
Bab 128
"Iya, Shan?" Son menatap Shania lekat. Dia menunggu kelanjutan kata-kata Shania setelah "Baiklah..."
"Kenapa?" tanya Shania bingung. "Apa maksudmu? Dan kenapa menatapku seperti itu?"
"Selanjutnya apa, Shan?" tanya Son.
"Iya, apa lagi menurutmu, Wilson?" tanya Shania balik. "Ya baliklah ke tempat yang tadi. Kalau tidak balik ke sana, mau ke mana kita?" Shania balas menatap Son.
"Oh, ya sudah. Kita balik ke tempat yang tadi ya, Shan. Joseph, Winy, dan Cyntia pasti sedang menunggu kita," kata Son meyakinkan Shania.
"Iya, termasuk temanmu.yang satu itu. Dia yang paling menunggumu balik," kata Shania seolah menyindir Son.
Shania dan Son tidak tahu kalau sekarang Aleena yang dimaksud Shania sedang kelinglungan mencari Son yang tadi mengejar Shania. Aleena mencari Son ke mana-mana. Dia mengitari setiap sudut mal sampai ke ujung. Aleena juga melongokkan kepalanya ke setiap kafe dan toko yang berjejer di samping kiri kanannya. Bahkan dia naik turun eskalator untuk mencari Son di setiap lantai tapi tak juga menemukan Son dan Shania.
Hati Aleena resah. Dia benar-benar galau karena tidak berhasil menemukan Son. Jikalau Son pergi sendirian, Aleena tentu tidak akan segalau ini. Tapi Son pergi mengejar Shania. Apakah Shania sudah berhasil terkejar oleh Son? Lalu apakah Son kemudian berbincang-bincang dengannya? Son pasti menggandeng tangan Shania dan memeluknya juga seperti Son memeluk Aleena malam tadi sewaktu mereka di depan toilet kafe.
Iya, laki-laki tidak bisa dipercaya, begitu kata teman-teman Aleena yang cewek. Tantenya Aleena yaitu Tante Feby juga berkata demikian. Laki-laki tak bisa dipercaya. Mereka gampang tergoda. Apalagi oleh wanita cantik. Mereka akan menggunakan segala macam cara dan tipu mushilat untuk mendapatkan wanita yang diinginkannya sedangkan di sisi lain dia mengkhianati wanita yang mempercayainya dan menantinya
Wanita lebih percaya pada perhatian tulus dari laki-laki daripada kata-kata manisnya. Mereka lebih membutuhkan kasih sayang yang tulus dari laki-laki daripada emas permatanyq. Karena kasih sayang yang tulus akan bisa mengisi hati yang kosong. Sedangkan emas permata hanya akan mengisi brankas yang kosong. Apa gunanya emas permata jika hati terasa hampa? Jika ada seseorang yang benar-benar tulus maka orang itulah yang akan mengisi ruang hampa di hati kita.
Tapi manusia lebih tertarik pada emas permata karena itulah yang bisa ditunjukkan, dipamerkan, atau dibanggakan kepada orang lain. Dan semua itu demi memperoleh kepuasan duniawi akan pujian dan perhatian. Tapi itu adalah pujian dan perhatian dari orang lain karena kita memiliki sesuatu yang berharga seperti kemewahan. Saat kita tidak memiliki itu lagi, maka pujian dan perhatian dari orang-orang pun akan sirna. Yang tertinggal hanyalah perhatian dan kasih sayang yang tulus dari seseorang yang pernah mengisi ruang hati kita yang kosong tapi kita sia-siakan.
Jika seseorang yang tulus padamu itu selalu ada di dekatmu atau selalu ada untukmu maka kamu tidak akan menghargainya karena kamu memiliki emas permata dan pujian serta perhatian dari banyak orang. Tapi jika suatu saat nanti orang-orang tidak lagi memperhatikanmu dan orang yang tulus padamu itu pun telah pergi meninggalkanmu, kamu baru akan merasa hatimu hampa. Tidak ada lagi yang tersisa selain kenangan dan penyesalan (pengalaman pribadi author).
Ya ampun, nih author kok jadi ceramah saat menulis novel? 😂 Namanya juga orang tua ya biasalah cerewet. Novelnya jadi bertele-tele.
Ah, kembali ke Aleena dulu yang sudah lelah dan putus asa mencari Son ke mana-mana tapi belum ketemu juga.
Ohya, tiba-tiba Aleena teringat sesuatu. Bukankah Son memiliki ponsel yang selalu ditaruh d saku celana ponggolnya? Aleena juga memiliki ponsel yang nomor ponselnya sama dengan nomor WA-nya yang berakhiran 7652.
Seketika terlintas di pikiran Aleena untuk menelepon ponsel Son yang berakhiran 57751. Aleena pun mengambil ponselnya untuk menelepon Son.
* * *