Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Son dan Aleena Keluar dari Kafe



Bab 58


Tom, Son, dan Aleena menyentuh sendok masing-masing untuk mulai memakan makanan mereka. Begitu juga Feby.


Sekitar setengah jam lebih suasana kafe menjadi lebih tenang tanpa canda tawa dan obrolan para tamu karena mereka asyik menekuni makanan masing-masing.


Sepertinya makanan yang dimasak oleh para koki di kafe ini masih sama enak dengan 20 tahun lalu. Buktinya para tamu memakan hidangan di atas meja dengan lahap. Terlihat dari cara mereka makan terkesan makanan yang sedang mereka makan itu sangat lezat.


Syukurlah, Feby merasa lega karena tidak sampai mengecewakan para tamu.


Selepas makan dan minum, para tamu berbincang-bincang lagi. Feby ikut menimbrung obrolan mereka sebagai pengundang para tamu.


Suasana di dalam kafe kembali berisik. Terdengar canda tawa mereka lagi saat membicarakan kenangan-kenangan semasa SMA dulu yang lucu dan menggelikan.


Tom lebih banyak diam mendengarkan obrolan mereka. Sesekali dia menjawab saat ada teman yang bertanya tentang keadaan dirinya saat ini.


Sedangkan Son, berada di satu ruangan bersama orang-orang dewasa yang jauh lebih tua atau yang satu generasi di atasnya sungguh bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi teman-teman SMA papanya itu begitu berisik dengan suara obrolan dan canda tawa mereka yang terdengar riuh rendah.


Tidak ada yang ambil pusing dengan 2 anak tanggung yang sedari tadi duduk berhadapan di satu meja. Mereka asyik dengan obrolan dan canda tawa sendiri. Ditambah dengan cerita masing-masing yang sangat seru dan mengesankan.


Son merasa kurang nyaman dengan suara berisik di ruangan kafe yang sekarang dia duduki. Suara-suara ricuh itu terasa amat mengganggunya. Walau Son berusaha duduk dengan tenang karena ada papanya di sampingnya, namun wajahnya tak bisa berbohong.


Son merasa gelisah dan gerah. Apalagi Aleena yang tadi sempat memalingkan wajah saat kepergok Son sedang menatapnya sekarang kembali mencuri-curi pandang. Son tentu saja menyadari hal itu. Ingin membalas tatapan Aleena dia merasa gusar. Ingin diam saja dia juga merasa gerah. Akhirnya Son mengepalkan kedua tangannya yang berada di bawah meja dan bangkit dari duduknya.


"Aku mau ke toilet sebentar, Pa," kata Son pada Tom yang duduk di sampingnya yang sedang berbincang-bincang dengan Feby.


Feby terus menanyai Tom sedari tadi dan Tom pun menjawab semua pertanyaan Feby.


Tom berusaha tersenyum dan menjawab dengan sabar walaupun hatinya tidak begitu senang. Di pikirannya hanya ada Kathy, mendiang istrinya. Seandainya saja Kathy ada di sini bersamaku saat ini, pekik hati Tom.


'Oh, iya, pergilah," kata Tom sambil melirik Son.


"Iya, Tante," jawab Son lalu keluar dari belakang meja dan berjalan melewati Aleena.


Son terus berjalan melewati para tamu yang sedang mengobrol dengan suara riuh rendah itu. Benar-benar berisik, bisik hati Son.


Hufff... akhirnya aku bisa menghirup udara bebas, kata Son dalam hati saat dia sudah keluar dari pintu kafe dan berdiri di halaman. Sejenak, dia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan lega sebelum berbelok ke kanan dan berjalan ke ujung.


Seperginya Son, Aleena yang tinggal sendiran anak tanggung di dalam kafe menjadi gelisah. Sedari tadi dia hanya fokus pada Son seorang yang terus membuatnya terpana hingga tak begitu memperhatikan gerak-gerik atau mendengaarkan perbincangan teman-teman tantenya.


Aleena baru merasa, memang tak begitu menyenangkan menguping pembicaraan orang-orang dewasa yang topiknya pastilah tidak sama dengan selera anak remaja seusia dirinya.


"Kenapa, Aleena?" tanya Feby yang menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan keponakannya. Feby melihat Aleena duduk dengan gelisah dan berkali-kali memperbaiki posisi duduknya. Sepertinya dia sudah bosan duduk saja tanpa bicara apa-apa dan hanya mendengarkan percakapan teman-teman tantenya.


"Aku mau ke toilet sebentar, Tante," kata Aleena.


"Oh, pergilah," jawab Feby. "Kamu sudah tahu tempatnya kan? Tadi sudah tante beri tahu Son. Mungkin saja dia masih di sana."


"Iya, Tante," kata Aleena sambil bangkit dari kursi lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.


Aleena mengembuskan napas lega juga sesampainya di luar pintu. Dia menghirup udara malam yang terasa begitu dingin namun sejuk dan nyaman dibandingkan udara dingin di dalam ruangan kafe yang full AC namun sesak karena sarat pengunjung.


Aleena berbelok ke kanan dan berjalan ke ujung seperti Son tadi. Dia berjalan dengan cepat dan tergesa-gesa seolah-olah sedang membuntuti seseorang. Seperti tidak mau ketinggalan sesuatu atau ditinggalkan seseorang.


Aleena tak sadar kalau hatinya sudah kepincut oleh Son sedari pandangan pertama tadi. Dia hanya merasa ingin selalu melihat Son dan berada di dekatnya padahal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Son hanyalah putra dari teman SMA tante Feby, tantenya Aleena.


Aleena terus berjalan dengan cepat. Saat dia sudah sampai di ujung, dia berbelok ke kanan dan memasuki sebuah lorong. Aleena terus berjalan sampai ke belakang kafe.


Ada lampu penerang yang digantungkan di tiang-tiang di belakang kafe namun sinarnya tak begitu terang alias remang-remang. Lampu penerang itu mengeluarkan cahaya yang berwarna warni. Ada warna merah, kuning, hijau, jingga, dan ungu.


* * *