
Bab 133
"Gimana?" tanya Joseph sambil melihat Son.
"Panggilan masuk tapi nggak dijawab," jawab Son. Wajahnya tampak khawatir. Dia cemas sesuatu terjadi pada Aleena.
"Kok begitu?" tanya Winy.
"Iya, kok begitu?" timpuk Cyntia.
"Jadi gimana?" tanya Shania.
Teman-teman Son melihat Son yang sedang kebingungan karena panggilannya ke ponsel Aleena masuk tapi nggak dijawab. Sudah pasti Son merasa khawatir karena dia melakukannya sebanyak 3 kali tapi tak berhasil juga.
"Apa mungkin ponselnya tercecer?" tanya Winy sambil memasang wajah penuh tanya.
"Iya, mungkin saja ponselnya terjatuh tanpa disadari," tebak Cyntia. "Kalau nggak kan pasti dijawab. Apalagi panggilan dari Wilson. Dari tadi waktu kita di taman pun kulihat Aleena tertarik pada Wilson. Karena nggak mungkin seorang wanita tak mau menggubris atau menjawab telepon dari pria yang disukainya."
"Iya, kulihat tadi sikapnya pada Wilson juga begitu," kata Winy. "Mulai dari waktu kita duduk di atas ayunan, terus waktu Wilson menarik tangannya ke bawah pohon. Kemudian waktu dia memaksa naik ke dalam mobil ikut kita ke mal ini. Kalau bukan karena dia suka pada Wilson, nggak mungkin dia berbuat hal-hal.yang aneh seperti itu."
"Iya, apalagi tadi sewaktu kita jalan-jalan di mal ini. Dia lengket terus dengan Wilson. Bahkan sengaja mengambil gelas minuman Wilson dan menyeruput minuman itu dari bekas pipet Wilson juga," kata Joseph.
"Kalau seorang wanita tidak menyukai seorang pria, dia tak mungkin mau melakukan hal itu," kata Cyntia.
"Iya, betul. Kalau aku jadi Aleena, aku juga tidak akan melakukan hal-hal konyol seperti yang dilakukan oleh Aleena itu kalau untuk seorang pria yang sama sekali tidak penting bagiku. Memboroskan waktu saja," setuju Winy.
Shania mendengarkan pendapat Winy dan Cyntia. Dia sependapat dengan kedua temannya itu kalau Aleena menyukai Son. Tapi kenapa Aleena tidak mau menjawab panggilan masuk dari Son?
Joseph, Winy, Cyntia, dan Shania terus mempertanyakan hal tersebut. Menurut mereka, sudah jelas dari gerak-gerik, tingkah laku, dan apa yang dilakukan Aleena itu menunjukkan kalau Aleena tertarik pada atau menyukai Son. Lalu kenapa dia tak menjawab panggilan masuk dari Son? Pasti bukan karena tak mau, melainkan karena ada sesuatu hal yang terjadi padanya. Kalau bukan padanya, mungkin pada ponselnya. Ya bisa jadi ponselnya tercecer atau terjatuh tanpa disadarinya sehingga dia tak mengetahui atau tak bisa menjawab panggilan masuk dari Son.
"Lalu bagaimana sekarang? Kita cari diakah sebelum pulang ke rumah?" tanya Joseph. Dia menatap ketiga temannnya, yaitu: Shania, Winy, dan Cyntia. Terakhir dia juga menatap Son.
"Iya, gimana sekarang?" tanya Winy.
Cyntia mengangkat bahu. "Aku nggak tahu," jawab Cyntia pada Winy yang menoleh sejenak padanya. "Kita tanya Shania atau Wilson saja gimana baiknya."
Joseph tampak berpikir-pikir sejenak. "Aku rasa, kita harus mencarinya sampai ketemu
Tidak boleh meninggalkannya sendirian di mal ini karena tadi kan kita datang sama-sama. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Dia itu hanya seorang gadis belia."
"Iya, aku juga tidak tega," kata Winy. "Walaupun dia hampir menonjok wajahku," Winy memegang wajahnya yang mulus.
"Hmm... betul juga ya. Aku jadi tidak tega juga walaupun dia sudah mencakar dan melukai tanganku," Cyntia manggut-manggut. "Lebih baik kita tunggu atau cari dia sampai ketemu baru kita sama-sama pulang ke rumah. Nggak boleh membiarkannya tercecer atau tertinggal sendirian di mal ini."
"Iya, aku setuju," Joseph pun manggut-manggut seperti Cyntia.
Sekarang, tinggal menunggu pendapat Shania. Maukah Shania menunggu Aleena balik atau ikut mencari Aleena sampai ketemu seperti kehendak Son, Winy, Cyntia, dan Joseph?
* * *