Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Rencana Kerja Kelompok Bahasa Indonesia



Bab 64


Lonceng istirahat pertama berbunyi. Pelajaran Bahasa Indonesia yang 3 les pun berakhir.


Setelah ibu guru Bahasa Indonesia keluar dari kelas diikuti murid-murid lain, terdengar suara Joseph, "Gimana nih, Shan? Kita diberi tugas kelompok memainkan drama di depan kelas. Kamu mengerti?" tanya Joseph pada Shania yang duduk di sampingnya.


"Ya lakukan sesuai apa yang dijelaskan ibu guru tadi," jawab Shania.


"Iya, tapi bagaimana cara mengerjakannya?" tanya Joseph tak mengerti.


"Kamu tidak menyimak apa yang dikatakan ibu guru tadi? Katanya, kita harus membuat atau menulis naskah drama itu yang berupa dialog-dialog antar tokoh. Terserah judul dan temanya. Nama-nama tokohnya juga terserah kita. Ya pikirkanlah judul dan tema apa yang mau kita buat," jelas Shania. "Setelah itu baru naskah dan dialognya kita hapal dan praktikkan di depan kelas dengan gerak-gerik dan mimik yang sesuai."


"Oh... aku nggak bisa buat naskah drama. Kamu bisa buat, Shan?" tanya Joseph.


"Ya... nanti kucoba," kata Shania. "Kamu mau satu kelompok denganku ya?" tanya Shania balik.


"Iya, Shan. Biasanya kan kita juga selalu satu kelompok tiap ada kerja kelompok. Kata ibu guru tadi 1 kelompok 5 orang. Sama Winy dan Cyntia yang biasanya masuk kelompok kita masih 4 orang totalnya. Kurang 1 lagi," kata Joseph.


"Hmmm...,"  Shania tampak berpikir-pikir.


Sebenarnya sedari ibu guru Bahasa Indonesia mengatakan kerja kelompok kali ini 1 kelompok 5 orang, Shania sudah terpikirkan memasukkan Son ke dalam kelompoknya. Kebetulan, kelompok yang biasa mereka saling kerjasama itu hanya beranggotakan 4 orang, yaitu: Shania, Joseph, Winy, dan Cyntia.


Sekarang, saat Joseph menyinggung hal ini, Shania pun merasa mendapat kesempatan untuk bertanya pada Son.


Shania membalikkan punggungnya untuk menoleh ke belakang melihat Son. "Wilson, kamu mau masuk kelompok kami nggak?" tanyanya.


Son yang kebetulan atau memang sedang memperhatikan dan mendengarkan percakapan antara Shania dan Joseph pun melihat Shania.


"Iya," jawab Son tanpa berpikir panjang.


Shania bernapas lega. Entah mengapa dia merasa sangat senang mendengar jawaban Son itu. Seperti ada bunga-bunga indah bermekaran di dadanya. Bunga-bunga segar nan harum yang memberi harapan dan semangat menyongsong esok hari yang lebih cerah.


Joseph ikut menoleh ke belakang melihat Son. Dia merasa, Shania sangat cepat  akrab dengan murid baru yang dirasanya dingin dan misterius ini. Kalau Joseph, tak bakalan mau mendekati teman yang kelihatan cuek dan pendiam seperti murid baru ini.


Entah kenapa Shania malah tertarik mendekatinya dan mengakrabinya, Joseph tak habis pikir. Padahal sebelumnya selama di kelas I dan II SMP, Joseph yang sekelas dengan Shania tahu kalau Shania tak begitu suka bergaul akrab dengan siapapun di kelas mereka. Dia hanya berteman biasa-biasa saja dengan semuanya. Kecuali pada Joseph yang duduk di sampingnya dia baru agak ramah.


"Kapan kita kerja kelompoknya, Wilson? Kamu mau ke rumahku atau kami yang ke rumahmu?" tanya Shania.


Son menatap Shania. Lalu berpindah ke Joseph. "Terserah," jawabnya.


"Kami ke rumahmu saja," kata Shania.


Joseph mengerutkan kening. Biasanya kalau ada kerja kelompok maka Joseph bersama Winy dan Cyntia akan berkumpul di rumah om-nya Shania. Mereka naik taxol ke sana. Ini rumah Son entah di mana. Jauh atau tidak, Joseph pun tak tahu.


"Rumah Wilson di mana, Shan? Aku tak tahu tempatnya," kata Joseph. "Biasanya kan kita berkumpul di rumahmu, Shan."


"Psssttt...," Shania menyepak kaki Joseph. "Nanti kalian ikut mobilku saja. Biar diantar supir om-ku ke sana," jawab Shania cepat.


"Maksudmu?" Joseph masih tak mengerti. "Supir om-mu datang jemput kami satu per satu setelah itu baru mengantarkan kita ke rumah Wilson?"


"Woiii... seenaknya saja!" gerutu Shania yang  merasa kheki pada Joseph. "Ya nggaklah, Seph. Kalianlah yang datang berkumpul di rumahku seperti biasnya kita kerja kelompok. Setelah itu baru abang supir mengantarkan kita ke rumah Wilson."


"Oh...," Joseph manggut-manggut. "Tapi kenapa bukan Wilson saja yang datang ke rumahmu seperti kami? Kan biasanya kita kumpul di rumahmu," Joseph masih tak mengerti.


Shania menyepak kaki Joseph sekali lagi. Karena kaki Joseph ada di bawah meja maka Son tidak melihat Shania menyepaknya.


"Waduh! Kenapa kamu sepak-sepak terus kakiku, Shan?" protes Joseph dengan lugunya.


"Uhuk-uhuk," Shania pun pura-pura batuk 2 kali. Dia tidak menjawab pertanyaan Joseph. Malah dia bertanya pada Son. "Kapan kita kerja kelompoknya, Wilson? Biar aku bersiap-siap memesan supir om-ku mengantar kami ke tempatmu."


Son menatap Shania dan Joseph yang juga sedang memandangnya. Mereka sedang menunggu jawaban Son.


"Terserah " jawab Son lagi.


"Oh..., terserah," gumam Joseph seperti pada diri sendiri. Dia manggut-manggut sambil berpikir. Kenapa dari tadi jawaban Son cuma "Iya," dan "Terserah," saja? Joseph belum tahu, sudah syukur Son mau jawab. Daripada nggak dijawab sama sekali? Karena biasanya Son itu memang dingin dan cuek.


* * *