
Bab 89
Kelima teman sekelas: Shania, Joseph, Winy, Cyntia, dan Wilson duduk di ayunan yang ada di taman villa milik Tom Simon sambil berbincang-bincang. Sekarang mereka duduk di kelas III SMP dan memakai seragam putih biru. Tahun depan bakal naik ke kelas I SMA dan berseragam putih abu-abu. Begitu cepat waktu berlalu bagaikan anak panah melesat dari busurnya.
Kelimanya asyik berbincang-bincang sampai tak menyadari saat seseorang masuk melalui pintu gerbang yang terbuka sedikit karena tukang kebun sedang mengurusi rumput dan bunga yang tumbuh di depan villa Tom atau di bagian depan dari gerbang villa yang di dalamnya sedang ramai pengunjung yang adalah tamu-tamunya anak pemilik villa.
Seseorang yang masuk ke dalam villa melewati pintu gerbang atau pintu pagar tanpa permisi terlebih dahulu pada tukang kebun adalah seorang gadis belia berumur 14 tahun. Wajahnya cantik dan imut. Gerak-geriknya lincah. Dia masuk ke dalam villa layaknya villa milik sendiri langsung menerobos tanpa minta izin.
Tukang kebun yang sedang berjongkok di depan pintu gerbang sambil mengguntingi bunga dan rumput dengan gunting bunga dan gunting rumput tentu saja kaget sekejap. Sekilas ujung matanya menangkap sekelabat bayangan seseorang yang bertubuh imut melewati dirinya dan masuk ke villa.
Dengan tergesa-gesa, tukang kebun pun langsung bangkit dari jongkoknya dan berjalan mendekati pintu pagar.
Langkahnya yang tergopoh-gopoh tak sanggup mengejar atau mencegah orang itu masuk ke dalam karena gerakannya sangat cepat dan cekatan.
Tapi tukang kebun tahu itu bukan seorang penyusup berbahaya yang menyelonong masuk ke rumah orang tanpa permisi. Mungkin itu teman anak majikannya juga yang datang telat untuk kerja kelompok
Gadis belia bertubuh imut yang tampak lincah dan cekatan itu berjalan menyusuri taman lalu berhenti sejenak saat matanya melihat ada keramaian di atas ayunan yang ada di taman. Matanya menangkap ada 5 orang yang sebaya dirinya sedang duduk di atas ayunan yang berjarak sekitar 7 meter dari tempatnya berdiri. Dua cowok dan 3 cewek. Tapi yang utama, dia menangkap sosok yang sejak malam tadi terus mengusik pikiran dan hatinya. Yang tadi bicara dengannya di ponsel tapi lalu memutuskan pembicaraan karena katanya sedang kerja kelompok.
Gadis itu berjalan mendekati ayunan dengan beberapa langkah yang hati-hati. Entah kenapa hatinya bergemuruh saat langkahnya semakin dekat. Apalagi saat matanya melihat orang yang dipikirankannya sejak malam tadi sedang duduk di ayunan di samping seorang gadis cantik yang sebaya dirinya. Mungkin cuma lebih tua 1 tahun darinya
Langkah gadis belia sampai di samping ayunan. Dia berhenti menatap kelima orang yang duduk di atas ayunan dengan mata membesar karena rasa penasaran dan rasa ingin tahu.
"Halooo...!" sapanya tiba-tiba dengan suaranya yang nyaring dan keras.
Sapaannya itu cukup membuat Son dan keempat temannya yang sedang duduk di ayunan sambil berbincang-bincang terhenyak lalu menoleh ke samping untuk menatapnya.
Mereka: Shania, Joseph, Winy, dan Cyntia segera mengerutkan dahi melihat seorang gadis belia imut dan cantik sedang berdiri di samping ayunan di dekat mereka sambil mengedarkan pandangannya pada mereka semua.
Siapa gadis belia itu? Sejak kapan dia berdiri di samping ayunan? Tubuhnya yang imut bahkan hampir tak disadari kehadirannya kalau saja dia tidak bersuara atau menyapa.
Son juga menoleh ke samping. Gadis itu berdiri pas di samping kanannya. Gadis itu sekarang sedang memperhatikan dirinya yang duduk di samping Shania.
"Aleena...?" seolah tanpa sadar Son menyebut nama gadis itu.
Shania yang duduk di samping Son tercekat. Hatinya berdesir. Tatapan matanya kini bertemu dengan tatapan mata gadis imut yang berdiri di samping Son. Gadis itu menatap wajahnya dengan bola matanya yang tajam dan lekat seolah sangat penasaran dengan dirinya. Entah karena duluan ditatap gadis yang baru muncul itu sedemikian rupa atau karena memang tercekat dengan nama yang barusan disebutkan Son, Shania pun balas menatapnya dengan tajam dan penasaran.
* * *