Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Shania Menyusul Son ke Bawah Pohon



Bab 100


"Aku harus kembali ke ayunan sekarang, Aleena," kata Son.


"Aku ikut," kata Aleena.


"Sebaiknya kamu pulang sekarang," kata Son. "Teman-temanku tidak ada hubungannya denganmu. Tidak ada gunanya kamu berkenalan dengan mereka."


Wajah Aleena berubah sedih. Bukan wajahnya saja yang sedih, tapi hatinya juga. Sampai detik ini, Son masih belum mengerti dirinya.


Aleena sudah berpikir untuk melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Son untuk melepaskan dirinya. Melepaskannya kembali kepada teman-temannya.


Melihat perubahan mimik wajah Aleena, sebenarnya hati Son sedikit terenyuh. Tapi dia berpikir kalau kata-katanya memang benar. Aleena yang salah. Karena itu Son tidak menghiburnya.


Walaupun Son berkata akan kembali ke ayunan sekarang, tapi berhubung Aleena belum juga melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Son, maka Son pun tidak bisa beranjak dari tempatnya berdiri. Dia masih terpaku di bawah pohon di hadapan Aleena.


"Kamu bersungguh-sungguh dengan kata-katamu barusan, Son? Kamu ingin aku pulang sekarang? Kamu mengusirku?" tanya Aleena dengan nada suara yang membuat terenyuh


Son tercengang. Dia belum pernah melihat raut wajah Aleena yang demikian sedih dan nada suaranya yang demikian pilu. Biasanya, raut wajah dan nada suara Aleena terlihat dan terdengar sangat lincah dan riang.


Karena itu, Son pun tak berani menepiskan tangan Aleena yang sedang menggenggam pergelangan tangannya.


Son hanya berdiri di tempatnya sambil menatap wajah Aleena. Terpaksa matanya bertemu dengan tatapan mata Aleena yang sedang menghunjami wajahnya. Mata gadis belia itu menerobos masuk sampai ke bola matanya. Son merasa hatinya seperti tertusuk duri. Amat perih.


Tampaknya Son dan Aleena masih akan bertatap-tatapan dalam jarak dekat dan dalam waktu lama kalau saja sebuah suara yang tiba-tiba menyeruak di antara mereka berdua menyadarkan seketika.


"Wilson...!" itu adalah suara lembut seorang wanita yang terdengar begitu bergetar diliputi emosi hati yang demikian bergemuruh.


Wilson...! Panggilan nama itu terdengar jelas di telinga Son dan Aleena hingga keduanya pun sekonyong-konyong memalingkan wajah untuk melihat ke arah datangnya suara.


Begitu melihat siapa sosok yang tengah berdiri di arah datangnya suara, mata Son dan Aleena pub terbelalak.


Entah siapa yang duluan melakukan hal itu. Aleena yang langsung melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Son ataukah Son yang langsung menepiskan tangan Aleena dari tangannya. Yang jelas, begitu mata Son dan mata Aleena bertemu dengan tatapan mata Shania, sosok yang baru datang itu, pegangan Aleena di tangan Son pun langsung terlepas.


"Sha.. nia...!" seru Son dengan suara tertahan setelah dia melihat kehadiran Shania di tengah-tengah dirinya dan Aleena.


Aleena mengerutkan kening. Dia juga menatap wajah Shania yang baru datang. Aleena dan Son melihat ada binar-binar kekecewaan di dalam bola mata Shania.


Son dan Aleena tidak tahu apa yang menyebabkan Shania memancarkan sorot mata kecewa. Mungkin, dia terlalu lama menunggu Son balik ke ayunan dan saat dia menyusul Son ke bawah pohon, dia mendapati Son dan Aleena sedang berdiri berhadapan dalam jarak dekat dan saling memandang dengan lekat. Lalu tangan Aleena juga sedang menggenggam pergelangan tangan Son. 


Kalau Son tidak menyukai Aleena, kenapa Son tidak langsung menepiskan tangan Aleena? Dan bahkan membiarkan gadis itu menggenggam tangannya demikian lama sejak dari ayunan hingga ke bawah pohon?


Akal sehat Shania mulai berpikir dengan logis.


* * *