
Mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh sang ayah membuat Gwen terdiam. Apa yang harus ia katakan? Jika ia menjawab 'iya' apakah ayahnya akan menyetujui keputusannya? Namun, jika dirinya menjawab 'tidak' sudah pasti jika Charlie akan kecewa dengannya.
Kini, Charlie mulai menatapnya, dan Gwen masih menundukkan kepalanya untuk memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan tanpa menyakiti keduanya.
"Gwen, kenapa kau diam saja?" Tutur Charlie dengan nada pelannya.
"Ayah, di dunia ini hanya kau satu-satunya keluarga yang ku miliki. Setelah ibu pergi, hanya ayah yang selalu berada di sisiku, dan ayah lah yang membesarkanku seorang diri. Selama ini, aku selalu mengikuti apa yang ayah inginkan, dan untuk kali ini bisakah ayah menyetujui hubungan kami?"
Pernyataan itu membuat Charlie terkejut, ternyata wanita di sisinya tetap berusaha agar ayahnya mau menyetujui hubungan keduanya. Mau bagaimana lagi? Charlie tidak bisa mengajukan komplain atas apa yang di utarakan Gwen, dia hanya menghela napasnya, dan menunggu jawaban yang akan di berikan oleh James kepadanya.
"Baiklah. Jika hal itu bisa membuatmu bahagia, ayah akan menyetujui hubunganmu dengannya, dan demi dirimu, ayah akan datang ke Zurich untuk meminta maaf pada keluarga Austin atas apa yang telah ayah lakukan dulu."
"Ayah tidak sedang bergurau 'kan?" Kedua mata Gwen tampak berbinar-binar mendapatkan jawaban yang begitu ia harapkan. Setelah mendapat anggukkan dari sang ayah, Gwen langsung berlari ke dalam pelukannya. "Terima kasih ayah, aku menyayangimu." Imbuhnya.
•••
Ketika malam telah menjelang, makan malam pun telah usai. Charles tampak tengah berada di ruang kerja miliknya, dengan laptop yang terbuka, ia terlihat tengah melakukan meeting melalui panggilan video.
Sedikit melirik dari pintu yang sedikit terbuka, Sharon menghela napasnya saat melihat sesuatu yang tak biasa di lakukan oleh suaminya.
Sejak pulang tadi pun, dia hanya memberikan vitamin yang di bawanya serta jas yang ia kenakan saat bekerja. Tak ada sepatah kata pun yang di ucapkan olehnya. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk segera beristirahat lebih dulu.
"Tuan Albert. Sepertinya kau masih tidak mengerti dengan posisimu sekarang ya? Jika aku mau, aku bisa menyingkarkanmu dari posisi itu kapan pun aku mau!" Sahut Charles pada panggilan video tersebut.
"Aku tidak percaya jika tuan Albert bermain-main dengan uang perusahaan, bagaimana pun keuntungan yang di dapatkan, bukankah kita sudah sepakat jika itu akan di gunakan untuk perputaran modal? Lalu, kenapa tuan Albert menggunakannya tanpa berdiskusi dulu pada kami?" Edward Stane menyela.
"Hanya rugi 5% saja. Kenapa harus di ributkan sampai seperti ini? Bagi tuan Charles, menurutku 5% itu bukanlah nilai yang besar, bukankah begitu?" Imbuh Albert dengan nada santainya.
"Bukan nilai kecil atau besar yang di permasalahkan dalam hal ini. Namun, kemana kesepakatan yang sudah di setujui sejak awal? Tuan Albert, meski penurunan kita hanya sebesar 0,5% pun, kita harus tetap mencari tahu demi majunya usaha yang kita bangun." Kini, Denis Straw selaku pemegang saham terbesar kedua pun membuka suaranya karena sudah kesal mendengar ucapan dari rekannya.
"Aku beri kau satu kesempatan lagi! Jika hal ini kembali terulang, jangan salahkan aku jika aku menggeser posisimu itu! Aku pamit!" Sahut Charles yang langsung keluar dari panggilan itu, dan ia segera menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya.
Sungguh melelahkan untuknya. Kemudian, ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Dirinya begitu terkejut melihat Sharon yang sudah tertidur lebih dulu, hal itu membuatnya kembali frustasi. Seharusnya 'kan wanita itu meminta maaf atas kejadian pagi tadi, tapi kenapa tidak ada sepatah kata pun yang di ucapkan olehnya. Pikiran itu meraung kesal.
Charles mendengus, dan memilih untuk berbaring saat itu juga. Tak lupa ia menarik selimut itu serta membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Sharon yang sudah terlelap dengan begitu nyenyaknya.
Matahari telah mengambil alih posisi bulan di langit. Sarapan juga sudah tersaji di meja makan, Sharon menyiapkannya bersama dengan Raeya serta bibi Rey. Namun, Charles berlalu begitu saja.
