
Cahaya matahari telah masuk ke dalam kamar melalui celah-celah yang ada. Charles membuka matanya secara perlahan ketika merasakan sebuah sentuhan pada bagian tulang hidungnya.
Kedua matanya terbelalak ketika melihat seseorang di hadapannya tengah tersenyum hangat. Entah apa yang tengah ia rasakan kali ini, tanpa sadar air matanya menetes di saat bersamaan, dan dengan cepat ia langsung menarik orang itu ke dalam pelukannya.
Pelukan itu begitu erat, seakan dia tak membiarkan orang dalam pelukannya tersebut pergi untuk kedua kalinya. Saat pelukannya ia lepaskan, matanya menatap lekat orang di hadapannya. Tangannya nenyentuh kedua alis orang itu, dan semua wajahnya.
"Kau telah kembali?" Gumam Charles, dan orang di hadapannya menganggukkan kepalanya. "Kau tahu? Aku sungguh bahagia, aku..." Belum menyelesaikan ucapannya, sesuatu hal mengganggunya.
Ponsel Charles berdering terus menerus tiada henti, dan saat itu juga ia tersadar dari tidurnya. Wajahnya di penuhi dengan keringat, kedua matanya pun tampak tersisa air mata, dan di saat yang bersamaan ia langsung menoleh ke sisi kanannya untuk memastikan jika hal yang di rasakannya adalah nyata.
"Hey! Aku sungguh kecewa ketika mengetahui yang ku rasakan adalah sebuah mimpi. Atau sebenarnya itu bukan mimpi, tapi kau ingin mempermainkanku saja? Bukankah kau sangat senang menjahiliku? Sekarang aku menyerah, aku sudah mulai frustasi menghadapi keusilanmu ini. Jadi, sekarang buka matamu, dan kembali padaku." Ucapnya dengan nada yang terdengar begitu lirih.
Sejak tadi, ponselnya tak henti-hentinya berdering, dan ia segera menerima panggilan tersebut. Key menghubunginya, dan memintanya untuk segera datang. Suaranya terdengar begitu panik, dan hal itu membuatnya kebingungan.
Merasa cemas dengan reaksi yang di dengar dari asistennya, Charles segera bergegas untuk berangkat ke kantor. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuknya bersiap. Seperti biasa, sebelum berangkat, ia selalu berpamitan pada Sharon terlebih dulu, dan tidak bosan untuk mengatakan satu hal yang sama.
"Aku akan pergi sekarang. Harapanku masih sama, bangunlah, dan sambut aku ketika aku pulang nanti. Aku mencintaimu." Gumamnya yang tak lupa untuk menciumnya.
Setelah Charles keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Erina bergantian masuk ke dalam kamar milik Sharon. Matanya memandang sinis ke arah Sharon, dan langkahnya membawanya untuk mendekat ke arah ranjang.
Kedua tangannya ia silangkan tepat di depan dadanya, dan bibirnya masih bungkam ketika melihat kondisi Sharon yang bahkan tak terlihat adanya perkembangan baru.
"Bukankah terlalu menyedihkan jika tuan Charles harus merawatmu di sepanjang hidupnya? Dia begitu tampan, menawan, rendah hati, dan sangat baik. Sangat di sayangkan jika dia harus menghabiskan hidupnya bersama dengan seorang wanita yang entah kapan akan bangun dari tidurnya. Apa tidak sebaiknya kau menyerah saja atas hidupmu? Kemudian menyerahkan tuan Charles padaku, dengan begitu akan jauh lebih baik."
"Erina! Apa yang kau lakukan disini?" Sambarnya dengan nada kesalnya, dan hal itu sungguh membuat Erina begitu terkejut.
"Raeya? Kau tahu? Kedatanganmu itu sungguh membuatku terkejut."
"Bukankah aku sudah sering mengatakannya padamu? Berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak akan mungkin bisa kau dapatkan!"
