wajah dan gayanya enak dilihat. Iya kan, Des?" tanya Luna sambil menatap Desy.


"Betul. Kelihatan cool, dingin, dan jantan," jawab Desy lalu mengangguk dan melihat Richard.


"Tak banyak bicara. Tapi kalau bicara lembut walau suaranya terdengar lantang. Aku suka suara laki-laki seperti itu," puji Katrin.


"Kelihatan perhatian lagi sama Shania. Seperti sayang dan sopan sama cewek," kata Luna.


Richard merasa kepalanya pusing mendengar pujian yang bertubi-tubi dari Desy, Luna, dan Katrin kepada murid baru yang bernama Wilson itu.


Ini yang namanya teman baik zaman sekarang. Yaitu teman yang suka memanas-manasi hati teman sendiri.


* * *