
Bab 149
Aleena menggoyang-goyangkan ayunan yang sedang didudukinya bersama Son. Dia menggoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang seperti yang dilakukan teman-teman Son tadi.
Selama 10 menit Son dan Aleena duduk di ayunan. Mereka menikmati angin sore yang sejuk yang berembus menerpa tubuh mereka.
"Kapan baru tantemu datang menjemputmu?" tanya Son.
"Nggak tahu. Mungkin malam nanti," jawab Aleena.
"Hah? Malam nanti baru datang menjemput?" tanya Son kaget.
"Iya. Emangnya kenapa?" tanya Aleena balik.
"Kupikir sebentar lagi," kata Son. "Soalnya ini sudah sore. Sebentar lagi papaku pulang kerja."
"Lha, jadi emangnya kenapa kalau papamu pulang kerja?" tanya Alerna.
"Ya nanti dia heran kok kamu ada di sini," kata Son.
"Aku kan temanmu, Son. Masa nggak boleh datang berkunjung?" tanya Aleena.
"Bukan itu maksudku," jawab Son.
"Jadi apa?" tanya Aleena lagi.
"Maksudku, papaku akan curiga melihatmu sendirian datang berkunjung. Maksudku, kamu kan cewek dan kita hanya teman biasa yang baru kenal 2 hari. Masa kamu berani datang sendirian menemuiku?"
"Lha, emangnya kenapa?" Aleena tampak heran.
"Agak tak pantas," jawab Son. "Masa seorang cewek datang ke rumah seorang cowok untuk mencarinya? Walaupun itu untuk kepentingan sekolah juga kurang pantas karena bisa-bisa orang salah sangka itu hanya alasan saja untuk bertemu dengan cowok itu padahal sebenarnya dia naksir sama cowok itu. Apalagi ini bukan untuk kepentingan sekolah karena kita bukan teman sekelas."
"Ya terserah orang mau bilang apa," kata Aleena. "Pokoknya apa yang kulakukan tidak ada urusannya dengan mereka dan tidak mengganggu orang lain. Kecuali kedatanganku ini mengganggu ketenanganmu atau kesibukanmu. Itu baru tidak pantas."
"Kenapa hah?" Aleena memicingkan mata.
"Capek aku bicara denganmu. Mutar-mutar tetap nggak sampai ke maksud atau tujuan. Sepertinya bicara denganmu tidak bisa sampai ke akhir dengan memuaskan. Selalu berdebat," keluh Son.
"Ya kan bagus, Son, kita selalu berdebat," kata Aleena. "Supaya semangat dan seru. Kalau tidak, jadi kurang semangat."
"Oh, itu hobimu ya, Aleena? Berdebat?" tanya Son dengan wajah kaget.
"Iya. Kamu nggak suka berdebat, Son?" pancing Aleena.
"Nggak. Aku suka suasana tenang. Lebih adem rasanya," jawab Son.
"Oh... tapi bukankah barusan kenal 2 hari kita sudah ribut dan berdebat entah sampai berapa kali? Itu artinya kamu juga suka berdebat," kata Aleena.
"Karena kamu yang ajak aku berdebat duluan," kata Son.
"Ya itu juga karena kamu yang memperlakukanku dengan kasar. Kenapa kamu tepis tanganku dan marah-marah kepadaku dengan mata melotot? Itu di depan pintu toilet dan di bawah pohon kafe "Sonflower Shine"," terang Aleena.
"Karena kamu bandel baru aku buat begitu," jawab Son.
"Tapi tadi kamu baik padaku juga, Son," kata Aleena. "Kamu tidak meninggalkanku sendirian di mal alias tidak pulang begitu saja dengan teman-temanmu. Kamu mencariku sampai ketemu baru sama-sama pulang."
"Iya, Aleena. Itu sudah seharusnya sebagai teman dan sebagai manusia. Harus menjaga keselamatanmu atau menjamin kamu dalam keadaan selamat baru bisa tenang dan lega."
"Oh... baiknya kamu, Son," puji Aleena.
"Biasa saja, Aleena," balas Son. "Ngomong-ngomong, kira-kira jam berapa nanti tantemu datang menjemputmu?"
"Ya... mungkin sekitar jam 7 malam sepulang dari rumah temannya. Tanteku bilang mau ke sini menjumpai papamu. Ya sekalian datang menjemputku pulang begitulah."
* * *