
Bab 118
"Oh ya, berapa semua, Shan? Biar aku yang traktir," kata Son sambil bergelagat hendak mengeluarkan dompet yang ada di saku celana ponggolnya. Dompet itu tadi diambilkan Elen dari kamar Son dan dibawa Son ikut serta ke Deli Park Mall. Elen berpesan pada Son supaya Son yang mentraktir mereka.
"Hah? Apa? Oh, nggak apa-apa. Biar aku yang traktir saja, Wilson," kata Shania sambil tersenyum. Barulah sekarang ada senyum di wajah Shania setelah mendengar tawaran Son yang menyejukkan itu.
"Ah, nggak enak hati, Shan. Biar aku yang traktir saja," kata Son. "Tadi aku sudah dipesan Elen."
"Bantu pegang dulu, Aleena," kata Son sambil menyodorkan gelasnya pada Aleena yang segera menyambutnya. Setelah itu Son bergegas mengeluarkan dompet yang ada di saku celana ponggolnya.
Dia mengeluarkan 6 lembar uang 50 ribuan dari dalam dompetnya. Setelah uang 300 ribu berada di tangannya, Son memasukkan kembali dompet itu ke dalam saku celana ponggolnya.
"Ini, Shan," katanya pada Shania sambil menyodorkan 5 lembar uang 50 ribuan ke hadapan Shania.
"Tidak usah, Wilson, biar aku yang traktir saja," kata Shania buru-buru menggoyang-goyangkan tangannya untuk menolak lembaran uang 50 ribuan yang disodorkan padanya
"Nggak apa-apa, Shan. Harus diterima. Aku tak enak hati membiarkanmu yang mentraktir kami. Sudah membiarkanmu mengantre lama sendirian di barisan," kata Son.
Hati Shania pun perlahan-lahan menyejuk mendengar kata-kata Son. Ternyata dengan kata-kata saja kita bisa menyejukkan hati seseorang.
Karena Son terus memaksanya, maka Shania pun terpaksa.menerima lembaran uang itu. "Baiklah, terima kasih ya, Wilson," kata Shania sambil menghela nafas panjang.
"Sama-sama, Shan," jawab Son.
Son juga menyerahkan sisa selembar lagi uang 50 ribuan itu pada Cyntia. "Ini, Cyn, tadi pakai uangmu ya minumannya Joseph," kata Son.
"Iya, nggak apa-apa, Wilson," kata Cyntia. "Lagian 1 gelas nggak sampai 50 ribu. Masih ada balik belasan ribu."
"Nggak apa-apa. Nggak usah dibalikkan lagi." kata Son.
Son meminta kembali minumannya yang sedang dipegang atau dititipkan ke Aleena tadi.
Aleena pun menyerahkan kembali minuman Korea itu pada Son.
"Kita minum di mana?" tanya Joseph. Dia sudah kembali ke tempat teman-temannya berkumpul.
Winy dan Cyntia mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling kafe juga ke kejauhan.
"Ohya, di sana ada tempat duduk," kata Winy sambil menunjuk.sebuah tempat di kejauhan yang masih nampak oleh mata.
Memang di tempat yang ditunjuk oleh Winy itu ada tempat duduk dari keramik yang cukup panjang dan lebar yang bisa diduduki pengunjung mal.
"Iya, kita jalan ke sana saja," kata Cyntia.
Mendengar ajakan Winy dan Cyntia, Joseph, Aleena, Son, dan Shania pun berjalan ke arah yang ditunjuk. Setelah puluhan langkah, mereka sampai di sana sambil memegang 1 gelas minuman di tangan masing-masing.
"Hah, leganya," kata Aleena setelah mereka sampai dan duduk di tempat duduk dari keramik itu.
Tempat duduk itu sangat bersih dan mengkilap diterpa sorotan lampu atau cahaya dari lampu yang ditanam di plafon atas mal.
"Hhh..., lega sekali rasanya," kata Joseph meniru kata-kata Aleena.
Mereka berenam pun duduk di sana lalu mulai meminum minuman yang ada di tangan masing-masing.
* * *