
Bab 110
Shania, Son, Winy, dan Cyntia spontan menoleh ke arah datangnya suara.
Son mengerutkan kening. Aleena sudah berdiri di dekatnya, di samping pintu mobil kiri jok belakang.
Supir om-nya Shania yang bersiap-siap menjalankan mobil pun batal menginjak pedal gas karena mendengar seruan seorang gadis belia yang tiba-tiba muncul mencegah mobil untuk melaju.
"Aleena," Son menyebut nama Aleena dengan suara kecil. Matanya memandang was-was pada gadis belia yang sedang berdiri di samping kirinya.
Son melihat wajah Aleena seperti memancarkan gurat-gurat kekesalan. Mungkin karena Son membiarkannya menunggu sendirian di bawah pohon setelah kembali ke ayunan bersama Shania.
Setelah Aleena menunggu Son nggak balik-balik juga, tiba-tiba Aleena mendapati Son sedang bersama teman-teman sekelasnya masuk ke dalam sebuah mobil yang memasuki taman villa. Spontan saja Aleena berlari-lari kecil menyusul mobil itu.
"Tunggu dulu," ulang Aleena membalas tatapan Son dan balik melihat wajah teman-teman Son yang sedang memandangnya.
"Kenapa, Aleena?" tanya Son sambil matanya memandang lekat mata Aleena.
"Kalian mau ke mana?" tanya Aleena.
"Ke mal," jawab Cyntia yang duduk di samping Shania sambil melongokkan wajahnya ke samping kiri untuk melihat wajah Aleena.
Sementara Winy duduk di dekat jendela sebelah kanan dan di sebelah kanan Cyntia. Shania duduk di sebelah kiri Cyntia dan di sebelah kanan Son.
"Ke mal? Untuk apa?" tanya Aleena seperti orang linglung.
"Ya jalan-jalanlah," jawab Winy cepat.
"Oh, aku ikut!" kata Aleena tiba-tiba.
Son mengernyitkan alis. Begitu juga Shania, Cyntia, dan Winy yang spontan menganga mendengar kata-kata Aleena.
"Wah, mobilnya nggak muat nih," kata Joseph yang duduk di jok depan di samping supir.
Joseph menoleh ke belakang kanan kemudian ke belakang kiri untuk melihat Aleena yang sedang berdiri di samping kiri Son di dekat pintu mobil sebelah kiri.
"Iya, mobilnya nggak muat," kata Shania. Dia menatap wajah Aleena dengan perasaan was-was. Entah kenapa hatinya tidak tenang melihat Aleena tiba-tiba muncul lagi di antara mereka dan bilang ingin ikut mereka ke mal.
"Nggak apa-apa, aku dipangku saja," kata Aleena.
"Hah? Dipangku?" Cyntia, Winy, dan Shania spontan terperanjat. Begitu juga Son. Seperti ada dentuman kecil yang meledak di hatinya. Membuatnya berdebar.
"Dipangku bagaimana maksudmu?" Tanya Cyntia cepat. Dia memang kurang mengerti maksud Aleena. Bagaimana mungkin Aleena yang sudah remaja dan bukan anak-anak lagi bisa dipangku di dalam mobil yang sudah full penumpang? Itu adalah hal yang aneh, pikir Cyntia. Lagipula, siapa yang akan atau mau memangku Aleena yang notabene cukup berat bagi teman-teman seusianya atau bagi mereka?
"Ya, aku duduk di samping Son saja!" kata Aleena tiba-tiba.
Setelah berkata begitu, Aleena langsung mendorong tubuh Son lebih ke kanan hingga tak sengaja tubuh Son pun menubruk tubuh Shania yang duduk di samping kanannya. Dan itu membuat Shania terpaksa dengan cepat menggeser atau merapatkan duduknya ke arah Cyntia dan Winy hingga menyebabkan Winy yang duduk di dekat pintu mobil sebelah kanan pun menjerit, "Aduh! Sudah sempit nih! Jangan dorong-dorong lagi!" suaranya terdengar kesal.
Cyntia yang duduk di samping kiri Winy pun menyelutuk keras, "Mana kutahu! Shania yang geser-geser terus ke sini!"
Shania terpaksa menggeser duduknya merapati Cyntia yang duduk di sebelah kanannya karena Son yang duduk di sebelah kirinya sudah demikian rapat dengan tubuhnya gara-gara didorong terus oleh Aleena dengan paksa supaya dirinya bisa mendapatkan tempat duduk di samping kiri Son.
* * *