My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 54



Hari kembali berganti, dan ponsel Sharon terus berdering saat itu. Merasa terganggu, ia langsung mengambilnya, dan menerima panggilan itu.


"Gadis pemalas, apa kau baru bangun?" Orang itu melakukan protes ketika panggilannya telah di terima.


"Kau menghubungiku bukan untuk memarahiku bukan?"


"Tentu saja bukan. Hari ini tender akan dilaksanakan. Do'akan aku agar semua berjalan lancar, dengan begitu aku bisa pulang dengan cepat, dan pada saat aku kembali, kau harus kembali bekerja di Austin Industries."


"Pulang cepat? Benarkah?" Sharon tampak senang mendengar hal tersebut, kedua matanya pun menjadi segar.


"Eeeehh kau sudah begitu merindukanku ya? Aku jadi merasa tidak enak."


"Kau menyebalkan, aku tutup telfonnya." Tutur Sharon yang langsung menutup panggilan itu secara sepihak. Sedangkan Charles hanya terkekeh mendapat perlakuan tersebut.


Pintu rumah terketuk, dan Sharon segera keluar untuk membukakan pintu. Kent, dia yang datang, ia menyerobot masuk kedalam dengan beberapa belanjaan yang ada di tangannya.


Lagi-lagi, tanpa permisi ia langsung pergi menuju dapur untuk menyimpan belanjaan yang sudah ia bawa. Tidak sedikit bahan makanan yang di bawa oleh pria itu, ia bahkan memasuki semuanya ke dalam lemari pendingin yang ada di sana.


Selain bahan makanan, pria itu juga membeli bahan untuk membuat rosti. Melihat kelakukan Kent yang seolah menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri hanya membuat Sharon menggelengkan kepalanya.


Tidak mau ambil pusing, ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu, dan berharap jika dapurnya masih dapat terselamatkan. Meski ia tahu kemampuan pria itu dalam memasak, tetap saja pria itu akan sedikit melakukan kekacauan disana.


Selang beberapa menit kemudian, Sharon telah kembali, dan Kent tampak terlihat begitu berantakan, pipinya serta dahinya penuh dengan polesan tepung, hingga hal tersebut membuat Sharon tertawa.


"Apa yang kau tertawakan?" Kent menatap Sharon bingung. Lalu, gadis itu memberikan sebuah cermin kecil padanya. "Kau juga harus mendapatkannya." Lanjutnya seraya membaluri kedua pipi Sharon dengan tepung.


"Kau selalu menyebalkan, Kent." Sharon mendengus kesal. "Kau akan membuat rosti kan? Aku akan membantumu."


"Sebelum itu, kau harus gunakan apron terlebih dulu. Kau masih saja lupa akan hal itu, hah?" Sahut Kent seraya memasangkan apron pada gadis di hadapannya.


Keduanya menghabiskan waktu di dalam dapur. Sesekali mereka bersenda gurau, dan saling melemparkan tawa. Tidak ada sekat di antara keduanya, hingga rosti itu jadi, Kent meminta gadis itu untuk keluar dari dapur.


"Aku masih bisa membantumu."


"Sudah cepat keluar! Aku yang akan menyiapkannya." Kent tampak melepaskan apron yang masih terpasang di tubuh Sharon. Dengan mempoutkan bibirnya, ia pun menuruti perkataan pria itu.


Rosti di hidangkan, dan keduanya menikmatinya bersamaan dengan coklat hangat. Sharon tampak menikmatinya, dan Kent menatapnya dengan penuh kehangatan.


Merasa kesal karena terus di tatapi, Sharon langsung memasukkan rosti itu ke dalam mulut Kent, dan itu sungguh tak membuatnya merasa kesal atau terganggu sedikit pun.


"Hari ini tidak pergi keluar?" Sharon masih mengunyah rosti itu..


"Aku hanya bertanya. Besok kau akan berangkat bukan? Sebaiknya istirahat saja untuk hari ini."


"Boleh aku bertanya satu hal?" Sharon hanya berdeham menanggapi pertanyaan itu. "Apa di hatimu kali ini sudah benar-benar tidak tersisa tempat untukku? Walau hanya sedikit?" Pria itu menatap gadis dihadapannya.


Kenapa Kent harus menanyakan hal itu secara tiba-tiba? Apa maksud dari pertanyaannya? Sharon bahkan langsung menghentikan aktifitasnya ketika mendengar pertanyaan itu. Apa perilakunya beberapa hari ini sudah membuatnya salah faham?


"Kent, maafkan aku. Tapi, aku sudah memiliki seseorang yang begitu penting dalam hidupku kali ini. Aku harap kau mengerti, dan tidak salah faham tentang kebersamaan kita beberapa hari ini."


"Kau tenang saja. Aku tidak akan pernah memaksakan keputusanmu. Bukankah dulu aku pernah bilang padamu? Apapun keputusan yang kau ambil, aku akan selalu mendukungmu, dan kebahagiaanmu merupakan kebahagiaan tersendiri untukku." Kent tersenyum hangat seraya mengusap puncak kepala Sharon.


"Terima kasih." Gumam Sharon yang membalas senyuman itu.


"Tidak. Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu. Terima kasih karena sudah bersedia memenuhi keegoisanku beberapa hari ini, dengan begitu aku merasa begitu lega." Ulasnya, kemudian ia pun berdiri dari sana. "Aku akan pulang sekarang untuk beristirahat. Sebelum itu, bisakah aku memelukmu?"


Tanpa bicara sepatah kata pun, Sharon berjalan ke arahnya, dan memeluknya. Kent mempererat pelukan tersebut, kemudian ia mengusap kedua pipi Sharon, hingga sebuah ciuman mendarat di keningnya. Lalu, ia segera keluar dari rumah tersebut.


"Apapun yang terjadi, kau akan selalu berada di hatiku yang paling dalam, Sharon."


Ketika Kent telah pergi dari sana, Sharon keluar dari rumah untuk membeli sesuatu, dan setelah mendapatkannya, ia segera bergegas menuju rumah Alice.


Tanpa sadar, ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi. Hingga ketika hendak menyeberang jalan, orang itu membungkam mulut Sharon dari belakang, dan membuatnya tak sadarkan diri.


Secara kebetulan, Alice yang hendak pulang melihat seseorang yang mirip dengan sahabatnya itu. Saat mobil melintas di hadapannya, ia memang tak salah lihat, Sharon berada di dalam mobil itu tak sadarkan diri.


Di waktu yang bersamaan, kondisi tempat Charles berada begitu tegang. Pengumuman akan diberitahu pada hari itu juga. Setiap perusahaan yang menghadiri acara tersebut terlihat begitu gusar.


"Tahun ini adalah tahun yang luar biasa. Proyek tender kali ini di menangkan oleh Austin Industries. Perwakilan perusahaan dipersilahkan untuk maju ke depan."


Charles memberi sambutan untuk perwakilan perusahaan yang hadir disana. Beberapa dari mereka sudah ada yang mengenal, dan mengira-ngira jika Charles atau Charlie lah yang akan mendapatkannya.


Sejak tadi ponselnya terus berdering. Ketika selesai memberi sambutan itu, Charles segera keluar ruangan itu untuk menerima panggilan tersebut.


"Alice? Ada apa? Kenapa kau menghubungiku berulang kali?" Sahut Charles.


"Akhirnya kau menerima panggilanku. Itu, aku rasa Sharon telah di culik." Suara Alice terdengar begitu khawatir.


"APA?" Charles sungguh terkejut mendengar hal itu.


Bersambung ...