"Tunggu!" Sharon menahan langkahnya, dan Charles tidak berbalik sedikit pun. "Sebelum berangkat, kau harus sarapan lebih dulu!" Tuturnya.
Mengabaikan ucapan itu, Charles kembali melangkahkan kakinya meninggalkan villa, dan hal itu membuat Sharon kesal dengan sikapnya yang berubah menjadi dingin.
"Ingin main-main denganku, ya?" Rutuk Sharon dengan nada yang terdengar begitu menyeramkan.
Raeya, dan bibi Rey sedikit terkekeh melihat hubungan keluarga kecil itu. Mereka mengerti dengan sikap Charles yang berubah menjadi seperti anak kecil, majikannya tengah terbakar api cemburu, itu sungguh terlihat jelas pada wajahnya. Tidak lama kemudian, Sharon pun segera berangkat untuk menyusulnya.
Di tempat yang berbeda, Charles yang telah tiba di Austin Industries itu pun kembali di kerumuni oleh beberapa pegawai wanita di sana. Banyak pertanyaan yang di lontarkan olehnya, ingin menghindarinya, namun mereka semakin banyak.
Key, hanya dia yang bisa membantunya, namun dimana orang itu berada? Batang hidungnya tidak terlihat sejak ia tiba, apakah ia mengambil cuti atau semacamnya? Tapi itu tidaklah mungkin, karena ia sendiri pasti di beritahu jika asistennya akan cuti.
"Tuan Charles, aku membuat barner platte pagi ini, apa kau mau mencobanya?" Sahut salah satu pegawai wanita yang mengerumuninya.
"Aku akan mencobanya nanti." Dengan senyuman Charles menolaknya secara halus. Hingga kemudian, ia menatap seseorang yang di kenalnya tengah berdiri di ambang pintu lobby, dan orang itu menatap tajam ke arahnya. "Aah sepertinya barner platte itu sangat lezat. Biar aku cicipi sekali saja, kebetulan aku belum memakan apapun sejak tadi." Pikirannya berubah ketika melihat orang di hadapannya.
Mendapat lampu hijau, tentu saja membuat pegawai itu mengambilkan satu sendok untuk Charles. Pria itu tampak menikmatinya, sedangkan orang di hadapannya semakin geram melihat tingkah Charles yang benar-benar menyebalkan.
"Nona Sharon, kenapa hanya berdiri di sini?" Seseorang yang baru saja tiba kebingungan melihat Sharon diam tak bergeming di ambang pintu.
"Key! Bisakah kau membuat mereka pergi?" Tatapan Sharon masih menatap ke arah depan, dan suaranya terdengar sangat menusuk.
"Akan Key lakukan, nona!"
Sesuai yang di minta oleh Sharon, Key melakukan tugasnya dengan begitu baik. Hingga setelah mereka semua pergi, Sharon melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah suaminya. Ia menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya, dan menatap Charles dengan begitu tajam.
"Ini pasti akan menjadi pertunjukkan yang menarik! Aku harus memanggil Elena kemari." Key tampak terkekeh saat itu, dan merogoh ponselnya untuk memanggil temannya.
"Ada apa datang kemari? Apa ada yang kau butuhkan?" Kini, Charles membuka suaranya.
"Jika tidak ada yang ku butuhkan, aku tidak akan datang kemari." Sharon menjawabnya tak kalah ketus darinya.
"Jika membutuhkan sesuatu, kenapa tidak hubungi Yarry saja? Hubungi cinta pertamamu itu."
"Cinta pertama? Jadi, itu alasan tuan Charles cemburu?" Key yang masih berada di sana pun menahan tawanya saat mendengar ucapan yang di lontarkan oleh atasannya.
"Ya Tuhan. Ternyata dia masih marah karena kejadian kemarin." Sharon menghela napasnya, namun ia sedikit tersenyum usil. "Baiklah jika itu maumu. Jangan salahkan aku jika aku akan sering menghabiskan waktuku bersama dengannya!" Ujarnya yang langsung mengambil ponselnya.
Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya, berjalan menjauh beberapa langkah darinya, lalu meletakkan ponselnya di telinga kanannya. Tidak di sangka-sangka jika Sharon akan benar-benar melakukannya. Kemudian, Charles segera berlari ke arahnya, dan merebut ponsel yang tengah di genggam oleh Sharon.
"Tidak-tidak! Jangan lakukan itu! Baiklah, aku kalah, dan kau menang." Charles mempoutkan bibirnya, dan melihat reaksi tersebut membuat Key tak mampu menahan tawanya. "Key! Apa yang kau lakukan di sini? Kembali ke pekerjaanmu atau..."
"... aku pergi tuan." Tahu akan kalimat selanjutnya, Key kembali menahan tawanya, dan segera pergi dari hadapan mereka.
Bersambung ...