
"... cukup! Tidak perlu di lanjutkan!" Sharon menyela ucapannya sehingga membuat Charles menatapnya bingung.
"Ada apa? Kau tidak ingin mendengarnya?"
"Bukan seperti itu. Aku percaya padamu, lagi pula jika kau menceritakannya, butuh berapa lama untuk menyelesaikannya? Sehari saja tidak akan cukup."
"Kau benar. Tapi, aku akan tetap menceritakannya pada kedua anak kita nanti. Kau mengizinkannya 'kan?" Charles mengedipkan kedua matanya berulang kali, dan Sharon menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ke arahnya. "Aaah aku mencintamu, Sharon." Sambungnya lagi yang lekas memeluknya.
Hari sudah mulai sore, dan mereka memutuskan untuk kembali. Namun, tidak ke rumah, keduanya pergi menuju kediaman Austin. Sudah lama untuk mereka tidak bertemu dengan Bill, dan Charles sendiri pun sangat merindukan ayahnya tersebut.
Setibanya mereka di rumah, Bill yang menyadari kehadiran putra serta menantunya pun merasa begitu bahagia. Ia bahkan langsung meminta pelayan rumahnya menyiapkan makanan favorit keduanya untuk makan malam nanti.
Charlie yang mendengar kepulangan sang kakak pun langsung berlari menghampirinya, dan Gwen berdiri di sisi Bill. Pelukan erat itu membuat Charles kesulitan bernapas, hingga ia pun mendorong pelan tubuh saudaranya serta memberikan tatapan yang begitu tajam.
"Kakak ipar, aku juga merindukanmu." Ketika Charlie hendak memberikan sebuah pelukan, Charles segera menghadang saudaranya, dan lagi-lagi Charles lah yang mendapatkan pelukan tersebut. "Kau menyebalkan, Charles. Aku ingin tahu bagaimana rasanya memeluk seorang wanita yang tengah mengandung bayi kembar." Rutuk Charlie.
"Tapi, aku tidak mengizinkanmu untuk menyentuhnya, dan menjauhlah darinya! Aku tidak ingin jika kedua anakku memiliki sikap sepertimu!" Celetuk Charles yang langsung merangkul Sharon.
"Apa maksudmu? Memang kenapa jika mereka memiliki sikap sepertiku?" Wajah Charlie mulai memerah karena menahan amarahnya, dan kedua tangannya pun sudah bertolak pinggang dengan menatap tajam ke arah saudaranya.
"Tentu saja karena kau bukan ayahnya. Tidak mungkin 'kan anakku harus mewarisi karaktermu? Itu akan terasa aneh." Tutur Charles.
"Meski begitu 'kan kita bersaudara. Tidak ada salahnya jika mereka memiliki karakterku walau hanya sedikit."
Bill hanya menepuk dahinya seraya menggelengkan kepalanya. Kedua putranya masih saja belum berubah, sedangkan Sharon yang sudah mulai terbiasa melihat hal tersebut hanya tersenyum kecil. Tidak ingin terjadi sesuatu pada cucu kembarnya, Bill lekas membawa Sharon untuk pergi dari tempat itu, tak lupa juga ia mengajak Gwen untuk ikut bersamanya.
Mereka membiarkan keributan C.C Twins berlangsung, dan tak mempedulikan hal tersebut. Keduanya akan sulit di pisahkan jika tengah beradu argumen, namun mereka akan berhenti sendiri jika keduanya sama-sama sudah kewalahan satu sama lain. Maka dari itu, Bill memilih untuk mengajak putrinya meninggalkan mereka.
Di taman belakang, Sharon duduk dengan santai, dan di temani oleh Bill serta Gwen. Bill menanyakan kondisi dirinya serta kedua cucunya, dan dengan senang hati Sharon menceritakannya. Gwen, ia merasa takjub dengan kehamilan Sharon saat itu, karena itu pertama kalinya ia melihat seorang wanita mengandung bayi kembar.
