Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Aleena dan Son di Bawah Pohon



Bab 61


Betul juga, pikir Son. Keadaan di dalam ruangan kafe memang tidak nyaman karena bising oleh suara obrolan dan canda tawa teman-teman SMA papanya.


Obrolan mereka adalah obrolan orang dewasa yang tidak begitu cocok dengan selera anak remaja seusia dirinya.


"Jadi kita ke mana kalau tidak ke dalam?" tanya Son sambil menatap Aleena. Gadis itu sudah tidak menangis lagi.


Aleena mengedarkan pandangannya ke sekiraran halaman kafe. Dia lalu melihat sebuah bangku yang terletak di dekat bunga-bunga yang ditanam di pot.


"Itu, kita ke sana saja!" tunjuk Aleena.


Son menoleh ke arah yang ditunjuk Aleena. "Kita duduk di sana maksudmu?" tanya Son.


"Iya, betul!" jawab Aleena. "Ayo, Son," Aleena hendak meraih tangan Son untuk menggandengnya ke sana tapi Son segera menepisnya.


"Nggak usah digandeng, aku bisa sendiri!" sentak Son. "Emangnya aku anak kecil perlu digandeng?"


"Ya ayolah kalau begitu," Aleena menunggu Son untuk sama-sama melangkah bersamanya menuju bangku itu.


Son melakukan seperti yang diinginkan Aleena. Dia berjalan ke arah bangku yang terletak di dekat tanaman bunga-bungaan sementara Aleena berjalan di sampingnya.


Di bawah siraman cahaya rembulan yang remang-remang, keduanya tampak seperti sepasang insan yang sedang memadu kasih.


Setelah belasan langkah akhirnya mereka sampai di bangku itu dan duduk di sana.


"Hmmm... nyaman sekali di sini," Aleena menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan lega.


Son diam tak menjawab. Dia duduk di samping Aleena. Matanya memandang sekeliling.


Ada banyak mobil yang diparkir tak jauh dari situ. Ada beberapa batang pohon yang ditanam di tanah dekat tanaman bunga-bungaan dalam pot. Bagian paling kiri dari pintu gerbang kafe adalah lorong menuju toilet. Bagian paling kanan adalah tempat parkiran mobil di halaman kafe. Bagian agak kanan juga adalah pintu masuk ruangan kafe. Sedangkan tempat mereka duduk adalah di seberang pintu kafe tapi agak di tengah-tengah yang penuh dengan tanaman bunga-bungaan dan beberapa batang pohon.


"Kamu lihat apa, Son?" tanya Aleena yang duduk di samping kanan Son. Matanya memandang wajah Son yang mengitari sana-sini tapi tidak ke wajahnya. Kenapa Son tidak memandangnya? Malah matanya melalak ke sana sini? pikir Aleena.


" Nggak," jawab Son setelah memandang sekeliling. Matanya kembali memandang ke arah pintu masuk kafe.


"Son...," tiba-tiba Aleena menyentuh bahunya.


Son agak kaget dan spontan melihat Aleena. "Kenapa lagi?" tanya Son dengan suara agak keras.


"Kamu kok galak-galak sama aku?" protes Aleena dengan tatapan mata merajuk.


"Habisnya kamu sentuh-sentuh aku terus!" jawab Son kesal. Dia menggerakkan bahunya untuk menepis sentuhan Aleena dan menggeser duduknya sedikit menjauhi gadis itu.


"Kita kan teman, Son? Masa aku tak boleh menyentuhmu?" protes Aleena.


"Iya, tapi kamu perempuan," kata Son.


"Iya, tapi kita masih anak-anak juga. Kan nggak salah kalau kusentuh kamu," protes Aleena lagi.


"Lho, jadi anak-anak itu umur berapa?" tanya Aleena bingung.


"Satu sampai lima tahun," jawab Son sekenanya.


"Masa? Jadi umur 6 tahun bukan anak-anak lagi?" semakin bingung Aleena.


"Huh!" Son tak menjawab tapi menarik napas dan mengembuskannya dengan kesal.


"Son...," Aleena menyentuh lengan Son lagi.


"Jangan sentuh-sentuh aku!" sentak Son lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi Aleena.


"Son, tunggu dulu! Kamu mau ke mana?" tanya Aleena yang ikut bangkit dari bangku dan mengejar langkah Son.


Son berhenti dan berdiri di samping sebatang pohon lalu bersandar di sana.


Aleena ikut berdiri di bawah pohon itu dan bersandar seperti Son. Dia mengikuti apa yang dilakukan Son. Bahasa tubuh yang menunjukkan kesukaan pada seseorang.


Son bersandar sambil memandang ke kejauhan. Entah apa yang sedang dilihatnya, Aleena mencoba mengikuti arah pandangan Son.


Tidak ada apa-apa di depan Son di kejauhan sana selain tembok yang ada di samping kanan dari pintu masuk kafe.


Sepertinya Son sedang melamun atau memikirkan sesuatu yang tidak diketahui oleh Aleena.


"Kamu lihat apa, Son?" tanya Aleena penasaran.


Baru kali ini Aleena bertemu dengan cowok yang tidak menatapnya saat berada di dekatnya. Cowok yang seperti tidak peduli padanya dan lebih memilih untuk melamun daripada memandang atau mencuri pandang pada wajahnya yang cantik.


Biasanya, cowok-cowok lain selalu mencuri pandang atau memandang diam-diam pada Aleena saat berada di dekatnya. Bahkan mereka berani memandang terang-terangan pada Aleena dan menunjukkan ketertarikan plus kekaguman mereka akan wajah cantik Aleena yang tampak begitu memikat.


"Nggak," jawab Son lalu menundukkan wajahnya dan posisi punggungnya masih bersandar pada batang pohon.


"Son, apa yang kamu pikirkan?" tanya Aleena lagi. Dia semakin penasaran.


"Nggak apa-apa," jawab Son sambil menggeleng.


Ohya, Son. Kamu ada WA-kan? Berapa nomor WA-mu, Son?" tanya Aleena.


Son mengerutkan kening. Dia merasa kesal, gadis belia yang berdiri di sampingnya ini sangat berisik. Dari tadi menanyainya terus sampai dia nggak bisa konsentrasi dengan pikirannya.


"Nggak tahu. Nggak hapal," jawab Son singkat.


"Ah, masa kamu nggak hapal nomor WA-mu sendiri?" Aleena tak percaya.


Son menoleh ke samping dengan mata membesar. Rasanya dia ingin menghardik gadis bawel ini.


* * *