
Bab 74
"Hah?! Kok ceritanya begini?" kaget Cyntia saat dia membaca naskah drama "Kasih Tak Sampai" yang ditulis Son.
"Iya, kok begini ya?" Winy pun tampak bingung.
"Emang kenapa? Apa ada yang salah?" Joseph tak mengerti.
"Iyalah, masa aku jadi Pak Cyntia yang galak. Sudah namaku Cyntia jadi bapak pula sudah itu main paksa suruh anaknya menikah dengan pria yang tidak dicintainya," protes Cyntia.
"Namanya juga cerita. Nggak apa-apa lho, Cyntia," kata Joseph.
"Untung aku kebagian peran jadi Bu Winy yang baik," Winy menarik napas lega.
"Kasihan Joseph kebagian peran jadi cowok yang merebut kekasih orang wkwkwk...," tawa Cyntia.
"Hahaha... ceritanya lucu sekali!" seru Joseph.
"Kok lucu? Sedihlah!" protes Winy. "Cintanya Shania pada Wilson nggak kesampaian karena papanya ingin dia menikah dengan Joseph."
"Gara-gara kamu juga, Seph! Merebut kekasih orang!" Winy meninju lengan Joseph yang duduk di samping kanannya.
Joseph menjerit, "Aduh, kok aku pula yamg disalahkan? Ini kan cuma naskah drama yang ditulis Wilson. Ceritanya juga nggak benaran. Hanya karangan saja," Joseph membela diri.
"Betul juga ya, yang namanya naskah drama kan cerita fiksi, suka-suka kita mau buat kayak mana," timpuk Cyntia.
Mereka bertiga, Joseph, Winy, dan Cyntia tampak riuh membahas naskah drama yang ditulis Son. Kadang ketawa, kadang protes, kadang setuju. Tapi akhirnya mereka sependapat dan bisa menerima isi cerita yang dibuat Son. Namanya juga cerita fiksi hanya khayalan dan imajinasi belaka. Tidak benaran dan tidak nyata.
Saking asyiknya mengomentari naskah drama yang ditulis Son, mereka sampai tak melihat bagaimana ekspresi wajah Shania dan Son yang saling memandang berkali-kali.
Walau keduanya tak bicara atau berkomentar, namun Shania merasa alur cerita yang ditulis Son itu menyentuh hatinya.
Bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi di kehidupan nyatanya nanti? Dia dan Son saling mencintai tapi tak bisa bersama karena dia harus menikah dengan pria lain yang merupakan pilihan papanya?
Apakah pernikahan tanpa rasa cinta itu akan bahagia? Sanggupkah dia berpisah dengan laki-laki yang dicintainya demi baktinya kepada orangtua?
Shania tidak akan mampu melakukan itu. Walaupun dia bisa menerima lamaran Joseph dan menikah dengannya, namun hatinya tetap akan menjadi milik Son. Dia akan selalu teringat dan terpikirkan Son. Dia tidak akan bisa memaafkan diri sendiri yang sudah melukai hati Son.
Siapa bilang cinta itu tidak melukai? Siapa bilang cinta itu tidak menimbulkan rasa sakit? Justru karena ada rasa cinta baru timbul rasa sakit. Karena kalau kamu tidakĀ mencintai atau mempedulikan seseorang, bagaimana mungkin dia bisa menyakitimu? Justru karena kamu mencintainya maka dia barulah bisa menyakitimu.
Shania merenung akan isi naskah drama yang ditulis Son sampai dia tak bisa berkata-kata atau berkomentar.
Ketiga temannya sudah selesai berkomentar. Mereka melihat Shania dan Son yang belum juga bicara.
"Eh... Shan, bagaimana pendapatmu tentang naskah drama yang ditulis Son ini?" tanya Winy penasaran.
"Iya, Shan, bagaimana pendapatmu?" Cyntia ikut penasaran.
Joseph pun ikut memandangi Shania yang duduk di samping kanannya.
Son masih menunggu komentar Shania dengan hati tak tenang.
Shania mencoba tersenyum. Senyumnya terasa begitu ikhlas. "Bagus kok," jawab Shania yang seketika melegakan hati Son. "Wilson pintar menuliskannya."
"Bagus ya, Shan?" tanya Winy tak percaya. Dia merasa heran kenapa Shania tidak protes akan isi cerita di naskah drama yang ditulis Son itu. Padahal tokoh Shania mengalami nasib tragis harus berpisah dengan laki-laki yang dicintainya dan menikah dengan laki-laki lain.
"Hmmm... apapun yang ditulis Wilson, Shania pasti akan suka dan tidak keberatan," kata Joseph dengan lugunya.
Winy menyepak kaki Joseph hingga Joseph pun menjerit spontan, "Waduh! Kok dari tadi kamu pukul dan sepak aku, Win?" protes Joseph sambil mendelik.
"Ehm-ehm... memang cerita yang ditulis Wilson bagus sih. Nggak ada yang salah dengan isi ceritanya. Bisa saja terjadi di kehidupan nyata," jawab Winy cepat.
Dia segera menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan setelah berkata begitu. Bagaimana pun, Winy tak mau dirinya dan teman-temannya menyinggung perasaan Son.
"Iya juga sih, bagus cerita yang ditulis Wilson ini. Aku setuju dengan pendapat Shania," kata Cyntia.
Joseph manggut-manggut. "Aku setuju juga," katanya.
Shania memandang Son yang duduk di depannya. Begitu juga dengan Joseph, Winy, dan Cyntia. Mereka ikut memandang Son.
"Wilson, kami bilang naskah yang kamu tulis ini bagus. Kami semua setuju. Jadi sekarang bagaimana?" tanya Cyntia.
"Iya, apa kita harus mulai latihan sekarang? Maksudku, latihan membawakan drama ini yang akan kita pertunjukkan di depan kelas nanti?" kata Winy.
"Iya, kita harus latihan sekarangkah?" Joseph ikut bertanya.
"Kalian hapal dulu dialog yang harus diucapkan masing-masing," jawab Son. "Setelah itu baru kita praktikkan."
"Kayaknya aku sudah hapal. Yang harus kuucapkan nanti hanya beberapa baris saja," kata Joseph.
"Aku juga sudah hapal. Nggak banyak juga yang harus kuucapkan," sambung Winy.
"Punyaku lumayan banyak juga yang harus diucapkan," Cyntia geleng-geleng kepala.
"Iya, sama dengan punya Shania dan Wilson. Harus hapal banyak," timpuk Joseph.
Shania membaca kembali naskah drama di buku catatan Son yang sedang dipegangnya. Setelah itu dia berkata, "Sudah. Aku juga sudah hapal dialognya."
* * *