
Bab 27
Akhirnya selesai juga Kathy memakan nasi berikut lauk yang ada di piring itu.
Jessica mengambilkan secangkir air putih untuk Kathy dan menyodorkan padanya.
Kathy meletakkan piring yang sudah kosong itu ke atas tikar lalu menerima air putih yang disodorkan Jessica.
"Makasih, Jes," kata Kathy sebelum meminum air putih yang disodorkan Jessica.
"Syukurlah, akhirnya Bu Kathy bisa makan dengan lahap. Aku turut senang melihatnya," kata Jessica sambil mengembuskan nafas lega.
"Iya, sekarang aku merasa agak baikan," kata Kathy. "Ohya, di mana Son dan Elen?" tanyanya.
"Sepertinya mereka di sana, Bu Kathy," jawab Jessica sambil menunjuk ke satu arah di kejauhan yang adalah tepi pantai. "Tadi aku melihat mereka dari sini. Sekarang nggak tampak lagi," Jessica mencoba mencari-cari dengan bola matanya namun Son dan Elen tak kelihatan lagi.
"Oh, ya, nggak apa-apa, Elen pasti menjaga Son dengan baik di mana pun itu," kata Kathy sambil berusaha tersenyum.
"Bu Kathy nggak apa-apa? Benaran sudah agak baikan?" Jessica memicingkan mata memperhatikan raut wajah Kathy lebih teliti.
"Iya, Jes. Aku sudah baikan. Emangnya kenapa?" tanya Kathy.
"Aku cuma merasa rona wajah Ibu sangat pucat," jujur Jessica.
"Ah, iyakah?" Kathy menyentuh wajahnya sendiri dan merasakannya dengan jari-jari tangannya.
Memang wajahnya terasa hangat. Barangkali dia memang demam karena tubuhnya agak meriang. Jangan-jangan demamnya sudah di atas 38 derajat celsius hingga meriang.
"Kenapa? Bu Kathy demamkah?" tanya Jessica heran melihat Kathy yang seperti menggigil.
"Iya..., sepertinya...," jawab Kathy dengan suara terpatah.
Sehabis makan sebenarnya Kathy sudah merasa baikan karena perutnya yang keroncongan telah terisi. Namun entah mengapa sekarang dia merasa mual ditambah berkeringat dingin.
"Bu Kathy kenapa?" Jessica menjadi khawatir melihat gelagat yang ditunjukkan Kathy.
Jessica segera mencari sepotong kain lap dalam tas travel yang tadi dibawa Elen. Barangkali Elen ada membawa serta kain lap. Ternyata memang ada. Jessica segera menarik keluar kain lap dari dalam tas travel itu dan menggunakannya untuk mengelap keringat yang bercucuran di kening Kathy.
"Aku merasa panas dingin," kata Kathy sambil memeluk kedua lengannya di depan dada.
"Oh, Ibu demamkah?" Jessica meraba kening Kathy. "Wah, panas sekali, Bu!" seru Jessica di antara kaget dan takut. Dia cemas terjadi apa-apa pada Kathy saat tidak ada orang lain di samping mereka. Aduh... ke mana Elen dan Son? Kenapa belum balik juga? Jessica berkata-kata sendiri dalam hati.
Kathy terus menggigil. Bahkan kini bibirnya bergetar dan membiru.
"Waduh, Ibu kenapa?" Jessica menjadi sangat khawatir. "Tunggu, Bu, aku cari obat dulu dalam tas travel ini. Biasanya Bu Elen selalu menyediakan segala sesuatu yang diperlukan Son saat ke mana-mana. Barangkali dia ada membawa obat juga."
Jessica segera menggeledah isi tas travel yang dibawa Elen dari rumah tadi. Tidak ada obat terselip di bagian tempat menaruh baju handuk dan kain lap untuk Son. Ohya, barangkali di ritlesting depan, Jessica segera mencarinya di bagian depan dan benarlah ada satu strip obat yang sepertinya obat demam atau obat apa.
