
Bab 63
Hari kedua di sekolah.
Son berpapasan dengan Shania saat dia baru turun dari mobil di depan gerbang sekolah. Shania juga baru turun dari mobil dan berjalan mendekati Son.
Tom mengantarkan Son sampai di depan sekolah dengan berhenti sebentar di tepi jalan raya. Begitu juga dengan supir om-nya Shania yang mengantarkan Shania ke sekolah tiap pagi.
"Pagi, Wilson," sapa Shania dengan seulas senyum manis saat dia sudah berada di samping Son.
Son menatap Shania sejenak. Betapa manis dan lembutnya senyum Shania di pagi ini. Terasa ada aliran cinta nan hangat menjalari sanubari Son saat matanya menatap wajah dan senyum Shania.
"Pagi juga, Shania," balas Son.
Shania masih tersenyum sambil berjalan di sisi Son memasuki gerbang sekolah yang mulai ramai oleh murid-murid yang berdatangan.
"Kenapa, Wilson?" tanya Shania saat dia melihat wajah Son agak lain pagi ini.
"Son menoleh ke samping. "Apa?" tanya Son balik.
"Kenapa wajahmu lesu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Shania memperjelas.
"Hah?" Son tersadar lalu menghadirkan seulas senyum untuk mengusir kabut di wajahnya.
Shania pun bernapas lega saat melihat Son tersenyum. "Sepertinya kamu kurang tidur malam tadi," tebak Shania. "Mikirin pacar ya?" goda Shania.
"Hah? Apa?" Son tampak bingung.
Shania terkekeh geli. "Aku hanya bercanda, Wilson," katanya.
Mereka berjalan menyusuri lapangan sekolah menuju tangga yang terletak di bagian belakang.
Langkah mereka sampai di anak tangga. Keduanya melangkah bersama menaiki tangga menuju lantai 2 tempat di mana terletak kelas-kelas untuk murid-murid SMP kelas I sampai kelas III. Sedangkan lantai 3 adalah kelas-kelas untuk murid-murid SMA. Dan lantai 1 adalah kelas-kelas untuk murid-murid SD.
Shania dan Son sudah sampai di lantai 2. Keduanya berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas III SMP yang terletak di ujung setelah belok kanan dari tangga. Sementara belok kiri dari tangga adalah ruang kelas I SMP dan beberapa kantor guru, kantor kepala sekolah SMP, kantor administrasi. Ruang kelas II SMP ada di bagian kanan dari tangga juga.
Son dan Shania sudah sampai di ruang kelas mereka setelah berjalan menyusuri koridor yang sebelah kiri adalah tembok ruang-ruang kelas dan sebelah kanan adalah beton pembatas setinggi setengah badan yang bisa untuk melihat ke bawah atau ke lapangan sekolah.
Di lapangan sekolah terdapat taman dan arena untuk bermain basket, voli, dan beberapa olahraga lain yang digunakan murid-murid saat ada pelajaran Penjas.
Son dqn Shania mengambil tempat duduk di bangku masing-masing yang telah mereka pilih kemarin atau saat hari pertama sekolah di Tahun Ajaran Baru.
Shania duduk di bangkunya di barisan tengah, demikian juga Son yang duduk di belakang Shania.
Karena lonceng masuk belum berbunyi maka Shania membalikkan punggungnya ke belakang untuk melihat dan berbicara dengan Son. Kebetulan, Joseph yang duduk di samping Shania belum datang.
"Hari ini kita ada pelajaran Bahasa Indonesia lagi," kata Shania.
"Iya," jawab Son.
Shania memandang wajah Son yang kelihatan agak lesu. "Kamu kurang tidurkah?" tanya Shania.
"Hmmm?" Son menaikkan alisnya melihat Shania.
"Sori, aku cuma merasa ada sesuatu yang terjadi denganmu kemarin," kata Shania. "Kamu dimarahi papamukah? Atau...?"
Son menggeleng. "Nggak. Malam tadi aku ke pesta ulang tahun papa yang diadakan teman SMA-nya papa."
"Ohya?" Shania tertarik. Dia memperhatikan wajah Son, menunggu Son bercerita selanjutnya.
"Pestanya di kafe. Teman-teman SMA papaku yang datang," beri tahu Son.
"Oh, jadi pulangnya larut?" tanya Shania.
Son mengangguk. "Sekitar pukul 11 malam baru sampai di rumah."
"Oh...," Shania pun manggut-manggut.
Son tidak menceritakan pada Shania kejadian apa yang menimpanya malam tadi. Kejadian yang berkaitan dengan Aleena, keponakannya tante Feby.
Seandainya saja Shania tahu sudah ada gadis lain yang memeluk Son untuk yang pertama kali. Sudah ada gadis lain yang menggandeng tangannya dan dengan seenaknya mendekap punggung Son lalu menangis di bajunya. Pasti perasaan Shania akan bergejolak mengetahui kejadian itu. Apalagi jika Shania melihat sendiri siapa gadis itu. Dia masih gadis belia berusia 14 tahun dan sangat cantik seperti dirinya. Tapi dia sudah begitu berani dan lancang memperlakukan Son.
Bagaimanapun, Son tak mungkin bisa melupakan begitu saja bagaimana malam tadi Aleena memeluknya dan menangis di bajunya. Juga saat Aleena menggandeng tangannya dan merogoh kantong celana ponggolnya untuk mengeluarkan hp-nya. Semua itu dilakukan Aleena dengan tiba-tiba dan spontan hingga Son mau tak mau dibuatnya kaget dan kesal. Tapi juga ada perasaan lain selain itu. Yaitu berdebar.
Son tak bisa mentolerir keberanian dan kelancangan Aleena yang tidak pernah dijumpainya pada gadis-gadis lain seusianya yang pernah dikenalnya. Umur Son sudah 15 tahun. Dia bukan anak-anak lagi. Umur Aleena juga sudah 14 tahun. Usia di mana dia dan Aleena semestinya sudah akil baliq.
Walaupun Shania merasa Son menyembunyikan sesuatu yang tidak diceritakan pada dirinya, namun Shania tidak memaksa untuk mengetahuinya.
Shania berbalik kembali menghadap ke depan karena lonceng masuk barusan berbunyi dan dari pintu masuk dilihatnya 6 sekawan barusan datang juga ditambah Joseph yang berjalan ke arahnya.
Joseph duduk di samping Shania dan meletakkan tasnya ke dalam laci. Begitu juga 6 sekawan yang berjalan ke bangku belakang di barisan pertama dekat tembok dan duduk di sana.
Pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Indonesia seperti kemarin. Guru yang sama pun masuk untuk mengawali pelajaran pertama di hari ini.
* *