
Setelah merebut obat tersebut, Charles langsung memberikannya pada Key. Melihat wajah pria itu semakin pucat, membuat Sharon merasa bersalah kepadanya. Seketika ia mengingat apa yang terjadi pada siang tadi.
"Kau seperti ini apa karena tidak makan apapun saat istirahat tadi?" Gumamnya dengan nada bersalah. "Jika aku tahu akan terjadi seperti ini, maka aku tidak akan menolak untuk menemanimu makan siang. Kau memiliki sakit lambung, kenapa tidak memberitahuku? Kenapa kau selalu menyembunyikan banyak hal padaku? Apa aku tidak cukup untuk kau percayai?" Sambungnya lagi.
"Kau begitu mengkhawatirkanku, ya?" Charles mengusap puncak kepala Sharon seraya tersenyum lembut. "Key siapkan mobil, dan antar kami pulang." Tuturnya, dan Key segera keluar dari ruangan tersebut.
"Tapi pekerjaanku belum selesai. Sebaiknya kau saja duluan, aku akan menyusul ketika selesai."
"Tidak bisa. Kali ini kau harus menurut padaku." Sahutnya.
Key kembali ke ruangan, dan membantu Charles untuk keluar dari sana. Wajahnya masih deras dengan keringat, tangannya pun berubah menjadi dingin. Sharon yang mengetahui hal tersebut pun langsung menatapnya.
"Kenapa tangannya begitu dingin? Sakit lambung tidak akan sampai seperti ini, kan? Charles, apa kau tengah menyembunyikan sesuatu dariku? Tapi kenapa?" Sharon tampak menundukkan pandangannya saat dalam perjalanan menuju lobby.
Saat berada di mobil, Key langsung melaju dengan kecepatan tinggi. Dia sangat tahu kondisi atasannya, dan dia juga tahu jika saat ini pria di belakangnya itu tengah menahan rasa sakit yang berlebih.
Dalam perjalanan, tak lupa untuk Key mengirimi pesan pada dokter Marvin. Ia memintanya untuk segera datang ke rumah Austin, karena Charles kembali merasakan sakitnya.
Setibanya mereka di rumah, tidak lama kemudian, dokter Marvin pun tiba disana. Melihat ada dokter yang begitu tergesa-gesa, tentu saja membuat Sharon kebingungan.
Charles di baringkan di ranjangnya, dan Bill begitu terkejut ketika melihat dokter Marvin berada di sana. Sedangkan Charlie yang baru saja tiba dirumah pun merasakan hal yang sama dengan ayahnya. Keduanya berlari ke kamar Charles saat itu juga.
Dokter Marvin terlihat tengah memeriksa kondisi Charles, dan dokter tersebut tampak menghela nafasnya dengan berat. Melihat reaksi tersebut, tentu saja mengundang tanya bagi Sharon yang masih di sana.
"Apa yang terjadi padanya?" Sharon menyambar, dan Charles begitu terkejut mendengarnya.
"K-kau tenang saja, Sharon. Aku ini hanya kelelahan, benar kan dokter Marvin?" Charles mencoba mengirim kode pada dokter pribadinya.
"Benar, dia akan membaik setelah istirahat beberapa hari."
"Jika sudah, mari ku antar sampai depan." Sahut Charlie, dan mereka yang mengerti pun segera keluar.
Ketika sudah berada di luar kamar, Bill langsung meminta dokter Marvin untuk ikut dengannya ke ruang baca miliknya, dan hal tersebut di ikuti oleh Charlie serta Key.
"Kondisi Charles sudah lumayan gawat. Kita harus mengambil tindakan secepatnya."
"Tapi, tuan Charles meminum obatnya dengan teratur." Sahut Key.
"Jika begitu lakukan operasinya, bukankah aku cocok dengannya? Maka cangkok hatiku untuknya, dengan begitu Charles akan kembali membaik."
"Aku lelah bicarakan ini padamu. Bukankah aku sudah sering mengatakan padamu? Aku tidak akan mengizinkanmu untuk melakukan itu? Bukankah Charles juga tidak menginginkannya?" Bill tampak marah dengan ucapan putranya.
"Tapi kondisinya sudah gawat, ayah. Aku sangat mengkhawatirkannya. Mencakok sedikit hatiku, tidak akan membuatku mati. Bukankah dengan begitu Charles akan kembali hidup dengan baik?"
"Aku tetap tidak mengizinkan hal tersebut."
"Maafkan aku, aku permisi untuk keluar sekarang. Aku akan menghubungi beberapa rumah sakit yang ada di luar negeri mengenai hal ini. Aku akan berikan sample tuan Charles pada mereka."
"Lakukanlah, Key. Aku sangat senang karena putraku memiliki asisten sepertimu."
"Justru aku lah yang senang karena dapat memiliki direktur yang baik seperti tuan Charles. Aku permisi."
Di samping itu, Sharon menatap Charles dengan begitu lekat. Demi menghindar dari pertanyaan yang mungkin akan di lontarkan, Charles segera memejamkan matanya, dan Sharon mendengus kesal.
Kemudian, Sharon memilih keluar dari kamar tersebut. Ia mencari Bill untuk meminta izin menggunakan dapur, dan ia saat berjalan menyusuri rumah tersebut, ia terkejut ketika melihat pintu terbuka. Dokter itu ternyata belum pergi, begitulah fikirnya.
"Ah aku fikir dokter sudah pergi."
"Sebelum pergi, aku memintanya untuk memeriksa kondisiku lebih dulu."
"Apa yang terjadi padamu paman?"
"Aku baik-baik saja. Tapi, sepertinya kolestrolku naik. Jadi, kenapa kau ada disini?" Bill sungguh khawatir jika gadis di hadapannya mendengar apa yang tengah di bicarakan oleh mereka.
"Aku mencarimu untuk meminta izin menggunakan dapur. Jika boleh, aku ingin membuat sup untuk Charles, dan untuk paman juga."
"Kau tidak perlu izin dariku. Gunakanlah sesuka hatimu, anggap saja seperti rumahmu sendiri."
"Terima kasih paman. Aku permisi dulu." Gumamnya seraya tersenyum.
"Buatkan untukku juga ya." Charlie menahan langkahnya, dan Sharon langsung menganggukkan kepalanya pada saat itu.
Bersambung ...