Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Naskah Drama "Kasih Tak Sampai"



Bab 73


"Iya, Cyntia, nggak apa-apalah soalnya kita kan kekurangan pemeran pria jadi kamu berpura-pura jadi pria saja. Jadi papanya tokoh perempuan yang aku perankan," kata Shania.


"Iya, betul, Cyntia, kan hanya peran saja. Pura-pura saja berlagak jadi papanya Shania di drama kita nanti," timpal Winy.


Joseph dan Son memandang Cyntia yang tampak keberatan. Begitu juga Shania dan Winy yang memintanya menjadi tokoh pria.


Karena teman-temannya terus memandangnya meminta persetujuan, Cyntia pun terpaksa mengangguk dan berkata, "Baiklah, aku jadi papanya Shania."


Shania, Winy, Joseph, dan Son pun menarik napas lega.


"Baiklah kalau begitu, apa judul drama yang akan kita buat ini? Harus ditulis dulu kan di buku dialog-dialognya sebelum dipraktikkan di depan kelas?" tanya Winy.


Shania menjawab, "Iya, betul. Dialog-dialog berupa percakapan antar para tokoh."


"Kira-kira bagaimana kita menuliskan dialog-dialog atau percakapannya itu?" tanya Joseph.


"Siapa di antara kita yang akan menuliskan naakahnya?" tanya Cyntia.


Mereka berempat memandang Son yang tampak diam saja.


Merasa keempat temannya sedang menunggunya bicara, Son pun menjawab, "Aku yang tulis."


"Kamu bisa, Wilson?" tanya Shania.


"Mudah-mudahan," jawab Son.


"Judulnya apa?" tanya Joseph.


Son memandang mereka berempat yang juga sedang menatapnya. Kemudian dia menjawab setelah menghentikan pandangannya pada Shania, "Kasih Tak Sampai."


"Hah?! Kasih Tak Sampai?" sontak mereka berempat berseru.


"Iya," Son mengangguk. "Karena alur ceritanya seperti yang dibilang Joseph, maka judulnya itu."


"Oh... betul juga," Shania manggut-manggut. "Tokoh laki-laki dan tokoh perempuan tidak bisa bersatu. Jadi judulnya cocok 'Kasih Tak Sampai'," Shania setuju dengan usul Son.


"Ya sudah, kami setuju juga," kata Winy. "Wilson akan menuliskannya sekarang?"


"Iya," jawab Son. Dia segera membuka buku tulisnya dan mengambil pulpen yang terselip di dalamnya lalu menggunakannya untuk menulis di buku itu.


Seorang pelayan di rumah itu keluar dari ruang dapur dengan membawa beberapa gelas berisi minuman untuk Shania dan teman-temannya.


Pelayan itu menaruh gelas-gelas berisi minuman jus jeruk ke atas meja. Gelas-gelas itu dipindahkannya dari nampan yang dibawanya dari dapur.


"Silakan diminum," kata pelayan wanita itu.


"Terima kasih," jawab Shania dan teman-temannya lalu masing-masing mengambil gelas yang ada di meja dan meminumnya.


Son juga kebagian 1 gelas yang ditaruh di depannya. Tapi karena dia sedang mulai menulis naskah drama yang alur ceritanya sudah terpatri di benaknya, maka Son pun belum menyentuh minuman itu.


Jus jeruk yang diminum Shania dan ketiga temannya itu terasa manis dan dingin karena ditambahkan gula dan es batu.


Karena melihat Son sedang serius mengerjakan naskah drama maka teman-temannya pun tidak berani bersuara bising. Mereka berbicara dengan suara kecil dan perlahan.


Sambil menunggu Son menuliskan naskah drama, keempat temannya membolak-balik buku cetak Bahasa Indonesia. Membaca bab yang ada materi drama sekaligus dialog-dialog yang ada di contoh tugas atau di contoh soal.


Sekitar setengah jam kemudian, Son pun selesai menuliskan naskah drama yang berjudul "Kasih Tak Sampai" itu yang alur ceritanya mirip dengan roman "Siti Nurbaya" yang sudah difilmkan.


Dialog-dialog itu ternyata menghabiskan 3 halaman buku catatan Son. Dan ini adalah hasil naskah drama yang ditulis Son.


Wilson: Aku mencintaimu, Shania.


Shania: Aku juga mencintaimu, Wilson.


Wilson: (Dengan mata penuh cinta) Minggu depan aku akan ke rumahmu melamarmu menjadi istriku, Shania.


Shania: (Dengan wajah sedih) Jangan, Wilson, papaku tidak menyetujui hubungan kita.


Wilson: Kenapa?


Shania: Karena aku sudah dijodohkan dengan pria lain untuk membayar utang-utang papaku.


Wilson: (Dengan wajah geram) Siapa nama pria itu?


Shania: Namanya Joseph.


Wilson: Oh, tidak! Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengannya!


Shania: Aku tidak berdaya, Sayang. Kalau aku menolak itu sama dengan aku tidak berbakti pada papaku.


Wilson: Tapi kamu tidak mencintainya, Shania. Aku tahu, kamu hanya mencintaiku.


Shania: Apa boleh buat, Sayang. Maafkan aku. Semoga di kehidupan mendatang kita bisa bersatu.


Wilson dan Shania berpelukan erat lalu Shania menangis di dada Wilson hingga baju Wilson basah oleh air mata Shania.


Di rumah Shania.


Pak Cyntia: Ke mana anak kita? Kenapa belum pulang juga?


Bu Winy: Sabarlah, Pak. Sebentar juga pulang.


Shania tiba di rumah dengan mata sembab tanpa Wilson di sisinya.


Pak Cyntia: Ke mana saja kamu? Sebentar lagi Joseph akan datang melamarmu.


Shania: Tidak ke mana-mana, Pak.


Pak Cyntia: Kamu bohong ya?!


Shania: (Menangis tersedu-sedu).


Bu Winy: Sudahlah, Pak. Jangan kamu marahi anak kita lagi. Kasihan dia.


Tiba-tiba Joseph muncul dari ambang pintu.


Pak Cyntia: Wah, Nak Joseph sudah datang. Silakan masuk, Nak. Silakan duduk.


Joseph: (Duduk di kursi) Aku ingin melamar Shania hari ini, Pak.


Pak Cyntia: Syukurlah, Nak Joseph. Aku bersedia menerima lamaranmu.


Joseph memandang wajah Shania yang cantik dengan penuh kegembiraan. Sementara Shania membuang muka menghindari tatapan Joseph.


"Ya sudah, sampai di sini saja naskah dramanya," kata Son lalu menyerahkan hasil tulisannya pada Shania dan teman-temannya yang sedang menunggu.


Joseph, Winy, dan Cyntia pun berbarengan melihat hasil tulisan Son yang ada di buku catatan yang baru diserahkan Son pada Shania.


* * *