"Bagaimana rasanya? Pasti sangat berat ketika tengah berjalan." Gwen menyeletuk, dan masih menatapi perut besar Sharon.
"Ha Ha Ha. Kau akan merasakannya nanti, kau juga bisa memiliki bayi kembar, dan saat itu juga kau akan tahu."
"Tentu saja. Aku bahkan sampai harus menggunakan banyak bantal untuk menahan tubuhku ketika hendak tidur, dan akibatnya Charles jarang sekali tidur menggunakan bantal." Sharon terkekeh ketika mengingat kejadian menjelang tidurnya.
"Dulu, ibunya Charles pun begitu. Dia bahkan sampai tidak bisa tidur karena tidak menemukan posisi nyamannya." Bill menambahkan.
"Ayah, ada sesuatu yang ku takutkan. Setiap aku hendak tidur, aku selalu takut ketika membayangkan proses persalinanku kelak. Bagaimana jika aku tidak bisa bersama Charles setelahnya? Aku sangat takut jika itu terjadi." Tanpa sadar air Sharon menetes, dan dengan cepat Bill menyekanya.
"Apa yang kau bicarakan? Itu tidak akan terjadi padamu, nak! Fokuskan saja pikiranmu pada si kembar, dan bayangkan apa yang akan terjadi setelah mereka lahir. Tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak, karena aku sebagai ayahmu tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bagaimana pun caranya, kau pasti akan baik-baik saja. Kau mengerti?" Bill mengusap puncak kepala menantunya, dan Sharon tampak lega mendengarnya.
"Aku mencarimu kemana-mana, dan ternyata kau ada disini." Sambar Charles yang baru saja tiba.
Menyadari kedua mata istrinya basah, membuat Charles langsung duduk di sisinya. Ia juga bertanya padanya, apa yang sudah membuatnya menangis, dan siapa yang sudah berani membuatnya meneteskan air matanya?
Charles meluaskan pandangannya. Namun, hanya ada ayahnya serta Gwen di sana. Saat tatapannya bertemu dengan mata sang ayah, Charles mengernyitkan dahinya, dan Bill langsung mengangkat kedua alisnya, lalu dengan cepat Charles menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak menyakiti istrimu. Dia menangis karena merasa beruntung telah memilikimu, Charles." Gwen menyeru, dan dalam sekejap tatapan Charles langsung menatap lekat ke arah Sharon.
"Benarkah begitu?" Sahutnya, kemudian di balas dengan sebuah anggukkan oleh Sharon. "Aku juga beruntung karena memilikimu." Pungkasnya lagi yang memeluknya.
"Lalu, apa kau juga merasa beruntung karena memilikiku?" Sambar Charlie yang langsung duduk di sisi Gwen.
"Tentu saja. Kau menerimaku dalam kondisi apapun. Aku beruntung karena bisa berada di tengah kalian." Seru Gwen seraya tersenyum.
"Bukan hanya kalian, aku senang karena memiliki kalian semua di sisa hidupku. Melihat kedua putraku bahagia, dan memiliki pasangan yang begitu baik, itu sungguh keberuntungan besar untukku. Dengan begitu, aku tidak akan malu untuk bertemu dengan ibu kalian kelak, dan aku bisa bercerita dengan rasa bangga saat bertemu dengannya nanti."
"Ayah, kami menyayangimu." Charles, dan Charlie menyahut bersamaan. Lalu, keduanya memeluk sang ayah. Bill membalas pelukan itu, dan tanpa sadar air matanya menetes secara bersamaan.
Bersambung ...
note: buat kalian yg suka dengan cerita sekolahan boleh mampir di cerita temanku yg berjudul 'Universitas Maharaja'
Dia masih pemula, jadi butuh kritik serta saran dari kalian untuk membangun kelanjutan ceritanya. Terima kasih😍