
Bab 161
"Iya, Wilson. Sama-sama," jawab Shania. Dia melirik Aleena yang duduk di sofa yang sedang memperhatikannya.
"Aleena belum pulang?" Shania tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya melihat Aleena masih di rumah Son.
"Belum," jawab Aleena. "Emangnya kenapa?" tanya Aleena balik. "Tak bolehkah aku nongkrong di rumah Son sampai malam?" Aleena menatap Shania balik dengan tatapan tak bersalah.
"Ngapain lama-lama di sini?" Shania bertanya dengan suara sinis dan pura-pura tak peduli. Dia segera melengos untuk menghindari tatapan Aleena.
"Aleena hendak menunggu tantenya datang malam ini," kata Son.
"Ohya?" reaksi Shania.
"Iya, betul, Shan. Tantenya Aleena akan datang ke rumah ini sebentar lagi. Dia kan teman SMA-nya papaku. Dia datang untuk menjumpai papaku," kata Son lagi.
"Oh... ya... ya...," Shania cuma manggut-manggut mendengar jawaban Son. "Lalu ngapain saja kalian sambil menunggu teman papamu datang?" tanya Shania.
"Kami sedari tadi duduk di sini berbincang-bincang sambil mencari bukuku yang kukira hilang. Rupanya ada padamu," jawab Son.
"Kami tadi juga duduk-duduk di ayunan berdua," kata Aleena. "Sampai papanya Son pulang dari kantor kami baru masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu ini," sambung Aleena.
"Papamu sudah pulang dari kantor, Wilson?" tanya Shania sambil berpaling menatap Son yang berdiri di hadapannya di dekat sofa.
"Iya, Shan, papaku sudah pulang dari kantor dan sekarang sedang ada di kamarnya untuk mandi dan bersalin pakaian," jawab Son.
"Oh, aku belum pernah melihat papamu," kata Shania.
"Iya, tentu saja boleh, Shan," jawab Son cepat.
Hatinya senang karena Shania bilang akan tinggal lebih lama di rumahnya untuk menunggu papanya selesai mandi. Berarti srmentara itu Son bisa melihat Shania. Sudah tentu itu membuat Son senang.
"Waduh, kamu mau tinggal sebentar lagi untuk melihat papanya Son?" tanya Aleena seolah tak percaya.
"Iya, nggak boleh ya?" balas Shania seperti meniru ucapan Aleena tadi.
"Hah?" setelah berpikir sejenak, Aleena pun menggeleng. "Ya, terserah kamu. Bukan urusanku dan aku pun tidak berhak melarangmu," balas Aleena seolah-olah tak peduli atau tak ambil pusing.
"Ya, kalau begitu kenapa kamu nanya?" sekak Shania.
"Ya, kamu pun nanya-nanya aku tadi," balas Aleena tak mau kalah.
Son yang meihat perbincangan sengit antara Shania dengan Aleena cuma bisa diam. Mereka seperti sedang saling melesatkan peluru kecil kepada musuh. Tapi keduanya berpura-pura tak sengaja, tak bersalah, dan tak peduli. Padahal sebenarnya keduanya sedang saling mencemburui.
"Ya, Shan. Kamu duduk dulu di sofa ini sambil menunggu papaku turun dari lantai atas," kata Son sambil menunjuk sofa yang ada di dekatnya.
Aleena mengawasi Shania dengan mata memicing. Dia mendengarkan kata-kata Son pada Shania. Walaupun Aleena tak berkata apa-apa, tapi hatinya tahu Son bersikap baik pada Shania karena Son menyukainya.
"Iya, aku duduk di sini saja," jawab Shania sambil masuk ke celah di antara sofa dan meja lalu duduk di sofa.
Son pun mendudukkan dirinya kembali ke sofa di samping Shania. Jadi Son dan Shania duduk berdampungan berhadapan dengan Aleena.
* * *