
Charles yang pergi menggunakan taksi pun segera meminta supir tersebut mengantarnya menuju alamat yang sudah ia berikan. Wajahnya masih terlihat pucat, keringat pun masih bercucuran dengan deras di area keningnya. Demi Sharon, ia rela melakukan apapun.
Pria itu tiba di Austin Industries. Saat turun, ia segera berlari menuju lobby, namun sudah tidak ada siapa pun disana. Belum mau menyerah, ia masuk ke dalam, dan lekas menuju ruang office girl. Mengetahui pintu sudah terkunci, sudah jelas jika tidak ada orang lagi di dalam sana.
"Nona Hwang tampak berdiri dalam waktu yang lama tadi. Saat tahu matahari akan terbenam, aku rasa dia sudah pulang." Sambar salah satu security yang tiba-tiba datang di hadapannya.
"Terima kasih. Jika begitu, aku segera pergi."
"Hati-hati dalam perjalanannya, tuan."
Berhubung taksi tadi di minta untuk menunggunya, Charles kembali menaikinya, dan segera pergi meninggalkan perusahaannya. Kali ini, ia memutuskan untuk pergi ke rumah Sharon.
Setibanya ia di depan rumah gadisnya. Dengan cepat ia menyeka keringatnya, dan membenarkan letak topinya. Bukan hanya itu, ia juga mengatur nafasnya secara perlahan. Dirinya hanya berharap, jika ia mampu untuk menahan sakitnya.
Tangannya melayangkan sebuah ketukkan, ketukkan pertama, belum mendapat jawaban. Ketukkan kedua, masih belum ada jawaban juga, dan saat ia hendak melayangkan ketukkan yang ketiga, seorang gadis membukanya dengan senyuman manisnya.
Melihatnya tersenyum sangat membuat hatinya merasa begitu tenang. Berbeda dengan Charles, wajah Sharon berubah seketika melihatnya.
"Wajahmu pucat sekali. Apa kau sedang sakit?" Imbuh Sharon yang langsung membuka topi milik Charles, dan menyeka keringatnya yang masih terlihat.
"Benarkah? Mungkin hanya kelelahan saja karena panik mencarimu." Charles membalas dengan simpulan senyum kecil. "Jadi, hal apa yang ingin kau bicarakan padaku? Dan mengenai traktirannya..."
"... kau sudah datang terlambat, dan masih mengharapkan traktiran itu? Jika aku tidak mengatakan soal itu, mungkin kau tidak akan datang." Pungkas Sharon yang langsung memalingkan wajahnya.
"Pppfft. Mana mungkin seperti itu. Aku hanya bercanda. Jadi, ada apa gadisku? Gadis bodohku?" Mendengar rayuan itu, membuat Sharon kembali menatapnya dengan sebuah senyuman.
"Karena aku sedang senang, kita akan tetap pergi makan malam bersama. Ayo." Dengan cepat Sharon mengunci rumahnya, dan menarik Charles begitu saja.
Keduanya pergi bersama, dan Sharon mengajak Charles menuju tempat jajanan tradisional disana. Ketika hendak duduk di salah satu kursi yang ada disana, Charles menahan lengannya untuk tetap berdiri.
Menyadari reaksi dari pria yang berada di sisinya, lantas membuat Sharon menatapnya bingung. Mendapati tatapan itu, justru hanya membuat Charles terkekeh, kemudian bergantian menarik lengan gadisnya untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Kenapa kita pergi? Aku ingin mentraktirmu disana, dan makanan di sana lezat." Sharon menggerutu kesal, dan Charles yang mampu mendengar hal tersebut pun langsung menarik tubuh Sharon agar mampu di rangkul dengan dekat.
"Dalam rangka apa kau ingin mentraktirku? Bukankah kau sangat pelit jika mengenai pengeluaran?" Mata Charles memandang ke arah gadis yang ada di sisinya.
