
Dalam langkahnya, sebuah cairan menetes dari kedua mata Charles, dan orang tersebut tersenyum hangat seraya berdiri menghampirinya. Saat tidak ada jarak antara keduanya, Charles menatapnya dengan lekat, tangannya melayang untuk menyentuh wajah dari orang di hadapannya, dan ia langsung menariknya ke dalam pelukannya yang begitu erat.
"Kau kembali? Benarkah kau telah kembali, Sharon? Katakan jika ini bukanlah mimpi!" Nada suara Charles terdengar begitu lirih, dan ia langsung merintih kesakitan. "Argh, kenapa kau mencubit lenganku?" Rintihnya yang langsung melepaskan pelukan tersebut.
"Orang bilang, untuk mengetahui hal itu nyata atau bukan yaitu dengan menyakitinya. Jika kau merasa sakit, maka itu bukanlah mimpi, dan begitu pun sebaliknya." Gumam wanita itu dengan wajah polosnya.
"Jika begitu jangan hanya mencubitku, pukul aku semaumu. Agar aku semakin yakin jika ini bukanlah mimpi." Cairan bening itu terus menetes dari kedua mata Charles, dan Sharon yang melihat hal tersebut pun tersenyum ke arahnya seraya mengusap pipi pria di hadapannya yang sudah basah sejak tadi.
"Ini bukanlah mimpimu, Charles. Ini sungguh diriku, dan aku telah kembali padamu." Serunya dengan sebuah senyuman hangatnya, dan lagi-lagi Charles menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Isaknya yang semakin memperat pelukannya.
"Hey, sejak kapan kau menjadi mudah menangis? Kau bahkan mampu menahan rasa sakitmu sendirian tanpa di ketahui diriku, tapi kenapa kau tidak mampu menahan air matamu itu?" Sharon mendorong pelan tubuh pria itu.
"Maaf, aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir saat itu. Air mata ini, aku sudah menahannya sejak lama, dan untuk saat ini izinkan aku untuk meluapkannya."
Mendengar ucapannya hanya membuat Sharon tersenyum. Kemudian, ia berjalan masuk ke dapur untuk menyiapkan sesuatu. Ia mengambil mangkuk ice cream, dan memberikannya pada Charles. Tak mengerti dengan maksud Sharon, Charles hanya menatapnya bingung.
"Jika kau tidak menyantapnya, maka aku yang akan menghabiskannya!" Sahut Sharon, dan Charles mencoba menikmati ice cre vanilla itu.
Ketika tengah menikmatinya, mata Sharon menatap wajah pria di sisinya dengan begitu lekat. Perkataannya beberapa terakhir ini dapat terekam jelas di otaknya, betapa terpuruknya pria itu ketika menunggu kesadaran dirinya.
Mengingat suara-suara yang terus di ucapkan olehnya membuat Sharon meneteskan air matanya, namun dengan cepat ia menyekanya agar pria itu tidak mengetahuinya. Sayangnya, Charles merupakan pria yang peka, ia menyadari apa yang terjadi pada wanita di sisinya.
"Ada apa? Selama berada di sisiku, aku tidak akan membiarkan air mata menetes membasahi kedua pipimu, Sharon."
"Ini semua berkatmu. Tapi, kenapa dengan begitu bodohnya kau menyetujui segala konsekuensi yang akan terjadi padamu? Apa kau bodoh? Apa kau fikir, kau memiliki banyak nyawa, hah? Kau tahu? Betapa frustasinya aku ketika melihat kondisimu pertama kali? Rasanya aku merasa tidak berguna saat itu, dan aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Saat itu, yang berada dalam fikiranku hanyalah bagaimana cara menyelamatkanmu. Bagaimana cara agar kau kembali pada kami. Aku tidak berfikir jika aku memiliki banyak nyawa, hanya saja kau masih memiliki banyak orang yang mengharapkanmu kembali. Kau memiliki ayah, Charlie, Key, dan yang lainnya. Berbeda denganku, ayah, dan ibuku sudah tidak ada, aku berfikir, jika aku tidak selamat sekali pun, setidaknya tidak akan ada banyak orang yang merasa kehilangan diriku."
"Pemikiran apa itu? Jadi, kau fikir, aku tidak akan merasa kehilanganmu? Apa kau fikir perasaanku padamu hanya sebuah bentuk lelucon?" Imbuh Charles yang sedikit kesal ketika mendengar penuturan dari wanita di sisinya.
"Peluk aku lagi, Charles!" Pinta Sharon dengan nada lirihnya, dan Charles menggelengkan kepalanya saat mendengar permintaannya. Tidak mempedulikan itu, dengan cepat Sharon menarik lengan bajunya, kemudian membuat Charles tersenyum, dan kembali memeluknya.
"Jangan pernah lakukan hal bodoh itu lagi, mengerti?" Tutur Charles, dan Sharon mengangguk secara bersamaan. "Hari sudah malam, sebaiknya kita beristirahat sekarang." Lanjutnya lagi.
Keduanya berjalan menuju kamar yang sama, dan hal itu mengundang tanya bagi Sharon. Kenapa Charles mengikutinya masuk ke kamar, bukan hanya itu, dia bahkan masuk ke dalam toilet miliknya yang berada di kamar.
Belum sempat bertanya, Sharon merapihkan letak ranjangnya agar ia bisa segera beristirahat ketika Charles telah selesai, dan pergi dari villanya. Namun, tiba-tiba saja sesuatu yang mengejutkan terlihat olehnya.
"Apa yang kau lakukan? Dimana pakaianmu itu? Kenapa kau hanya mengenakan handuk saja?" Ujar Sharon yang menutupi wajahnya menggunakan bantal yang berada dalam genggamannya tadi.
Reaksi itu justru mengundang tawa kecil bagi Charles. Kemudian, ia melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arahnya, dan memegangi bahu wanita itu, sontak hal tersebut membuat Sharon duduk menjauh darinya.
"Tidak! Jangan mendekat sebelum kau menggunakan seluruh pakaianmu itu! Jika kau macam-macam, maka aku akan memukulmu!" Seru Sharon yang masih menutupi wajahnya.
"Bagaimana caramu memukulku jika kau saja masih menutupi wajahmu itu?" Charles mengejeknya dengan di sertai tawa kecil, dan mendengar hal itu membuat Sharon terdiam.
Bersambung ...