Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Ruang Kelas yang Bising



Bab 36


Tom berjalan cukup jauh diikuti Son untuk sampai di ruang kelas IX-A atau ruang kelas III-A SMP. Son kebagian kelas A yang pastinya kelas A adalah kelas yang lebih diunggulkan daripada kelas B, C, D, atau E.


Sekolah baru Son memiliki ruang kelas untuk anak TK, SD, SMP, dan SMA.


Ruang kelas TK dan SD ada di lantai 1, ruang kelas SMP ada di lantai 2, dan ruang kelas SMA ada di lantai 3. Karena Son sekarang kelas III SMP, jadi ruang kelasnya berada di lantai 2 dari bangunan sekolah yang luas dan megah itu.


Tom sudah sampai di lantai 2 di depan ruang kelas IX-A. Kelas itu memiliki 1 papan tulis, 1 meja guru, 5 deret dan 5 baris bangku yang berarti 25 bangku yang masing-masing bangku diisi 2 murid. Berarti daya tampung 1 kelas adalah 50 murid.


Tom masuk ke kelas diikuti Son yang dari tadi mengekor di belakangnya seturunnya dari mobil atau sedari tempat parkir mobil.


"Kamu mau duduk di mana Son?" tanya Tom lalu berbalik melihat Son yang berdiri di belakangnya.


Son diam sejenak. Kemudian dia berjalan ke bangku yang di baris ketiga dari deret ketiga dan duduk di sana.


"Oh, kamu mau duduk di sana?" tanya Tom yang matanya mengikuti arah jalannya Son.


"Iya, Pa," jawab Son lalu duduk dan meletakkan tasnya ke dalam laci.


"Ok, kalau begitu papa pergi ke kantor dulu. Nanti jam pulang sekolah baru papa datang jemput lagi," kata Tom.


Son mengangguk kecil.


Tom berbalik dan berjalan keluar dari ruang kelas.


Sepeninggal Tom, Son mengeluarkan beberapa buku pelajaran dari tasnya dan melihat-lihat isinya sambil menunggu lonceng masuk berbunyi.


Tiga orang murid cewek masuk ke kelas berbarengan. Mereka berjalan beriringan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa.


"Aku duduk di sini saja," kata seorang di antara mereka bertiga sambil berjalan ke meja yang letaknya nomor 2 dari belakang di deret pertama dari pintu masuk. Jadi meja itu letaknya di dekat dinding tembok.


"Aku di sini juga," kata temannya yang segera mengambil tempat di sampingnya.


"Kalau begitu aku di depan kalian," yang terakhir pun berkata.


Ketiganya segera menduduki tempat masing-masing dan meletakkan tas ke dalam laci.


Telinga Son mendengar percakapan mereka tapi kepalanya menunduk membaca buku pelajaran yang tergeletak di atas meja.


"Eh, eh, Shania belum datang ya? Apa dia masih sekelas dengan kita? Aku tak suka sekelas lagi dengannya," kata cewek yang pertama, namanya Desy.


"Iya, aku juga tidak suka," sahut cewek yang kedua, namanya Luna.


"Amit-amit sekelas lagi dengannya," sambung cewek yang ketiga, namanya Katrin.


"Iyaaa... selalu jadi penghambat semua yang kita mau. Belum lagi Richard, Fredy, dan Mark yang bikin kita tambah sebal," ketus Desy.


"Hmmm... tak mungkin dia tak sekelas dengan kita. Kan dari kelas I kita barengan sama dia terus. Kamu tahu dia pindahan dari sekolah mana? Waktu SD dia nggak sekolah di sini," kata Luna.


"Dengar-dengar pindahan dari luar kota. Eh, katanya masih ada hubungan famili dengan pemilik sekolah ini," kata Katrin.


"Ah, siapa yang bilang?" tak percaya Luna.


"Ya, entah siapa bilang aku lupa. Tapi itu yang kudengar waktu kita masih SMP I," jawab Katrin.


"Ah, bodo amat. Yang penting aku nggak suka dia," ketus Luna.


Dia tak menyangka pagi-pagi di sekolah baru dan di kelas baru sudah harus mendengar kalimat-kalimat negatif yang menunjukkan kebencian pada seseorang. Ini hanya dari 3 murid cewek yang barusan masuk ke kelas. Bagaimana pula dengan sisanya yang masih 40 murid lebih? Apakah mereka juga seperti 3 murid cewek ini? pikir Son.


Percakapan mereka telah membuat hati Son risau. Dia merasa gerah. Dan gelisah. Tapi seperti kebiasaannya, yang dia lakukan hanya diam dan menunduk.


