My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
[Special Episode] Bagian 02



Meninggalkan Charles yang tengah merasa malu, Charlie segera menggendong putranya, dan menatap Gwen seraya tersenyum dengan penuh arti. Sedangkan Gwen yang melihat senyuman itu hanya menimbulkan sebuah rasa bingung.


"Ayah, bukankah kita harus pergi ke salah satu restaurant yang baru saja ayah buka? Sebaiknya kita pergi sekarang saja bagaimana?" Sahut Charlie yang kemudian mencium pipi putranya.


"Kau benar. Baiklah, kami akan datang lagi lain waktu, dan kalian datanglah sesekali untuk makan malam di rumah." Seru Bill seraya mengusap kepala Erian, dan Eliane.


Eliane mempoutkan bibirnya ketika melihat Bill hendak pergi, namun Erian memberikan pengertian untuknya yang akhirnya gadis kecil itu menuruti perkataan kakaknya. Lalu, Sharon pun berdiri dari duduknya untuk mengantar mereka ke depan, hingga langkahnya pun di tahan oleh Charles.


"Kau diam saja disini!" Ungkapnya dengan tegas, dan hal itu membuat Sharon kebingungan. Sedangkan Erian hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap ayahnya.


Ketika mereka telah pergi, Charles segera menutup kembali pintunya, napasnya tampak tersengal meski dirinya tidak sedang berlari atau melakukan hal yang melelahkan. Kemudian, langkahnya membawa dirinya kembali ke ruang tengah.


"Ibu, apa yang terjadi dengan lehermu?" Eliane menyahut dengan polos, dan Sharon segera menuju dapur, lebih tepatnya ia menghampiri kaca yang berada di sana. "Apa itu menyakitkan?" Lanjutnya lagi.


"Ah ini pasti karena gigitan serangga. Setelah di balur dengan krim, pasti akan membaik." Sharon menjelaskan dengan sedikit terkekeh.


"Serangga seperti apa yang bisa melukai ibu sampai separah itu?" Timpal Eliane, dan hal itu membuat Erian menepuk dahinya akibat pertanyaan adiknya. Sedangkan Charles hanya mampu berdiri kaku saat mendengarnya.


"Aku tidak tahu, yang jelas serangga itu besar." Pungkas Sharon seraya menatap Charles.


"Ayah, bisakah untuk tidak menindas ibu terus menerus?" Erian menyeru, dan mendengar pernyataan putranya membuat Charles menoleh ke arahnya.


"Apa maksudmu? Aku tidak menindasnya, kenapa kau bisa berkata demikian?" Kini, Charles menggendong Erian agar dapat menatap kedua matanya.


"Aku mendengar ayah bicara dengan paman Charlie. Aku memang tidak tahu apa maksudnya, yang jelas aku menyimpulkan jika ayah telah melakukan hal yang tidak semestinya."


Kenapa putraku memiliki pemikiran seperti ini di usianya yang sekarang? Tidak ku sangka jika memiliki putra yang berpikiran kritis.


"Dan bisakah ayah menurunkanku? Rasanya sudah tidak pantas untukku berada dalam gendongan ayah." Gumamnya lagi.


"Tidak! Ayah masih ingin menggendong putra ayah yang cerdas ini, dan kau masih pantas berada dalam gendonganku!" Tuturnya yang mengeratkan gendongannya, ia bahkan memeluknya, dan mencium putranya.


"Jangan menciumku seperti itu!"


"Elia juga ingin di gendong oleh ayah." Eliane tampak berlari ke arah ayahnya, tanpa menurunkan Erian, Charles menggendong keduanya, dan hal tersebut membuat Sharon tersenyum. Lalu, ia memeluk mereka bertiga.


•••


Hari berganti. Siang itu, Erian, dan Eliane tampak baru selesai dari sekolahnya. Sharon menunggunya di depan gerbang, namun banyak gadis kecil mengelilingi putranya, dan hal tersebut membuat Sharon terkejut menatapnya.


"Berhenti mengikuti kami!" Eliane tampak mendorong-dorong gadis kecil lainnya, sedangkan Erian terus menatap ke arah jalan dengan gaya jalan yang sangat mirip dengan ayahnya.


"Kami tidak mengikutimu! Kami mengikuti Erian." Salah satu gadis kecil menyahut seraya menjulurkan lidahnya.


"Tetapi yang kalian ikuti adalah kakakku, dan kalian harus izin dariku untuk mendekatinya." Dengan cepat Eliane menghadang mereka seraya merentangkan kedua tangannya.


