Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Debat Joseph, Winy, dan Cyntia



Bab 81


"Betul, kalau begitu ending ceritanya tidak usah diubah," kata Winy. "Biarkan saja Shania tetap bersama Joseph yang berarti Wilson menghargai keputusan Shania menerima Joseph karena dia tahu Shania ingin menjadi anak yang berbakti kepada orangtua. Dia juga tahu membangkang perintah orangtua adalah awal dari menjadi anak durhaka."


"Betul. Berarti cinta itu harus mengalah. Cinta itu tidak selau harus menang," setuju Joseph.


"Berarti cerita Romeo dan Juliet yang ada di film itu tidak terjadi di kehidupan nyata," kata Cyntia yang merasa kecewa.


"Cinta yang romantis dan cinta yang menang atau mengalahkan segalanya itu hanya ada di cerita-cerita fiksi atau di film-film. Sedangkan di kehidupan nyata pada akhirnya cinta itu harus mengalah karena banyak hal yang berdasarkan logika. Sedangkan cinta itu hanya berdasakan perasaan," kata Winy.


"Nggak apa-apa cinta itu mengalah. Yang penting di hati kita tetap ada orang yang kita cintai. Kita menjaganya dalam hati sudah cukup. Tidak usah memilikinya," kata Joseph.


"Wah... ternyata Joseph pintar juga," puji Winy. "Kupikir kamu tidak tahu apa-apa tentang cinta, Seph," gurau Winy sambil terkekeh.


"Yah... memang begitu kenyataannya," balas Joseph. "Kulihat banyak kejadian sepasang kekasih yang saling mencintai tidak bisa bersatu karena banyak hal. Malah mereka menikah dengan orang yang tidak mereka cintai yang merupakan pilihan orangtua masing-masing."


"Pilihan orangtua itu dianggap yang terbaik bagi anak-anaknya. Menurut mereka baik tapi yang akan menjalaninya nanti kan anak-anak mereka juga, bukannya mereka," ceplos Cyntia. "Tapi pernahkah orangtua bertanya kepada anak apa yang sebenarnya mereka inginkan? Mana tahu dia tidak suka dengan apa yang disukai orangtua atau dia punya pilihan sendiri yang disukainya?"


"Kalau semua anak bisa bebas maka untuk apa lagi ada perintah, aturan atau larangan?" tanya Joseph.


"Betul, Seph!" timpuk Winy. "Anak yang membangkang perintah orangtua itu akan membuat orangtua kesal dan marah. Seperti papa dan mamaku, kalau aku tak segera melaksanakan apa yang mereka suruh, aku dibilang bandel. Tak mau mendengar nasihat orangtua. Susah diatur dan lain-lain."


"Iya... tapi kalau sendiri menderita itu gimana? Kayak Shania yang harus mengorbankan cintanya pada Wilson demi untuk menjadi anak yang berbakti?" tanya Cyntia.


"Itu tergantung kepada diri masing-masing, Cyn. Mau atau nggak itu kan tergantung kita juga," jawab Winy.


"Ya sudahlah, untuk apa berdebat?" kata Joseph. "Mending kita lanjutkan saja scene 2-nya saat Shania pulang ke rumah dengan wajah sedih setelah berpisah dengan Wilson."


"Iya, kita lanjutkan saja sekarang," kata Cyntia. "Di scene 2 nanti Wilson tidak muncul lagi. Hanya ada kita berempat, aku, Winy, Joseph, dan Shania."


"Kita mulai sekarang, Shan?" tanya Winy pada Shania yang masih berdiri berhadapan dengan Son dengan wajah penuh tanya. Winy tahu  Shania pasti ingin Son menjelaskan padanya siapa gadis bernama Aleena yang terdengar akrab berbicara dengan Son di telepon seluler tadi.


"Iyalah, kita mulai sekarang. Ayo, Shan, kita mulai. Kamu kan yang membuka awal cerita scene 2 ini?" kata Cyntia.


Shania tersadar dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya dari Son kepada ketiga temannya. "Iya," jawab Shania lalu melangkah lesu mendekati Joseph, Winy, dan Cyntia.


Suara dan gerak-gerik Shania terkesan tidak bersemangat. Mungkin karena alur cerita di scene 2 tidak disukainya atau karena Shania kecewa mengetahui Son ternyata memiliki seorang teman akrab sebaya yang bernama Aleena. Cantikkah dia? Bagaimana perasaan Son terhadapnya? Shania bertanya-tanya sendiri dalam hati.


* * *