
Bab 77
Shania membelalakkan mata. Apa kata Son barusan? Cowok itu bilang tak harus memeluk dirinya di saat Shania bukan siapa-siapanya. Kalau begitu, kenapa Son menulis adegan itu di naskah drama? Apa maksudnya? Shania sama sekali tak mengerti.
"Oh, begitu...," Shania yang tak paham cuma mampu membalas singkat tapi diiringi helaan napas panjang.
"Tidak semua yang kita lakukan harus sesuai yang kita tulis," kata Son mencoba menjelaskan. "Tidak semua yang kita pikirkan harus kita lakukan."
"Maksudnya?" Shania menatap Son dengan tatapan tak mengerti.
Son diam. Dia merasa sudah menjelaskan. Tapi kenapa Shania tidak mengerti juga? Apakah seseorang yang sedang kesal atau jengkel akan sulit mencerna apa yang dikatakan orang lain?
"Oh... aku mengerti," potong Shania tiba-tiba.
"Iya. Apa?" tanya Son cepat. Dia penasaran apakah Shania benar-benar sudah bisa menangkap maksudnya.
"Yang harus kamu peluk itu adalah seseorang yang sudah resmi menjadi pacarmu. Betul kan, Wilson?" tebak Shania.
Son terpaku. Tak tahu harus menjawab apa.
"Iya, pasti itu maksud Wilson. Karena Wilson bilang dia tidak harus memeluk Shania di saat Shania bukan siapa-siapanya. Walaupun Shania temannya itu juga termasuk bukan siapa-siapanya. Jadi yang dimaksud Wilson siapa-siapanya itu adalah apabila Shania itu kekasihnya atau pacarnya. Itu kan maksudmu, Wilson?" tanya Winy.
Shania, Winy, Cyntia, dan Joseph menatap Son sama-sama untuk mendengar jawabannya dan menunggu penjelasannya. Benar atau tidak apa yang dikatakan Winy itu.
Karena merasa keempat temannya sedang mendesaknya, Son pun menjawab singkat tanpa berpikir panjang lagi, "Iya."
"Oh...," mereka sama-sama bergumam panjang.
"Oh..., kalau begitu gampang saja," kata Joseph tiba-tiba. Dia seperti menemukan ide. "Wilson jadian saja dengan Shania hari ini jadi bisa memeluk Shania seperti yang ditulisnya di naskah drama."
Sementara Winy dan Cyntia surprais dengan usul Joseph, Shania dan Son malah berdebar.
"Seph, kamu jangan membuat Wilson jadi serba salah. Mungkin saja dia sudah punya pacar," kata Shania pura-pura protes dan keberatan atas usul Joseph. Tapi sebenarnya Shania ingin tahu juga apakah Son sudah punya pacar sehingga enggan memeluknya.
Shania menatap Son lekat-lekat. Seolah meminta jawaban tegas.
"Iya, Wilson. Apakah benar yang dikatakan Shania itu? Kamu sudah punya pacar ya?" tanya Cyntia.
Lagi-lagi keempat temannya menunggu jawaban Son.
Sebelum Son sempat menjawab, ponselnya yang berada di saku celana ponggolnya tiba-tiba berbunyi.
Son pun menunda jawabannya untuk merogoh ponsel yang berada di saku celana ponggolnya dan melihat nama si pemanggil.
Panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal yang berakhiran 52.
"Halo?" Son pun menjawab panggilan masuk itu.
Tak terdengar jawaban dari seberang sana.
"Halo?" jawab Son lagi. Kali ini dia menyetel atau menekan tombol louds di ponselnya supaya suara orang yang menelepon dari seberang sana bisa terdengar lebih jelas.
"Son? Wilson?" kali ini terdengar jawaban dari seberang sana. Suara seorang cewek yang sebaya Son.
* * *