"Setiap orang memiliki mimpinya sendiri. Jadi, kenapa harus berhenti berharap untuk sesuatu yang kita inginkan? Selama kita yakin, maka kita bisa mendapatkannya. Bahkan tuan Charles sendiri pun tidak pernah berhenti berharap agar nona Sharon bisa bangun."
"Dengan begitu, bukankah seharusnya kau sadar? Tuan Charles begitu mencintai nona Sharon, bahkan dalam kondisinya seperti ini pun dia masih berada di sisinya. Seharusnya kau menyerah, ketika nona Sharon tengah tak berdaya saja tuan Charles mampu bersamanya, bagaimana ketika dia sadar nanti? Akan sangat tidak mungkin untuknya berpaling dari istrinya."
"Itu artinya aku harus membuat nona Sharon menjauh darinya."
"Aku lelah mendengar ocehanmu itu!" Sahut Erina yang langsung meninggalkan kamar tersebut.
"Nona Sharon, aku sungguh minta maaf atas tindakah bodoh adikku. Atas nama Erina, aku sungguh minta maaf. Aku berjanji akan terus mengawasinya." Gumam Raeya seraya membenarkan letak selimut yang di gunakan oleh Sharon.
•••
Charles yang telah tiba di kantornya pun begitu terkejut ketika melihat pesan singkat yang berada di atas mejanya. Entah sejak kapan pesan itu ada disana, Key yang melihatnya saja begitu terkejut, karena itulah ia menghubungi Charles dengan begitu cemas.
"Aku begitu kecewa ketika mendengar bahwa kau menolakku! Selama ini aku selalu menyukaimu, dan karena itulah ayah bekerja sama dengan Austin Industries. Aku rasa, pergi dari dunia ini sangat pantas untukku."
Tidak lama setelah itu, ponselnya pun berdering, dan sangat kebetulan jika dirinya baru saja ingin menghubunginya. Dengan cepat ia menerima panggilan itu, dan menanyakan maksud dari pesan yang di terima olehnya.
"Aku tahu mengenai pesan yang kau terima, karena itu aku menghubungimu. Putriku sangat menyukaimu tuan Charles, dia bisa bertindak bodoh jika hal yang ia inginkan tidak di dapatkan. Karena itu, bisakah kau datang ke Jerman untuk memberinya sedikit pengertian?"
"Putrimu sudah besar tuan James. Ancaman seperti ini tidak berpengaruh sedikit pun padaku! Lagi pula, aku sungguh tidak ada hubungannya dengan semua itu."
"Aku mohon tuan Charles. Itu mungkin tidak akan berpengaruh padamu, tapi dia adalah putri tunggalku. Jika dia benar-benar melakukan hal bodoh itu, maka aku bisa kehilangannya."
"Kau mengatakan itu dengan mudah sekarang, kau pasti akan sangat terluka ketika tahu jika kau akan kehilangan putrimu. Tapi kemarin, kau bahkan mentertawakan kondisi istriku, dan mungkin ini merupakan satu teguran untuk sikap angkuhmu kemarin."
"Aku sungguh minta maaf atas tindakanku itu. Tapi, aku mohon bantu aku kali ini. Aku sungguh tidak keberatan jika S.Every, dan Austin Industries harus mengakhiri kerja sama. Bukan hanya itu, aku juga berjanji akan mengembalikkan uang denda yang sudah masuk ke dalam rekening perusahaanku."
"Sekali lagi ku katakan. Hal itu bukanlah urusanku, dan mengenai uang itu, kami tidak akan mengambil kembali sesuatu yang sudah kami berikan." Tanpa ada ucapan lebih lanjut, Charles langsung mematikan panggilan tersebut.
Bersambung...
Jangan lupa guys mampir ke novelku yang lainnya dengan judul "STORM". Dengan bentuk cover seperti di bawah ini👇🏻👇🏻
and, go follow IG @kyu_shine😋