
Bab 50
Son berusaha mengerjakan PR Matematika yang diberikan ibu guru tadi. Walaupun agak sulit tapi dia berusaha menyelesaikannya. Dan akhirnya selesai juga 5 soal dalam waktu setengah jam.
Setelah itu Son mengambil buku catatan Bahasa Indonesia dan buku catatan Bahasa Inggris. Dia mengulang kembali bahan pelajaran yang tadi diajarkan di sekolah. Tak lupa juga buku cetak dibaca-bacanya kembali untuk mengingat materi di dalamnya bila sewaktu-waktu ada ujian.
Selesai belajar dan mengerjakan PR, Son beranjak dari meja belajarnya dan berjalan beberapa langkah menuju ranjangnya lalu membaringkan diri di situ.
Rasanya dia ingin tidur sejenak menyegarkan pikirannya yang penat. Namun sebelum matanya terpejam, bayangan wajah dan senyum Shania tiba-tiba hadir di pelupuk matanya.
Son cepat-cepat memejamkan matanya untuk menghilangkan bayangan itu. Namun walaupun bayangan itu sirna dari pelupuk matanya tapi hadir di pikirannya.
Umur Son sudah 15 tahun. Begitu juga Shania. Sudah saatnya bila Shania dan Son mengenal apa itu cinta.
Son tidak pernah pacaran sebelumnya. Shania juga tidak. Walaupun sewaktu di kelas yang lebih rendah banyak lawan jenis yang menyukai mereka, tapi keduanya tak pernah memasukkan ke hati. Tidak ada perasaan spesial. Apalagi sampai hati berdebar dan bergetar plus jantung berpacu dan bergemuruh. Sama sekali tidak pernah ada efek yang seperti itu sebelumnya. Tadi adalah yang pertama kali bagi Son dan Shania merasakan itu.
Son memejamkan mata dengan bayangan Shania yang mengisi pikirannya. Semua kejadian di sekolah tadi terkilas balik di benaknya. Juga saat di depan gerbang sekolah dan di dalam mobil. Tidak ada yang luput dari benaknya.
Setelah beberapa saat bayangan Shania hadir di pikirannya bersama dengan kilas balik kejadian tadi, Son pun jatuh tertidur dan terlelap dibuai mimpi.
Sore jam 16.30 Son terbangun. Dia bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar lalu berjalan menuju tangga. Setelah menuruni anak tangga, Son sampai di lantai 1.
Elen yang berada di ruang tamu melihat Son yang barusan turun dari tangga.
"Sudah selesai belajar dan tidur siangnya, Son?" tanya Elen sambil tersenyum.
Son mengangguk. Dia berjalan menuju sofa lalu duduk di depan Elen.
Elen tahu apa saja kegiatan Son sehari-hari karena Elen satu-satunya di rumah ini yang terus mendampingi Son mulai dari dia bayi sampai remaja berusia 15 tahun.
"Papa belum pulang," kata Son sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Belum," jawab Elen. "Masih 1 jam lagi."
Tom pulang dari kantor pukul 17.00 sore. Perjalanan dari kantor menuju rumah 1/2 jam pada saat arus lalu lintas macet dan 20 menit saat arus lalu lintas lancar.
Jam-jam segini tukang masak sedang memasak makan malam untuk penghuni rumah. Setelah Tom sampai di rumah, dia mandi dan beristirahat sebentar sebelum tiba jam makan malam pukul 19.00 WIB.
Biasanya Son dan Elen menunggu Tom pulang dari kantor sambil mengobrol di ruang tamu atau berjalan-jalan sore di taman.
Ada ayunan yang bisa dijadikan tempat bersantai dan kolam ikan yang bisa dijadikan tempat memandang sambil menikmati angin sore.
Kita jalan-jalan ke taman, Son?" ajak Elen.
Son mengangguk. "Boleh juga, Elen," jawabnya.
Son duduk di tepi kolam ikan sambil memandangi ikan-ikan yang berenang di sana. Elen duduk di dekatnya.
"Ikannya sudah semakin besar," kata Elen.
"Iya, semakin cantik juga," kata Son.
"Ohya?" mendengar kata cantik yang diucapkan Son, Elen tiba-tiba memiliki akal untuk menanyai Son perihal teman sekolah cewek yang memberi tumpangan mobil tadi.
"Temanmu yang tadi namanya Shania ya?" tanya Elen tiba-tiba.
"Siapa?" Son terpana.
"Yang tadi kamu ikut mobilnya," jawab Elen.
"Oh, iya, Shania," kata Son.
"Cantikkah, Son?" tanya Elen lagi dengan tatapan mata penasaran.
"Cantik? Iya, tentu saja cantik, Elen," jawab Son sambil mengangguk.
"Ups!" Elen tersenyum lebar. "Aku jadi penasaran. Kapan-kapan kamu ajak dia ke sini ya, Son. Aku ingin melihatnya," pesan Elen.
"Untuk apa?" Son heran.
"Untuk mengenalnya lebih dekat," jawab Elen. "Karena dia sudah begitu baik padamu, aku jadi penasaran ingin melihatnya dan mengenalnya lebih dekat."
Son tersenyum sekilas.
"Kenapa kamu tersenyum, Son?" tanya Elen. "Kamu suka sama diakah?" selidik Elen.
Son merasa wajahnya merona merah ditanyai begitu. "Elen ada-ada saja," katanya lalu menunduk. Pura-pura mencermati ikan-ikan di kolam padahal sedang berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya yang malu.
"Nggak apa-apa, Son. Kamu sudah besar. Usia 15 tahun sudah boleh menyukai seorang gadis," kata Elen.
Elen bisa merasakan kalau Son memang menyukai temannya yang bernama Shania itu karena wajahnya kelihatan senang dan jengah saat nama Shania disebut.
"Kami baru kenal," kata Son. "Kebetulan saja dia mau memberi tumpangan karena mendengar papa bilang tak bisa menjemputku," alasan Son tanpa menatap Elen. Dia seperti takut Elen bisa membaca isi hati dan pikirannya.
"Oh, iyakah?" Elen tersenyum maklum. Barangkali Son masih malu mengakui perasaannya yang memang menyukai gadis bernama Shania itu, pikir Elen.
Reaksi Son membuat Elen semakin penasaran akan gadis yang bernama Shania.
* * *