
Bab 42
Son sudah selesai mencocokkan jawaban Shania dengan jawabannya sendiri. Hanya sedikit perbedaan. Tidak ada yang perlu diubah atau diperbaiki karena makna jawaban mereka sama walaupun kalimatnya berbeda.
"Shania," Son memanggil nama Shania lagi.
Shania menoleh dan melihat Son menatapnya sejenak sebelum mengangkat buku LKS yang dipinjamnya tadi dan mengembalikan padanya.
"Sudah?" tanya Shania.
"Iya. Trims ya," kata Son.
Shania tersenyum simpul sebelum berbalik ke posisi semula.
Tak lama kemudian lonceng istirahat kedua berbunyi. Murid-murid pun segera mengumpulkan buku LKS Bahasa Inggris mereka ke meja guru untuk dikoreksi dan dinilai oleh bapak guru Bahasa Inggris.
"Kamu nggak keluar kelas, Shan?" tanya Joseph pada Shania yang duduk di sampingnya.
"Mmm... kamu duluan, Seph," jawab Shania setelah berpikir sebentar.
Joseph pun berjalan keluar dari ruangan kelas bersama murid-murid yang lain.
Suasana kelas mulai sunyi. Tapi ada beberapa murid yang masih duduk di kelas.
Shania menoleh ke belakang, "Wilson, kamu nggak keluar kelas?" tanyanya pada Son yang sedang menaruh buku tulisnya ke dalam tas.
"Mau ke mana?" tanya Son sambil menatap Shania.
"Ke kantin? Apa kamu tak ingin jalan-jalan keluar kelas?" tanya Shania lagi.
"Aku..."
"Ayo, Wilson. Kutemani kamu ke kantin. Kita jajan di sana," kata Shania lalu berbalik dan bangkit dari bangkunya.
Mendapat ajakan gadis cantik seperti Shania, mau tak mau Son pun menerima walaupun dia tak ada rencana keluar kelas.
Son bangkit dari bangkunya mengikuti langkah kaki Shania. Kemudian mereka keluar melalui pintu kelas dan berjalan beriringan menyusuri sepanjang koridor menuju tangga ke lantai 1.
Saat berjalan di samping Son, Shania beberapa kali menoleh ke samping untuk mencuri pandang pada Son.
Son pun sesekali membalas lirikan Shania dan saat tatapan mereka beradu, keduanya sama-sama tersenyum simpul.
Saat langkah mereka sampai di tangga, Son tampak mengawasi langkah-langkah kaki Shania yang menuruni tangga. Seolah-olah berjaga-jaga supaya Shania tetap aman sampai di bawah.
Mereka sudah sampai di bawah tangga. Shania menuntun langkah Son menuju kantin di mana saat mereka sampai di sana, suasana sudah ramai oleh murid-murid yang berkerumun membeli jajanan.
"Kamu mau makan apa, Wilson?" tanya Shania.
Son tepekur. Dia tak menjawab karena memang tak tahu mau makan apa.
"Mie goreng saja ya? Mie goreng di kantin ini lezat. Kamu harus mencobanya," kata Shania.
"Kamu yang makan saja, Shan. Aku tidak lapar," jawab Son.
"Kamu harus makan juga, Wilson. Temani aku. Masa aku sendiri yang makan dan kamu lihati saja," protes Shania.
Son diam. Tak tahu harus menjawab apa.
Setelah membayar, Shania pun mengajak Son ke samping kantin di mana terdapat meja-meja dan bangku-bangku untuk para murid duduk di sana menikmati sarapan atau makan siang mereka.
Shania berjalan menuju satu meja yang agak lapang dan duduk di sana. Sementara Son mengikuti langkah Shania lalu duduk di depannya. Jadi mereka duduk berhadapan dibatasi sebuah meja.
Shania menaruh 2 bungkus mie goreng yang ada di tangannya ke atas meja. Satu dia taruh di depannya dan satunya lagi dia taruh di depan Son.
