
Bab 104
"Baiklah, aku setuju," kata Joseph.
"Iya, aku juga setuju," kata Winy.
"Aku juga," kata Cyntia.
Shania memandang Son. Son belum memberikan jawabannya. Dia hanya diam saja.
"Bagaimana denganmu, Wilson?" tanya Shania sambil menoleh ke samping kanan.
Son tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. "Iya," jawabnya dengan suara kecil. "Tapi aku harus minta izin dulu pada Elen. Kalau dia mengizinkanku, baru aku ikut kalian."
"Elen?" tanya Winy. "Yang tadi bicara dengan kitakah waktu kita di ruang tamu kerja kelompok?"
"Iya," Son mengangguk.
"Dia itu kepala pelayan di rumah ini?" tanya Shania.
"Iya, tapi juga pengasuhku semenjak kecil," jawab Son.
"Oh, lalu di mana mamamu?" tanya Shania bagai teringat. Karena sedari tadi mereka berada di rumah Son, Shania tidak melihat wanita lain yang mungkin adalah mamanya Son. Hanya Elen yang muncul di depan mereka memperkenalkan diri.
"Iya, di mana mamamu?" tanya Winy ingin tahu.
"Kalau bukan dari mamamu mirip wajahmu, pasti dari papamu. Iya kan, Wilson?" tebak Joseph.
Mendengar nama mamanya disebut dan ditanya beruntun oleh keempat temannya, Son tiba-tiba merasa hatinya sakit. Ada rasa sedih dan rasa pilu yang melintas dan menggores di situ.
Dia tak tahu apakah kepergian mamanya yang tiba-tiba itu telah meninggalkan luka yang dalam baginya. Yang jelas, hati Son terasa sangat sakit setiap kali dia mengingat mamanya. Apalagi jika dia teringat betapa mamanya sangat menyayangi dan mengasihi dirinya.
Sampai sehari sebelum kepergiaannya dia masih berkeinginan untuk membahagiakan hati Son. Walaupun saat itu mamanya sedang tidak enak badan namun dia tetap melaksanakan niatnya menghibur hati Son dengan membawa Son jalan-jalan ke pantai. Kathy atau mamanya Son pastilah merasa sangat capek setelah menyetir ke pantai dalam perjalanan p/p yang jaraknya sama dengan ke luar kota.
Iya, aku mirip mamaku," jawab Son akhirnya dengan suara perlahan. Dia mencoba menepis rasa sakit di hatinya. Sedih dan pilu di bathinnya hanya dia sendiri yang tahu. Hanya dia yang bisa merasakan bagaimana itu kehilangan perhatian dan kasih sayang seorang ibu di usia 8 tahun, usia yang masih kanak-kanak yang seharusnya di usia itu dia masih harus mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang utama atau dari ibu yang paling mampu memberikan cinta dan kasih sayang yang paling besar.
Setelah kepergian mamanya, hanya Elen yang bisa memberikan perhatian dan cinta yang demikian besar pada dirinya. Namun posisi Kathy sebagai mamanya Son di hati Son tetap tidak bisa tergantikan oleh siapapun dan sampai kapanpun.
"Iya, di mana mamamu?" tanya Shania lagi. Karena Son belum menjawab pertanyaan mereka yang pertama.
Son menggigit bibirnya sampai terasa perih. Namun itu tidak bisa menandingi rasa perih di hatinya saat nama mamanya disebut.
"Mamaku sudah meninggal saat aku berusia 8 tahun. Saat aku duduk di kelas III SD," jawab Son.
"Hah?" Keempat teman Son pun membelalakkan mata seolah tak percaya. Tak mungkin Son telah kehilangan mamanya saat dia berusia 8 tahun, pikir Shania, Winy, Cyntia, dan Joseph.
Sebenarnya, banyak anak yang juga telah kehilangan kasih sayang ibu mereka saat mereka masih balita atau masih anak-anak. Bukan hanya Son saja. Mereka saja yang tidak tahu
* * *