Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Elen Menanyai Son Perihal Temannya



Bab 48


Setelah menempuh perjalanan setengah jam, akhirnya mobil yang dikendarai abang supir sampai di kompleks pervilaan.


Abang supir mengarahkan mobilnya memasuki gerbang kompleks dengan melewati pos satpam.


Karena pak satpam yang menjaga pintu gerbang belum pernah melihat mobil itu sebelumnya dan tidak mengenali pemiliknya, maka dia bertanya ada keperluan apa memasuki kompleks.


Abang supir menjelaskan kalau dia hendak mengantar teman sekolah keponakan majikannya yang rumahnya di dalam kompleks.


Son menoleh sejenak kepada pak satpam saat jendela kaca mobil di sampingnya dibuka oleh abang supir.


Pak satpam yang mengenali Son adalah putra dari Tom pun mempersilakan mobil itu lewat.


Abang supir menutup kembali jendela kaca mobil dan melajukan mobilnya menuju arah yang diberi tahu Son.


Sekitar beberapa menit mobil pun sampai di depan villa Tom.


Son mengucapkan terima kasih pada abang supir dan Shania sebelum turun dari mobil. Setelah itu dia berjalan memasuki pintu gerbang yang dibuka oleh tukang kebun.


Mobil yang dikendarai abang supir berbelok ke arah semula menuju pintu gerbang. Saatnya abang supir mengantar Shania pulang ke rumah om-nya.


"Temanmu pendiam sekali," kata abang supir.


"Iya, Bang," jawab Shania. "Dia murid baru di kelasku."


"Oh," abang supir pun tidak berkata apa-apa lagi dan melajukan mobilnya menuju rumah om-nya Shania yang adalah majikannya.


Sementara Son yang sudah memasuki pintu gerbang villa berjalan melintasi taman yang ditumbuhi pepohonan dan bebungaan. Juga ada ayunan dan kolam ikan di sana.


Langkah Son sampai di pintu masuk utama. Di saat yang bersamaan, Elen datang dari arah dalam dan menyambut kepulangan Son dengan senyum lega.


"Kamu sudah pulang, Son," kata Elen. "Tadi papamu meneleponku memberi tahu dia tak bisa menjemputmu pulang siang ini. Ternyata kamu sudah pulang sendiri. Syukurlah."


"Aku ikut mobil teman," kata Son sambil melangkah masuk setelah menaiki 2 anak tangga di depan pintu masuk.


"Oh, ada teman yang kamu kenalkah di sekolah?" tanya Elen surprais.


Pertanyaan.yang sama seperti yang dilontarkan Tom pada Son tadi. Seolah-olah sama-sama heran Son punya teman di sekolah yang mau mengantarnya pulang. Tentu saja, karena mereka menyadari Son adalah anak remaja yang pendiam dan tak bakalan menyapa orang duluan. Jadi bagaimana dia bisa membuat orang lain mau mengantarnya pulang? Siapa temannya itu? Apakah teman lama di sekolah lama yang sama-sama pindah ke sekolah baru? pikir Elen.


"Iya, teman sekelasku," jawab Son yang sudah ada di ruang tamu.


"Teman lama atau teman baru, Son?" Elen memperhatikan Son melepaskan tas sekolahnya dari belakang punggungnya dan menaruhnya di meja ruang tamu.


"Laki-laki atau perempuan, Son? Kenapa dia baik padamu walaupun barusan kenal?" Elen merasa penasaran. Dia mengikuti langkah kaki Son menuju ruang dapur untuk mencuci tangannya di bak cuci piring.


"Perempuan," jawab Son.


"Wow!" Elen merasa takjub.


Langkah Elen sampai di ruang dapur. Dia segera menyendokkan nasi putih untuk makan siang Son. Setelah itu dia membawanya ke meja makan dan menunggu Son selesai mencuci tangannya.


Son mendekati meja makan setelah mencuci tangannya. Dia duduk di kursi makan dan mengambil lauk yang ada di atas meja. "Kamu sudah makan, Elen?" tanya Son sebelum makan.


"Belum, Son," jawab Elen. "Aku tunggu kamu selesai makan baru aku makan."


Son pun mulai mencicipi nasi dan lauk di depannya. Dia tak mengerti, kenapa Elen selalu harus menunggunya selesai makan baru dia makan? Baik pagi, siang, maupun malam Elen selalu begitu. Bahkan dia masih duduk di meja tersendiri mencicipi lauk yang dikhususkan untuknya oleh tukang masak di villa Tom.


Seharusnya Elen bisa duduk sama-sama dengan Son di meja makan besar yang diperuntukkan bagi majikan dan anak majikan di villa Tom. Toh setelah kepergian Kathy, mamanya Son, meja makan besar itu jadi sepi. Hanya tinggal Tom dan Son saja yang menggunakannya. Padahal dulu sewaktu papa dan mama Tom masih ada, ditambah mama Son, meja makan itu selalu ramai. Sekarang seolah ditinggal pergi para pengguna setianya. Menyisakan 2 orang pemilik rumah, Tom dan Son.


Elen masih menjaga peraturan yang dia buat sendiri di villa Tom, yaitu meja makan untuk majikan, untuk kepala pelayan, dan untuk para pelayan di villa Tom tidak sama.


Mengingat Elen yang sudah 20 tahun lebih bekerja di villa Tom mulai dari generasinya kakek dan nenek Son, semestinya Elen tak perlu lagi mematuhi peraturan seperti itu. Elen sudah bisa dianggap seperti keluarga sendiri karena sudah lama sekali mengabdi pada keluarga Tom.


Elen menunggu Son selesai makan sambil duduk-duduk di meja makannya sendiri. Setelah dilihatnya Son sudah menghabiskan makanannya, Elen pun bangkit dari kursinya dan membereskan piring beserta hidangan di atas meja.


Saat Elen melihat Son selesai meneguk minumannya, Elen pun bertanya, "Tadi kamu bilang diantar pulang sama mobil teman yang sekelas denganmu. Iya, Son?" tanyanya.


"Iya," jawab Son.


"Perempuan?" tanya Elen lagi.


"Iya, cewek. Dia duduk di depanku," kata Son.


"Oh, siapa namanya Son? Kamu yang bilang mau menumpang mobilnyakah?" tanya Elen penasaran.


"Shania. Namanya Shania. Nggak, dia dengar papa meneleponku bilang nggak bisa jemput jadi dia ajak aku naik mobil om-nya saja. Supirnya yang mengantarku," cerita Son.


Elen pun manggut-manggut. "Mobil om-nya?" Elen merasa ada jawaban yang belum lengkap.


"Iya, Elen. Dia menumpang di rumah om-nya karena rumah papa mamanya ada di luar kota," jawab Son.


* * *