
Charlie maupun Kent yang melihat Charles berjalan keluar dengan langkah terburu-buru itu merasa bingung. Kemana dia hendak pergi, dan apa yang terjadi sampai pria itu harus pergi dalam keadaan seperti itu?
Kemudian, Charlie meminta Kent untuk kembali menjaga Sharon, dan Charlie akan menyusul sang kakak agar ia mengetahui apa yang akan dilakukan olehnya. Charles ternyata menuju bagian receptionist, ia meminjam telfon rumah sakit, dan menghubungi seseorang untuk datang saat itu juga.
Merasakan ada yang menepuk bahunya membuat Charles terkejut, Charlie menanyakan apa yang terjadi padanya, namun Charles masih diam seribu bahasa. Ia kembali berjalan ke kamar rawat miliknya, dan menunggu orang itu tiba.
30 menit kemudian, orang yang di tunggunya tiba, dan tiba-tiba saja orang itu langsung memeluknya. Namun, Charles dengan cepat melepaskannya, dan memberikannya sebuah tatapan tajam, lalu orang itu pun terkekeh.
"Aku hanya senang karena tuan Charles sudah kembali."
"Key, aku memintamu datang bukan untukku. Aku ingin kau menyiapkan segala hal untuk pernikahan."
"Pernikahan? Pernikahan siapa?" Sahut Bill yang tiba-tiba saja datang.
"Ayah, aku ingin menikah dengannya, dengan Sharon. Aku ingin pernikahan itu dilakukan dalam waktu dekat ini."
"Apa kau gila? Kita masih belum tahu kapan dia sadar, dan kau ingin menikah dengannya? Apa tidak bisa menunggunya sampai sadar dulu?" Celetuk Charlie.
"Kau benar Charlie. Aku memang sudah gila, maka dari itu aku ingin menikahinya secepat mungkin. Aku tidak peduli dengan kondisinya, aku tidak ingin terus berbicara hal kosong padanya, aku ingin membuktikan padanya, jika aku memang benar-benar ingin menikah dengannya. Tidak perlu melakukan pesta, cukup upacara saja di rumah sakit ini. Ketika dia sadar, barulah kita adakan pestanya."
"Nak, apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan? Apa kau yakin untuk menikahinya? Meski tanpa tahu kapan dia sadar, apa kau yakin akan menjaganya? Menghormatinya, menyayanginya, dan setia padanya?"
"Aku yakin ayah, aku sangat yakin."
"Jika begitu bersiaplah! Upacara pernikahan kalian akan dilakukan 3 hari lagi, tepatnya di ruangan dimana Sharon di rawat."
"Ayah, apa kau sungguh-sungguh?" Sahut Charlie yang masih tidak percaya dengan keputusan yang di ambil oleh ayahnya.
"Sebelum operasi di lakukan, bukankah aku berjanji satu hal? Jika putraku sadar, aku akan menikahkannya dengan Sharon, dan aku akan melakukan itu." Ucap Bill yang mencoba meyakinkan putra bungsunya.
"Key, aku harap kau mengerti apa saja yang harus kau lakukan, dan kau persiapkan." Imbuh Charles, dan Key segera menganggukkan kepalanya.
"Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?" Tutur Kent yang kebingungan.
"Tidak, ada apa?" Balas Charles.
"Aku harus kembali ke Bern besok. Aku akan mengadakan pernikahan beberapa bulan lagi, aku harus mempersiapkan hal itu. Aku harap, sebelum pernikahanku terjadi, Sharon bisa segera bangun."
"Dan aku juga akan melakukan pernikahan dengannya 3 hari lagi, di rumah sakit ini. Jika tidak keberatan, bisakah kau untuk tetap disini hingga pernikahan itu selesai?" Ucap Charles.
"Menikah? Dengan kondisi Sharon seperti sekarang?" Kent menyahut dengan nada bingungnya, dan Charles hanya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku mengerti. Aku akan disini sampai acara itu selesai."
"Terima kasih."
•••
Hari berganti, Kent yang tidak bisa menepati janjinya pada Natasha pun meminta gadis itu untuk datang menuju Zurich saat itu juga. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 jam, Natasha telah tiba di rumah sakit. Kent yang melihat kedatangannya pun langsung berhambur ke dalam pelukan gadis itu.
Sedangkan Charles hanya tersenyum simpul melihat keduanya. Memang benar Charles belum mengenalnya secara resmi, namun dia tidak terlalu ingin memusingkan hal tersebut, karena prioritas utamanya saat ini adalah Sharon, dan hanya Sharon.
"Kau pasti Charles bukan? Namaku Natasha." Ungkap gadis itu seraya menyodorkan tangannya.
"Kau benar. Senang bertemu denganmu, Natasha." Charles membalasnya, dan juga menjabat tangannya. "Kent, sebaiknya kau antar dia pulang ke villamu untuk beristirahat! Sharon, biarkan aku yang menjaganya." Sambungnya lagi.
Saran tersebut di terima olehnya, kemudian Kent pun meninggalkan rumah sakit, dan pergi menuju villanya. Kini, hanya ada Charles, dan juga Sharon di dalam ruangan itu. Matanya terus memandangi gadis kesayangannya, sesekali ia mengusap pipinya dengan begitu lembut.
"Hey, kapan kau bangun dari tidurmu? Aku sungguh bosan karena terus sendirian seperti ini. Pernikahan kita sebentar lagi akan di laksanakan, apa kau tidak ingin menikmati pernikahan itu? Cepatlah bangun, Sharon! Dan aku akan memberikan segala yang kau inginkan!" Sahutnya dengan nada yang begitu lirih.
Bersambung ...