
Bab 59
Aleena melihat ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa di situ. Son juga tidak. Dengan agak was-was, Aleena memasuki ruang toilet bagian cewek yang terpisah dari bagian cowok. Di dalam ruang toilet itu ada wastafel dan kran air untuk mencuci tangan. Juga ada cermin di tembok di depan wastafel.
Aleena mencuci tangannya dengan air dan sabun sambil memperhatikan wajahnya di cermin.
Gadis belia berusia 14 tahun itu memang memiliki wajah yang cantik dan imut. Kulit wajahnya putih mulus. Rambutnya halus dan lembut, digelung ke atas dengan jepitan rambut berbentuk kupu-kupu berwarna emas. Ada beberapa helai rambut yang sengaja dijatuhkan di pelipis kiri dan kanannya yang membuatnya terlihat makin cantik dan memikat.
Aleena terus bercermin dan melihat riasan make up di wajahnya yang dipoles oleh karyawati salon. Rambutnya yang digelung ke atas dengan anggun juga merupakann hasil kerja karyawati salon itu. Tantenya yang membawa Aleen merias diri di sana dan memilihkan baju gaun yang cocok untuknya sebelum datang ke pesta ulang tahun Tom.
Keadaan toilet sepi tanpa siapa-siapa di dalam kecuali Aleena seorang. Ada 3 pintu toilet yang kesemuanya terbuka setengah karena tidak ada orang di dalam.
Aleena bercermin pas di depan salah satu pintu toilet. Saat Aleena menyentuh poni rambutnya, tiba-tiba dia mendengar suara pintu berderit.
Aleena bergidik. Dia mempertajam matanya melihat ke dalam cermin. Pintu toilet yang terbuka setengah dan terpantul lewat kaca cermin seolah bergerak sedikit sehingga menimbulkan suara berderit.
Aleena menunggu dengan hati berdebar sambil matanya tetap memandang ke dalam cermin tapi tidak ada sesiapa pun yang muncul dari balik pintu yang tadi terbuka setengah dan yang sekilas bergerak hingga menimbulkan suara berderit.
Anginkah itu? pikir Aleena bingung. Dia seperti terpaku dan terus menatap ke dalam cermin mengawasi pintu toilet yang terpantul lewat cermin.
Haduh... kalau tidak nampak siapa-siapa di situ kenapa pintunya bergerak sedikit tadi sampai menimbulkan suara berderit? Apakah mungkin dia sedang berkhayal?
Aleena bergidik ngeri. Dia berusaha menggerakkan kakinya, bermaksud segera keluar dari toilet sepi yang suasananya terasa sangat mencekam dan menyeramkan karena tidak ada orang di dalam kecuali dia.
Jangan-jangan selain dia, ada penghuni lain di dalam toilet yang tidak nampak oleh mata. Iiih... Aleena semakin takut dan sekonyong-konyong dia berhasil menggerakkan kedua kakinya dari depan wastafel dan langsung berbalik lalu berjalan cepat menuju pintu keluar sambil kepalanya menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga.
Dia berjalan dengan cepat meninggalkan pintu toilet dan saat berada di luar dia langsung menubruk seseorang karena berjalan sambil menoleh ke belakang.
"Aduuuh...!" teriaknya.
Dengan wajah pucat Aleena mengangkat kepalanya melihat siapa atau apa yang barusan ditubruknya itu. Ternyata bukan hantu, melainkan Son.
Aleena ternganga. Barusan dia menubruk Son yang sekarang sedang mendekapnya.
Son terpaksa melakukan itu karena Aleena hampir terjatuh saat menubruknya. Kalau Son tak segera mendekapnya maka mereka berdua akan jatuh ke tanah karena tubrukan yang tiba-tiba dan sangat cepat.
Seketika Son menyadari betapa cantik dan imutnya Aleena dipandang dari dekat. Dia memiliki pesona yang mampu memikat hati pria.
"Kenapa kamu?" tanya Son yang dalam keadaan bingung masih mendekap Aleena.
"A-a-aku... ada hantu!" jawab Aleena terpatah-patah.
"Hah?!" reaksi Son dengan mata membesar.
"A-a-aku takut!" seru Aleena. "Aku takut! Iiih...!" jeritnya kecil dan tiba-tiba dia memeluk Son. Kedua tangannya melingkar di belakang punggung Son hingga Son yang barusan tersadar dan bermaksud melepaskan dekapannya tak bisa karena Aleena memeluknya dengan erat.
"Aduh! Aduh! Jangan begitu!" Son pun berseru kecil sambil berusaha melepaskan pelukan Aleena di punggungnya.
"Aku takut...!" Aleena tiba-tiba menangis. Air matanya jatuh membasahi baju Son.
Son cuma bisa berdiri bingung dengan tubuhnya yang terasa kaku dipeluk erat oleh Aleena.
Son sudah melepaskan dekapannya di lengan Aleena sejak tadi tapi tubuh Aleena masih mendempeti tubuhnya karena gadis itu masih memeluknya erat sambil menangis sesuka hatinya di baju Son.
Apa-apaan ini? pikir Son semakin pusing. Bisa-bisa ini menimbulkan salah sangka orang-orang kalau sampai terlihat mereka seperti ini. Apalagi Aleena terus menangis di dadanya.
Mau mendorong gadis itu yang sedang menangis rasanya tak tega. Barangkali dia butuh tempat perlindungan sementara dari rasa takutnya tadi.
"Sudah... jangan menangis. Tidak ada hantu di sini," kata Son. "Ayo, lepaskan dekapanmu sekarang. Kita balik ke kafe."
Aleena tidak mau mendengarkan kata-kata Son. Dia terus menangis dan memeluk Son dengan erat sampai Son tak bisa bergerak.
"Jangan seperti ini. Lepaskan aku. Ayo, lepaskan sekarang. Kalau tidak, aku akan kasar padamu," ancam Son dengan suara tegas tapi nadanya lembut.
Aleena menggeleng. Dia merasa sangat nyaman berada di pelukan Son. Seandainya saja dunia berhenti berputar saat ini juga, tidak akan ada penyesalan bagi Aleena. Karena sedari pertama kali dia melihat Son, dia sudah ingin memilikinya dan ingin selalu bersama dia. Pikiran polos anak remaja tanggung berusia 14 tahun yang baru meninggalkan dunia kanak-kanak tapi belum juga memasuki dunia orang dewasa.
* * *