Ketiganya masih berbincang-bincang dengan asyik sambil tak lupa tertawa dan kadang menaikkan nada suara. Topik yang mereka bicarakan bukan tentang Shania lagi, tapi tentang liburan sekolah selama sebulan lalu.


Mereka bercerita tentang tempat-tempat yang mereka  kunjungi selama liburan. Tempat wisata di dalam kota dan di luar kota beserta dengan kulinernya.


Sementara mereka bercerita, murid-murid di kelas baru Son berdatangan. Mereka masuk satu per satu atau berbarengan dari pintu masuk yang di letaknya di samping papan tulis. Sedangkan meja-meja murid letaknya berhadapan dengan pintu masuk.


Murid cewek dan murid cowok sama banyaknya. Mereka seumuran dengan Son, sekitar 15-16 tahun.


"Eh..., lihat itu Richard, Fredy, dan Mark datang!" seru Katrin.


Desy dan Luna pun segera melihat ke pintu masuk.


Tiga murid cowok bertubuh besar dan tegap masuk ke kelas berbarengan. Ketiganya berwajah lumayan namun tampak kurang ramah.


"Woi...! Mark! Sini! Duduk sini!" seru Luna dari bangku tempatnya duduk.


"Iya, sini Fred!" Desy ikut memanggil.


"Sini, Richard!" Katrin tak mau ketinggalan ikut memanggil.


Suara mereka bagi Son seperti bunyi petir kecil yang menggema dalam ruang kelas. Bagi Son, cewek yang ngomongnya dengan cara mirip orang berteriak itu sangat mengganggu. Son merasa ketiganya sangat kasar.


"Woiii...! Kalian sudah datang pagi-pagi!" seru Fred yang berjalan ke arah Desy, Luna, dan Katrin sambil diikuti Richard dan Mark.


"Iyalah...! Dari tadi kami nungguin kalian bertiga supaya kita bisa duduk sama-sama," sahut Luna.


"Baik banget!" kata Richard dengan suara keras diringi tawa membahana.


"Iya, kok masih mau duduk bareng kita? Bukannya kita sudah musuhan?" Mark pura-pura bertanya dengan suara keras juga.


"Ah, jangan diungkit lagi soal yang lalu. Bukankah sudah beres urusan kalian bertiga dengan Shania?" semprot Luna.


"Nah, justru itu...," kata Fred.


"Apa justru itu?" potong Katrin cepat. "Kalau kalian masih mau ngejar-ngejar Shania, ya sudahlah, lanjutkan. Tapi ingat, persahabatan kita putus!" ancamnya.


"Iya, kita kan sudah berteman baik sejak SD. Kalau bukan gara-gara kalian bertiga yang masih penasaran sama Shania, pastinya kita tidak akan pernah bertengkar," ketus Desy.


"Iya tuh, dia nggak minat sama kalian bertiga. Usah dikejar lagi," sambung Luna.


"Iyalah, iyalah," Fredy pun menjawab.


Oh, rupanya begitu. Son mencoba mencerna percakapan mereka. Keenamnya: Desy, Luna, Katrin, Richard, Fredy, dan Mark adalah teman baik sedari SD. Mereka SD-nya sama-sama di sekolah ini. Lalu ada murid baru namanya Shania yang pindahan dari sekolah lain di luar kota yang masuk di kelas I SMP 2 tahun lalu. Sekarang mereka kelas III SMP.


Berarti yang namanya Shania itu bersekolah di sini dan sekelas dengan keenam murid cowok-cewek itu saat kelas I SMP. Dan 3 teman mereka yang cowok penasaran sama Shania dan berusaha mengejarnya tapi tidak menerima respon positif darinya. Karena hal itu pertemanan mereka terganggu disebabkan 3 murid cewek itu tidak menyukai Shania tapi 3 teman cowok mereka mengejar Shania.


Son terus mendengarkan percakapan mereka sambil menunduk melihati buku pelajarannya. Kebisingan yang keenam murid cowok-cewek itu timbulkan, membuat Son tak bisa berkonsentrasi melihat buku bacaannya dan terpaksa mendengarkan percakapan mereka.


Oh, inikah yang namanya sekolah yang bagus seperti kata papanya? Yang lebih bagus daripada sekolahnya yang dulu? Tapi kenapa murid-muridnya seperti berteriak saja saat berbicara dengan teman-teman mereka? Tidak bisakah mereka berbicara dengan lebih sopan dan tenang? pikir Son.


* * *