"Ini, Bu Kathy. Makan obat ini saja. Pasti ini obat demam atau obat mual yang disediakan Elen untuk Son," kata Jessica sambil mencongkel plastik pembungkus obat itu dan mengambil sebutir lalu memberikannya pada Kathy.
Semoga saja ini memang obat demam atau obat mual karena setahu Jessica, Elen selalu membawa obat demam untuk Son saat mereka bepergian cukup jauh atau ke luar kota.
Kathy segera menerima sebutir obat yang disodorkan Jessica itu dan nenaruhnya ke dalam mulut.
Jessica membantu Kathy mengambil cangkir air minum yang masih bersisa sedikit dan menyerahkannya pada Kathy.
Obat itu pun ditelan Kathy bersama sedikit air putih.
"Sebaiknya Ibu berbaring saja," kata Jessica. "Sini aku bantuin Ibu lap keringatnya."
Jessica menuntun Kathy untuk berbaring di atas tikar. Setelah itu dia melap keringat di kening majikannnya itu "Cobalah untuk tidur, Bu, supaya obatnya bekerja lebih efektif," kata Jessica.
Kathy memejamkan mata, mencoba untuk tidur lagi. Dia berharap setelah bangun dari tidur keadaannya akan lebih baik. Iya, semuanya akan baik-baik saja karena dia sudah memakan obat demam yang diberikan Jessica tadi. Kathy menghibur dirinya sendiri supaya hatinya lebih tenang. Tak lama kemudian dia berhasil terlelap kembali.
Jessica duduk berjaga-jaga di samping Kathy sampai Elen dan Son kembali ke pondok. Keduanya tidak tahu apa-apa karena sedari tadi bermain-main di tepi pantai dengan riang gembira. Bahkan mereka tak berpikir kalau Kathy barusan melewati masa-masa yang sulit.
"Mama masih tidur?" Son yang pertama bertanya saat melihat mamanya masih berbaring di atas tikar.
"Tidak, Son. Tadi mamamu sudah bangun sebentar untuk makan nasi dan minum obat Setelah itu dia tidur lagi," beri tahu Jessica.
"Kathy minum obat?" tanya Elen pada Jessica.
Jessica mengangguk. "Iya, aku mencari-cari obat di tas travel yang Bu Elen susun tadi dan menemukan satu strip obat berwarna putih. Itu obat demam kan, Bu Elen?" Jessica menunjukkan satu strip obat yang dimaksudnya yang ditaruhnya di samping piring.
"Obat demam?" Elen mengerutkan kening. "Itu bukan obat demam. Itu obat alergiku!" sentak Elen mengejutkan Jessica.
"Ah, masa?" Jessica segera mengalihkan pandangannya pada Kathy yang sedang tertidur lelap. "Tapi Bu Kathy jadi lebih baikan setelah makan obat ini tadi. Dia tidak meriang atau menggigil lagi atau berkeringat dingin."
"Oh, iyakah?" Elen tampak terkejut. "Jadi kamu memberinya obatku itu?" tanya Elen memperjelas.
Jessica mengangguk. "Apakah berbahaya karena dia salah minum obat?"
Elen menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku bawa obat alergi itu karena aku alergi sama angin laut dan air laut," jelas Elen.
"Jadi?" Jessica pun bingung.
"Jadi? Apa maksudmu? Ya kita lihat saja nanti. Semoga tidak apa-apa," jawab Elen lalu memandang Son.
Son sudah duduk di atas tikar dalam pondok. Matanya silih berganti memandang pada Elen dan Jessica lalu berpindah pada Kathy. Dia memperhatikan ekspresi wajah Elen dan Jessica yang bercakap-cakap. Dia juga mendengarkan dengan cermat apa yang dikatakan oleh Elen dan Jessica. Tentu saja, karena yang mereka perbincangkan adalah mamanya dan kondisi kesehatannya jadi Son merasa harus memperhatikan dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
* * *