"Minggir! Kami ingin Erian, bukan dirimu!" Mereka menyeru bersamaan, dan menerobos Eliane hingga tubuh gadis kecil itu terjatuh. Mendengar suara debuman membuat Erian menghentikan langkahnya, dan segera berbalik.


"Apa yang kalian lakukan pada adikku?" Sahut Erian menatap mereka satu persatu, lalu Sharon segera berjalan menghampirinya. "Kalian melukai adikku." Tambahnya lagi.


"Erian, mereka tidak sengaja melakukannya. Sebaiknya kita pulang sekarang, bagaimana?" Sharon menyela putranya. "Aku akan mengundang kalian bermain di lain waktu, sekarang temui ibu kalian, dan pulanglah!" Tambahnya pada gadis kecil lainnya, dan senyuman Sharon membuat mereka menganggukkan kepalanya.


Tidak mempedulikannya lagi, Erian sudah berjalan menuju mobil, dan Sharon segera menyusulnya dengan Eliane yang berada dalam gendongannya. Setelah berada di mobil, mereka segera pergi meninggalkan sekolah tersebut, dan meminta supirnya mengantar mereka menuju suatu tempat.


Yah, mereka pergi menuju Austin Industries. Setibanya mereka di sana, Sharon segera mengajak kedua buah hatinya untuk segera menuju ruangan dimana Charles berada. Saat perjalanan, banyak mata yang memandang gemas ke arah Erian maupun Eliane.


"Tuan muda Erian, anda pasti hendak menemui tuan Charles bukan? Bagaimana jika ku antar?" Seru salah seorang pegawai disana.


"Maaf bibi, tapi aku datang bersama dengan ibu serta adikku, dan aku akan menemui ayah bersama dengannya." Sahutnya dengan nada dingin.


Anak ini, kenapa sikapnya begitu dingin? Tidak tahu mewarisi sifat siapa, aku rasa Charles bukanlah pria yang dingin dulu, tetapi kenapa putranya sampai seperti ini?


Sharon terus bergumam di dalam batinnya saat menyaksikan tingkah putranya itu, dan sebelum meninggalkan pegawai tersebut, tak lupa untuk Sharon meminta maaf lebih dulu. Kemudian, mereka segera masuk ke dalam lift untuk menuju ruangan Charles.


"Astaga tuan muda Erian, dan nona Eliane datang. Bagaimana kabar kalian? Kenapa semakin hari, kalian sangat menggemaskan?" Key menyeru saat melihat mereka berdiri di hadapan ruangan direktur, dan Sharon tersenyum menanggapi hal tersebut.


"Paman Key, apa ayah ada di dalam?"


"Tentu saja nona Elia, tuan Charles ada di dalam dengan seseorang yang pasti kau senangi."


"Siapa? Ibu, mungkinkah?" Tanpa mempedulikan sekitarnya lagi, Eliane berlari ke dalam ruangan. "Kak Vero." Timpalnya lagi dengan nada sumringahnya, lalu Vero pun menghampirinya.


"Astaga, keduanya tampak serasi. Natasha, bagaimana jika kita jadikan Elia sebagai menantu kita saja ketika mereka sudah besar?"


"Aku mau, paman. Karena Elia sangat menyukai kak Vero." Celetuk Eliane dengan nada polosnya sehingga mengundang tawa bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Elia, lututmu terluka?" Vero menyahut saat melihat luka pada kedua lutut gadis kecil di hadapannya.


Mendengar kata 'terluka' membuat Charles yang sedang duduk pun segera bangun menghampiri putrinya, ia menggendongnya agar mampu melihat luka tersebut, dan benar saja jika kedua lutut putrinya mengalami sedikit lebam serta adanya goresan kecil.


"Elia terjatuh akibat menghadang teman sekolah kami agar mereka tak mendekatiku." Sambar Erian yang baru saja masuk, dan seketika langsung duduk.


"Benarkah seperti itu?" Tutur Charles yang kemudian di balas anggukkan oleh putrinya. "Astaga, ternyata putraku sudah sangat populer di kalangan para gadis." Imbuhnya lagi seraya terkekeh, sedangkan Sharon lekas meminta suaminya agar menurunkan putrinya, karena ia akan mengobati lukanya lebih dulu.


"Jika sakit, genggam saja tanganku!" Vero tersenyum ke arah Eliane seraya menyodorkan tangannya.


Bersambung ...