"Aku ini bukan pelit, aku hanya berhemat. Namun, kali ini aku mendapat kenaikkan gaji dari tuan Austin sebesar 20%. Jumlah yang banyak menurutku, dan untuk merayakannya, aku ingin mengajakmu bersenang-senang."
"Lalu kau ingin dimana?" Pertanyaan yang sejak tadi ingin sekali di dengar olehnya, dan ia merasa jika Sharon sudah masuk dalam jebakkannya.
Tidak menjawab pertanyaannya, Charles hanya menyunggingkan senyuman simpulnya, dan itu membuat Sharon semakin kebingungan. Pria ini sungguh misterius baginya, dan terkadang hal tersebut membuat Sharon sangat kesal dengannya.
"Aku tidak menyukai senyuman yang seperti itu." Gerutu Sharon dengan kesal.
"Ha Ha Ha. Aku hanya tersenyum, dan kau tidak menyukainya? Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Kini ucapannya kembali terdengar menyedihkan, dan memelas. Kemudian, ia mendapatkan sebuah jitakkan di kepalanya.
"Kau tahu? Setiap kali melihatmu senyum seperti itu, seakan kau tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Dengar! Aku tidak menyukai kebohongan. Jika kau berbohong padaku, aku tidak mau lagi menemuimu."
Mendengar kalimat tersebut sungguh membuat Charles tercengang sekaligus bingung. Apa yang harus di lakukannya? Sejak awal, hubungan mereka sudah di mulai dengan kebohongan. Tidak, bukan awal hubungan mereka, melainkan awal perkenalan mereka.
"Kau yakin bisa jauh dariku?" Ejek Charles yang mencoba mencairkan suasana.
"Aku... tidak bisa." Sambarnya dengan wajah yang memerah. Kemudian, Charles kembali mendekapnya seraya mencubit kedua pipi Sharon. "Maka dari itu, jangan pernah sembunyikan hal sekecil apa pun dariku."
"Lalu, apa kau akan melakukan yang sebaliknya?"
Pembicaraan mereka terlalu banyak, dan Sharon hanya mampu menghindari pertanyaan yang Charles berikan padanya. Hingga kemudian, langkah kaki Charles berhenti di depan salah satu restaurant besar, dan melihat bangunan itu membuat Sharon terdiam seraya menelan air liurnya.
Melihat reaksi Sharon membuat Charles tertawa kecil, kemudian Sharon menatapi bangunan tersebut, dan Charles secara bergantian.
"Kau tidak bermaksud untuk makan di sini 'kan?" Tutur Sharon yang masih tak menyangka.
"Jika tidak, untuk apa aku berhenti? Ayo masuk!" Tangan Charles menarik lengan Sharon, kemudian ia menahan langkahnya, dan membuat Charles menoleh.
"Aku memang mendapat kenaikkan gaji. Tapi, jika kau memintaku untuk mentraktirmu makan disini, aku yakin jika uangku tidak akan cukup. Makanan disini mahal sekali, aku tidak akan bisa membayarnya." Sharon menundukkan kepalanya, dan Charles langsung mensejajarkan tubuhnya pada tubuh gadis yang ada dihadapannya.
"Jika kau tidak bisa membayarnya. Maka, aku akan mencuci piring disini, dan menjadikanmu sebagai jaminan kepada pemilik resto." Seru Charles, dan ia kembali mendapat satu jitakkan di kepalanya. "Ha Ha Ha. Aku hanya bergurau. Lagi pula, mana mungkin aku rela menyerahkanmu? Tapi, jika pemilik resto ini seorang wanita cantik, maka aku yang akan menyerahkan diri padanya, agar kau bisa pergi."
"Kau ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, ya? Tidak ku sangka jika aku telah menyukai pria hidung belang." Gerutunya.
Meski rasa sakit itu kembali di rasakan olehnya, Charles tetap tertawa mendengar semua pengakuan kekasihnya, agar ia dapat menyembunyikan rasa sakit itu. Kemudian ia pun langsung menyeretnya masuk kedalam dengan paksa.
Bersambung ...