My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 95



Ketika hari sudah mulai sore, Sharon di persiapkan untuk menuju mendapat perawatan. Kent tampak selalu menemaninya saat itu, dirinya begitu ingin menghubungi Nick, namun Sharon bersih keras untuk melarangnya, dan pada akhirnya Kent pun memilih mengalah.


Saat semua sudah selesai, Charlie maupun Bill mendatangi Sharon yang kini pun berada dalam ruang rawat, mereka tampak cemas dengan keputusan yang di ambil oleh gadis itu, terutama Charlie. Ia hanya takut jika saudaranya akan marah padanya ketika saat sadar nanti bahwa Sharon lah yang sudah menjadi pendonor untuknya.


Melihat kecemasan pada ketiga orang yang berada dalam ruangan tersebut membuat Sharon sedikit tersenyum. Dirinya merasa senang karena ia masih memiliki orang yang menyayanginya selain Charles, dan juga keluarganya. Kemudian, ia pun menenangkan mereka, dan membuat lelucon agar mampu mencairkan suasana.


"Setelah operasi selesai, dan ketika semua baik-baik saja. Pada saat itu juga, aku akan mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan pernikahan kalian kepada semua orang." Seru Bill, dan hal itu membuat mereka yang berada di sana terkejut dengan pernyataan yang di lontarkan oleh pria paruh baya tersebut.


"Aku menyetujuinya." Sahut Charlie, dan Kent secara bersamaan.


"Permisi, aku harus memeriksakan kondisi nona Hwang terlebih dahulu." Ucap seorang perawat yang datang secara tiba-tiba, dan seketika membuat ketiga pria itu memundurkan langkahnya untuk memberi ruang pada sang perawat.


Setelah mendapat pengecekkan, dan kondisi Sharon terbilang stabil, perawat itu kembali keluar. Namun sebelum itu, ia mengatakan pada orang-orang yang menemaninya bahwa Sharon tidak boleh mengonsumsi makanan menjelang operasi, dan mereka pun memahami hal tersebut.


Saat rembulan mulai menampakkan dirinya. Sharon mencoba untuk memejamkan matanya, dan Kent masih tetap berada disana untuk menjaganya. Hatinya semakin gusar menanti hari esok, entah apa yang tengah ia khawatirkan, yang jelas ia merasa ada yang janggal dengan sikap gadis di hadapannya.


•••


Hari itu datang, hari dimana operasi akan di lakukan. Charles maupun Sharon pun di persiapkan, dan tak lupa untuk dokter Marvin memeriksa kondisi pendonor. Kini, hanya ada dokter Marvin, dan Sharon di ruangan tersebut, bahkan beberapa perawat pun sudah keluar setelah mengecek semua sistimnya.


"Kau yakin akan tetap melanjutkan ini? Kau memang akan menyelamatkannya, tapi apa kau tidak berfikir? Jika kemungkinan buruk itu terjadi, maka kau tetap tidak akan berjumpa dengannya." Seru dokter Marvin yang mencoba meyakinkan gadis itu kembali.


"Aku sangat yakin, dokter. Prioritas utamaku kali ini adalah Charles."


"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Perawat akan kembali setelah 30 menit untuk membawamu menuju ruang operasi." Tutur dokter tersebut, dan segera meninggalkannya.


Setelah kepergiannya, Sharon menghela nafasnya, kemudian ia memejamkan matanya sejenak. Ia berharap jika tidak akan terjadi apa-apa selama operasi berlangsung, dengan begitu ia bisa kembali bersama dengannya ketika telah sadar nanti. Namun, ucapan dokter Marvin kembali terlintas di benaknya.


"Dalam tes saat itu, aku melihat jika kau memiliki alergi pada obat anestesi, Sharon. Sedangkan anestesi sangat di butuhkan selama operasi dilakukan."


"Apa yang akan terjadi jika aku alergi pada obat itu?" Pungkasnya yang penasaran.


"Jika selama operasi kau mengalami kejang, dan denyutmu terus menurun. Maka kemungkinan selamatmu hanya 5%. Lalu, apa kau akan tetap melanjutkannya?"


"Aku akan tetap melanjutkannya, dokter. Selama masih ada kemungkinan, kita akan melakukannya. Aku percayakan padamu! Bantu aku untuk mendapatkan 5% itu. Jika memang tidak bisa, maka aku tidak menyalahkanmu, dan aku tidak akan menyesal karena telah melakukannya." Sahut Sharon dengan mantap, dan mendengar jawabannya membuat dokter Marvin menghela nafasnya.


"Baiklah jika memang itu keputusanmu. Operasi akan di lakukan besok lusa."


Perawat telah kembali, dan hal itu membuat Sharon tersadar sekaligus membuat ia membuka kedua matanya. Sebelum memasuki ruang operasi, Sharon mengambil ponselnya lebih dulu, ia mencoba mengirim pesan pada seseorang. Kemudian, barulah ia di bawa.


Ketika berada di luar, Charlie tampak enggan menatap gadis itu, dirinya hanya merasa tidak bisa membiarkannya mengorbankan diri untuk saudaranya. Meski ia juga berharap jika saudaranya itu bisa segera sadar, dan kembali bersama mereka. Namun, kenapa harus dia? Begitulah yang ada dalam benaknya kali ini.


Berada dalam satu ruangan dengan Charles membuat dirinya menoleh ke arah pria itu. Senyumannya terukir, namun air matanya menetes dari sisi yang lain. Saat alat bantu pernapasan sudah terpasang pada hidung Sharon, perawat segera menyuntikkan obat bius.


"Dokter, jika aku tidak bisa mendapatkan 5% itu. Sampaikan pada Charles jika dia harus tetap hidup, apa pun yang membuatnya bahagia, aku akan selalu mendukungnya. Jangan pernah menyesali hal ini, karena aku sendiri pun tidak menyesal untuk melakukannya. Sampaikan juga terima kasihku untuknya, terima kasih untuk segala yang sudah pernah ia berikan padaku." Sahut Sharon yang kini mulai memejamkan matanya.


"Aku akan berusaha agar kau bisa mendapatkan 5% itu, Sharon. Bagaimana pun, Charles sangat mencintaimu, entah apa yang akan dilakukannya jika dia hidup tanpamu." Gumam dokter Marvin, dan operasi pun di mulai.


Bersambung...


note: maaf ya readers tercinta karena jarang up, karena kerjaanku lagi banyak, dan mengharuskanku pulang malam. Jadi, ketika tiba di rumah, sulit megang hp, namun yang di pegang itu adalah bantal tercinta😂.


Mohon di maklumi, dan sekian curhatan saya, terima kasih🤗