
Bab 113
Mobil yang dikendarai oleh supir om-nya Shania terus melaju membelah jalanan di kota Medan pada sore yang sejuk itu dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup di antara sinar mentari yang mulai meredup.
Joseph yang duduk di jok depan di samping supir berkali-kali menoleh ke belakang untuk melihat pada Winy, Cyntia, Shania, Son, dan Aleena yang duduk di jok belakang.
Dia melihat bagaimana ekspresi wajah teman-temannya itu satu per satu. Mulai dari wajah Winy yang kesal terjepit di samping pintu mobil sebelah kanan. Wajah Cyntia yang kheki duduk sempit di antara Shania dan Winy. Wajah Shania yang merona merah karena terhimpit erat dengan bahu dan paha Son. Wajah Son yang geram seperti ingin mengamuk dan merona karena malu. Walau bukan berarti tidak ada debar-debar di hatinya terjepit di antara Shania dan Aleena. Apalagi sebelah paha Aleena berpangku pada pahanya.
Sementara wajah Aleena malah senang dan lega berhasil mencuri satu tempat walau sempit di antara pintu mobil dan paha Son.
Karena keadaan di jok belakang mobil kurang nyaman, maka mereka tidak bicara banyak. Hanya kadang-kadang terdengar suara Winy dan Cyntia saja yang mengeluh karena sempit.
Sementara Shania dan Son tidak berkata apa-apa walau hati mereka sama-sama galau. Aleena juga tidak berkata apa-apa. Hanya kadang-kadang sedikit berkicau saja mengomentari apa yang dilihatnya dari balik jendela mobil.
Sementara supir yang membawa Shania cs berkali-kali melirik lewat kaca spion tengah untuk melihat para penumpang yang duduk di jok belakang.
Walau mobil yang dikendarainya kelebihan muatan, namun sang supir bisa mengendarainya dengan tenang dan santai. Hanya sedikit kurang nyaman saja tapi itu juga tidak mengganggu konsentrasinya karena dia sudah profesional dalam menyetir.
Setelah setengah jam lebih, mobil pun sampai di pelataran parkir gedung tempat Deli Park Mall berada.
Supir memasukkan mobilnya di pelataran parkir yang sangat luas yang terdiri dari banyak blok dengan kapasitas atau daya tampung ribuan mobil. Sama seperti tempat parkir sepeda motor yang sangat luas dan terdiri dari banyak blok.
Setelah supir berhasil mencari tempat yang kosong di pelataran parkir mobil dan memarkirkan mobilnya, maka dia pun berkata kepada Shania dan teman-temannya, "Iya, sudah selesai. Sudah beres diparkir. Kalian sudah boleh keluar."
Begitu mendengar komando dari supir, Winy yang duduk di dekat pintu sebelah kanan langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Dia spontan bernafas lega menghirup udara bebas dalam suasana yang terasa lebih lapang walaupun udara di pelataran parkir mobil itu cukup hangat karena banyaknya mesin mobil yang masih panas alias barusan parkir. Lagian suasana full mobil yang diparkir di situ juga turut membuat udara di dalam kurang nyaman.
Aleena yang duduk di dekat pintu sebelah kiri juga membuka pintu mobil dan langsung keluar dari situ. Begitu juga dengan Son yang duduk di sampingnya tadi. Dengan segera Son menggerakkan kakinya yang terasa pegal dan kebas karena diduduki oleh Aleena sedari tadi mulai dari rumahnya hingga ke mal ini.
Joseph pun membuka pintu mobil depan dan turun dari mobil. Begitu juga dengan supir yang membuka pintu di samping kemudi.
Winy dan Shania ikut turun dari mobil. Mereka sama-sama bernafas lega seperti teman-teman yang lain.
* * *