Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Tom Simon Pulang dari Kantor



Bab 150


Son dan Aleena duduk berbincang-bincang di ayunan sekitar 15 menit. Aleena duduk di depan Son dan berceloteh tentang banyak hal. Dan Son mendengarkan celotehan Aleena.


"Wah, sebentar lagi papaku pulang," kata Son.


"Oh iyakah? Sudah jam berapa ini?" tanya Aleena.


"Hampir jam 6 sore," jawab Son dengan mengira-ngira. "Biasanya papaku sampai di rumah sebelum jam 6. Ya sekitar setengah enam sorelah."


"Ya nggak apa-apa kalau papamu pulang. Kan aku bisa menyapanya. Lagian, papamu kan sudah kenal aku juga," kata Aleena.


Son menarik nafas panjang dan mengembuskannya.


Seperti kata Son, tak lama kemudian papanya Son yaitu Tom Simon pulang dari kantor. Mobil yang dikendarainya memasuki taman villa dan parkir di depan pintu masuk utama.


Tom Simon keluar dari dalam mobil dengan menenteng tas kerjanya lalu menutup pintu mobil. Saat dia hendak melangkah menuju pintu masuk, secara tak sengaja matanya menoleh ke arah ayunan dan melihat anaknya Son sedang duduk di ayunan bersama seorang gadis belia yang dikenalnya adalah Aleena, keponakan dari teman SMA-nya, Feby.


Melihat papanya sudah pulang dan menoleh ke arahnya, Son pun segera turun dari ayunan dan berjalan cepat menuju Tom Simon tanpa mengajak Aleena.


Aleena yang melihat Son turun dari ayunan tanpa berkata apa-apa atau tanpa mengajaknya pun segera berseru, "Hei, Son! Kamu mau ke mana? Kok nggak ajak aku?"


Sambil berkata begitu, Aleena ikut Son turun dari ayunan dan menyusul langkah Son menuju papanya.


"Iya, sore," jawab Tom Simon. Matanya melirik Aleena yang menyusul Son di belakang dan akhirnya sampai di depan Tom Simon juga. Dia berdiri di samping Son.


"Wah, bukankah ini Aleena? Keponakannya Feby yang di kafe malam tadi?" tanya Tom Simon begitu melihat Aleena.


Aleena merasa surprais karena papanya Son ternyata masih mengingatnya bahkan mengingat namanya. Padahal dia bertemu dengan Tom Simon baru malam tadi dan cuma sekali. Tapi Tom Simon dengan mudah dan cepat bisa mengingatnya. Berarti, Aleena cukup penting bagi Tom hingga bisa diingat walaupun cuma bertemu sekilas dan sekali.


"Iya, betul sekali, Om. Aku Aleena, keponakannya Tante Feby. Surprais karena Om mengingatku dengan cepat bahkan mengingat namaku," jawab Aleena sambil tersenyum senang.


"Ya sudah tentulah aku ingat kamu, Aleena. Kamu gadis yang cantik, lembut, imut, lincah, dan ramah. Namamu juga indah, Aleena," kata Tom Simon sambil melempar seulas senyum ramah pada Aleena.


Wah, wah. Son hampir tak pernah menerima senyum yang begitu ramah dan lepas dari papanya. Tom Simon jarang sekali tersenyum pada Son apalagi tersenyum ramah seperti pada Aleena hingga Son pun merasa ada yang kurang dari sikap papanya terhadapnya.


Tom Simon bersikap keras dan kaku pada Son. Dia memperlakukan Son seperti seorang dosen memperlakukan seorang mahasiswa. Tegas dan memerintah untuk mengerjakan tugas-tugas. Kalaupun tersenyum, itu lebih mirip senyum formal atau senyum resmi. Bukan seperti senyum lembut atau senyum sayang seorang ayah pada anaknya.


Ajaib, Aleena bisa membuat Tom Simon menghadiahkan sebuah senyum ramah untuknya. Bahkan senyum itu terkesan lembut dan sayang.


Son melihat papanya. Dia seolah-olah hendak protes tapi tak berani. Alhasil dia hanya diam saja sambil memperhatikan papanya dan Aleena saling melempar senyum ramah dan lembut.


* * *