Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Aleena Menjewer Telinga Son



Bab 137


"Gimana? Kamu mau melakukannya, bukan?" tanya Aleena.


"Aneh sekali obat yang kamu bilang itu, Aleena," kata Son. "Untuk apa pula aku telepon ke ponselmu setiap hari hanya untuk menanyakan apakah lukamu sudah sembuh? Itu bukan keperluan yang penting menelepon seseorang."


Aleena memanyunkan bibir. Dia cemberut. Hatinya kecewa melihat mimik wajah Son saat mengucapkan kata-kata itu. Sepertinya, Son meremehkan obat yang diminta oleh Aleena itu. Menurut Son, itu obat yang aneh dan tidak perlu diberikan pada Aleena.


"Tega sekali kamu, Son," kata Aleena. Rona mukanya kelihatan sedih.


Son menatap Aleena lalu mengerutkan kening. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, sudahlah. Pusing aku!" kata Son. "Ayolah, kita balik ke tempat yang tadi, Aleena. Teman-temanku sedang menunggu kita balik," ajak Son.


Aleena menggeleng.


"Kamu tak mau balik?" tanya Son. Sorot matanya heran.


Aleena tak menjawab. Dia kembali memanyunkan bibir.


"Kenapa denganmu, Aleena?" tanya Son. "Kalau tak mau balik, mau ke mana lagi? Aku sudah lelah mencarimu sedari tadi. Untung bisa ketemu di sini."


"Lha, justru aku yang lebih lelah mencarimu, Son!" kata Aleena dengan suara keras seolah-olah menumpahkan kekesalannya. "Kamu ke mana saja tadi dengan Shania? Kalian berondok di mana? Di toilet ya?" tebak Aleena.


"Haduh, kami tidak berondok di mana-mana, Aleena Jangan sembarang nuduh! Dasar gadis nakal!" Son mulai terpancing mendengar kata-kata Aleena. Dia balas mengucapkan kata-kata yang bisa melampiaskan kekesalan hatinya.


"Lalu kalian ke mana tadi? Kok aku tak berhasil menemukan kalian walaupun sudah keliling mal ini?" tanya Aleena.


"Nggak ke mana-mana. Hanya berhenti sebentar saja dekat tembok yang dari tangga eskalator. Cuma bicara sebentar doang di sana," jawab Son.


"Di tempat duduk keramik yang tadi," jawab Son. "Makanya, kita kembal ke sana sekarang karena mereka sedang menunggu."


"Iya, aku akan kembali ke sana kalau kamu memenuhi permintaanku yang tadi," kata Aleena.


"Permintaan yang mana?" Son mengernyitkan alis. Dia tampak bingung.


"Obat yang tadi kuminta itu. Mau ya, Son?" tanya Aleena dengan wajah memelas seperti seorang pasien sedang menunggu tindakan seorang dokter mengobatinya. Mulai dari memeriksa detak jantungnya dengan stateskop, memberikan resep obat setelah pasien mengutarakan keluhan-keluhannya, lalu mengucapkan kata-kata yang menghibur, dan terakhir menuliskan resep obat atau memberikan obat langsung. Biasanya dokter dan pasien duduk berhadapan di meja dokter.


"Hahaha," tanpa.bisa ditahan, Son pun ketawa keras.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Aleena dengan wajah murung. Raut wajahnya kelihatan kecewa.


"Ya karena lucu sekali, Aleena!" jawab Son sambil terbahak. "Lukamu itu hanya luka lecet sedikit saja. Atau bahkan tidak lecet pun. Aku hanya mencengkeram lenganmu, tidak mencakar, mencubit, atau memukulnya seperti yang kamu lakukan pada Cyntia. Cyntia saja tidak meminta obat darimu. Masa kamu cuma lecet dan perih sedikit saja mau menyuruhku mengobatimu?" Son membesarkan matanya seperti sedang meledek Aleena.


Karena jengkel melihat ulah Son itu, Aleena pun segera menaikkan tangan kanannya untuk menjewer telinga kiri Son.


"Aduuuh... aduuuh...!" Son pun menjerit kecil. Kepalanya terpaksa mengikuti arah tarikan Aleena.


"Kejam sekali kamu, Aleena!" kata Son meniru ucapan Aleena tadi.


"Rasakan! Dasar bandel!" umpat Aleena.


* * *