Kemudian Shania melepaskan karet yang melingkari pembungkus mie goreng yang baru dibelinya itu lalu membukanya hingga nampak mie goreng yang lezat di depannya.
Dia meraih sumpit yang didempetkan dengan bungkusan mie goreng lalu mengoyak plastik pembungkusnya.
"Itu mie goreng punyamu, Wilson. Ayo dimakan," kata Shania saat dia melihat Son masih diam tak bereaksi.
"Aku tidak lapar," kata Son.
"Kita makan sama-sama, Wilson. Tak enak kalau kamu cuma melihatiku makan saja," kata Shania sambil berusaha mengatur debar di hatinya yang belum berhenti.
"Aku bukakan ya, Wilson," kata Shania lalu melepaskan karet yang melingkari pembungkus mie goreng dan menguakkannya.
Saat Shania hendak meraih sumpit berbungkus plastik dan mengoyakkannya untuk Son, Son segera menahannya hingga tak sengaja tangannya menyentuh telapak tangan Shania.
Shania tercekat. Dadanya semakin bergolak karena telapak tangan Son berada di atas punggung telapak tangannya.
Son seperti tercengang dan tak bisa melepaskan sentuhan tangannya pada telapak tangan Shania. Dia merasa telapak tangan Shania sangat lembut Kalau bisa dia ingin memegangnya lebih lama.
"A-a-a, Wilson...!" Shania berseru gugup dan menarik tangannya dari tangan Son yang menahannya mengambil sumpit.
"Aku bisa sendiri," kata Son. "Sori," Son merasa malu karena tadi tak segera menarik tangannya walaupun itu tak disengaja. Seharusnya dia bisa menguasai diri.
"Tidak apa-apa," balas Shania sambil tersenyum kikuk. Wajahnya bersemu merah.
Beberapa murid yang duduk di dekat Son dan Shania tampak menoleh sejenak. Walaupun mereka tak begitu memperhatikan apa yang sedang terjadi, tapi mereka merasa ada yang aneh antara dua murid cowok cewek yang duduk berhadapan itu.
Keduanya seperti saling menyukai tapi kenapa tampak grogi dan gugup? Apakah keduanya baru mulai pacaran? pikir mereka menebak-nebak. Tentunya sambil makan sambil mencuri pandang pada Son dan Shania.
Masalahnya, kalau Son dan Shania tampak biasa-biasa saja, walaupun mereka berpacaran dan sama-sama grogi pun tidak akan begitu menarik perhatian. Ini karena Shania kelihatan begitu cantik dan lembut. Lalu yang duduk di depannya juga kelihatan sangat tampan dan garang. Mereka seperti pasangan dewa dewi yang amat serasi dan mengundang decak kagum orang-orang yang melihatnya.
Walaupun Son dan Shania merasa ada beberapa murid yang sedang memperhatikan mereka, namun keduanya berusaha bersikap tenang seolah tak peduli sedang diperhatikan.
Setelah Shania menarik kembali tangannya, Son pun mengambil sumpit yang tergeletak di samping mie gorengnya dan mengoyak plastik pembungkusnya.
Son memutuskan untuk makan bersama-sama dengan Shania supaya murid-murid lain segera mengalihkan perhatiannya. Dan supaya dia tidak lagi harus menatap atau bertatap-tatapan terus dengan Shania yang membuat hatinya tak tenang.
Son dan Shania pun melahap mie goreng yang ada di depan mereka.
Shania mencuri pandang pada Son sesekali untuk mengetahui cara Son mencicipi makanannya. Sedangkan Son hanya menikmati mie gorengnya saja tanpa melihat Shania apalagi melihat sekeliling.
Diam-diam Shania tersenyum senang melihat Son menekuni makanannya. Apalagi saat Son menghabiskan mie gorengnga, Shania merasa lega.
Ketika Son selesai makan, dia mengangkat kepalanya dan memergoki Shania sedang mencuri pandang padanya.
Shania buru-buru menundukkan kepalanya kembali dan menghabiskan mie gorengnya.
* * *