
Setelah meninggalkan kantor, Sharon memutuskan untuk pergi menuju Zurichhorn. Disana ia melempari beberapa kerikil ke dalam sungai tersebut, dan air mata pun masih dapat tertampung dengan baik di dalam pelupuk matanya.
Merasa bosan berada disana, ia segera menuju sebuah tempat. Sebelum pergi kesana, ia membeli 2 bukat bunga, dan segera melanjutkan perjalanannya. Setibanya ia di tempat itu, ia segera menyimpan satu bukat bunga pada makam ibunya.
"Ibu. Hubunganku dengan Charles sudah berakhir. Kau pernah berpesan padaku, apapun yang dilakukannya, aku harus mempercayainya karena dia mencintaiku. Setelah melihat hubungan dia dengan mantan kekasihnya, apa aku harus tetap mempercayainya? Bagaimana jika ia memang sudah menghapus kenangan tentang kami, dan mencoba membuka hatinya untuk wanita lain?" Gumam Sharon yang masih memandangi nisan ibunya.
Ia mengusap makam ibunya. Ingin rasanya ia memeluknya, ia sungguh merindukan dekapannya. Setelah kepergiannya, sudah tidak ada lagi yang menemaninya setiap malam, sudah tidak ada lagi yang menyiapkan makanan hangat untuknya.
"Ibu, aku merindukanmu." Ucap Sharon dengan nada yang lirih, dan cairan bening pun mulai menetes dari kedua matanya. "Aku akan kembali lagi nanti." Sambungnya.
Tubuhnya bangkit dengan perasaan yang berat, tak lupa juga ia mengusap air matanya sebelum meninggalkan makam ibunya. Dengan membawa satu bukat bunga yang tersisa, ia berjalan menuju salah satu makam lagi, makam sang ayah.
"Sudah lama aku tidak datang. Aku harap ayah tidak marah denganku. Ayah pasti sudah tidak merasa kesepian lagi bukan? Karena ibu sudah menemanimu disana, dan kini akulah yang kesepian. Tidak ada kalian, aku merasa sangat hampa, aku ingin bersama kalian, aku sungguh merindukan kalian. Aku..." Isakkan terus terdengar, dan Sharon sungguh merasa terpukul dengan semua kejadian kali ini.
•••
Hari semakin sore, dan Charles masih bersama dengan Maisha saat itu. Hingga rasa sakit itu kembali terasa, dengan cepat Charles meminta wanita itu untuk mengantarnya pulang. Sesuai keinginannya, Maisha pun mengantarnya, ia mengambil alih setir, dan membawa Charles pulang.
Maisha begitu terkagum ketika melihat besarnya rumah milik Charles. Bahkan para bodyguard di depan gerbang pun langsung berbaris ketik melihat mobil milik Charles terparkir. Salah seorang bodyguard di rumah tersebut membukakan pintu, dan melihat Charles kesakitan, ia pun langsung memapahnya untuk masuk ke dalam.
Melihat kondisi Charles membuat Bill khawatir ketika melihatnya, dan saat itu juga ia meminta dokter Marvin untuk segera datang. Wanita tersebut memberi salam pada Bill, kemudian Bill menatap Charles, dan wanita itu secara bergantian.
Seolah mengerti dengan tatapan sang ayah, Charles tersenyum, dan langsung menggelengkan kepala. Entah kenapa, Bill pun bernafas lega saat itu juga.
"Ternyata putraku sangat pandai mencari wanita cantik." Sahut Bill, dan ucapannya itu membuat wajah wanita itu merona. "Siapa namamu?" Ulasnya lagi.
"Namaku Maisha, paman. Senang dapat bertemu langsung dengan seorang pebisnis legenda seperti anda."
"Tidak perlu sungkan, dan kau terlalu memujiku."
"Kakak." Charlie tiba-tiba saja masuk dengan nafas tersengalnya, hal itu tentu membuat mereka yang berada dalam ruangan terkejut.
"Charlie? Kenapa kau datang? Apa urusanmu di kantor sangat senggang? Hingga kau bisa pergi sesuka hatimu." Charles memandangi adiknya yang masih mengatur nafasnya.
"Lihat ayah, aku 'kan hanya mengkhawatirkannya. Lagi pula, aku akan kembali setelah mengetahui kondisinya."
"Astaga. Ternyata tuan Austin memang memiliki putra kembar. Jadi ini Charlie Austin, mereka benar-benar mirip. Tapi, aku rasa dia tidak seramah Charles." Maisha membatin.
"Dan kau siapa? Apa kau pelayan baru disini?" Sahut Charlie.
"Charlie, perhatikan sikapmu, dia teman kakakmu." Sahut Bill, dan Charlie pun terkekeh. "Ah dokter Marvin? Kau sudah tiba?" Sambungnya.
Mendengar pernyataan dokter Marvin membuat Bill tidak terima, kenapa juga mereka harus keluar? Sedangkan pemeriksaan sebelumnya saja, ia tidak pernah menyuruh pihak keluarga untuk keluar. Namun, dengan berbagai penjelasan, akhirnya mereka pun menurutinya.
15 menit kemudian. Dokter Marvin memperbolehkan mereka kembali, dan Charles pun tampak tengah menyandar di dinding ranjangnya, kemudian Bill, dan Charlie menghujani dokter tersebut dengan banyak pertanyaan.
"Aku harap ini bukan penyakit serius." Gumam Maisha.
"Bagaimana mungkin bukan penyakit serius? Kau mengenal kakakku sudah berapa lama? Jika kau sungguh temannya, seharusnya kau tahu penyakit yang di derita oleh Charles." Pungkas Charlie dengan nada cueknya.
"Benar nona. Tuan Charles mengalami penyempitan saluran empedu, yang mana harus segera mendapatkan transplantasi hati."
"Itu artinya sangat berbahaya bukan? Jika Charles tidak mendapatkannya, apa yang akan terjadi?"
"Apa lagi? Tentu saja aku akan meninggal." Sahut Charles.
"CHARLES." Bill, dan Charlie menyambar secara bersamaan. Kemudian, Charles sedikit terkekeh menanggapi kekompakkan keduanya.
"Astaga, bagaimana mungkin aku menikahi pria yang tidak memiliki banyak waktu? Mendapatkan donor hati itu sangat sulit. Apa yang akan terjadi jika ketika kami menikah, lalu dia meninggal? Aku akan menjadi janda, dan tidak bisa memanfaatkan kekayaannya bukan? Aku harus cari cara untuk pergi." Maisha tengah berfikir keras.
Tatapan Charles tak hentinya memandangi wanita yang berdiri di sana. Kemudian, ia pun tersenyum sinis saat itu juga, seakan ia mampu membaca apa yang tengah di fikirkan olehnya. Hingga kemudian ponsel wanita itu pun berdering.
"Aaah selamat aku." Batin Maisha yang lekas mengambil ponselnya. "Maaf, aku harus pergi sekarang. Aku lupa jika memiliki janji temu dengan temanku." Sambungnya lagi.
"Pergilah." Sahut Charles, dan wanita itu pun segera pergi dari sana.
"Jadi, bagaimana kondisi putraku?" Kini Bill membuka suaranya, dan Dokter Marvin terlihat bingung untuk menjelaskannya.
"Sebenarnya tidak terjadi apa-apa padanya. Dia baik-baik saja." Dokter Marvin membalas.
"APA?" Lagi-lagi Bill, dan Charlie menunjukkan kekompakkannya.
"Ayah tidak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa, aku hanya bersandiwara saja melakukan semua ini." Gumam Charles seraya menggenggam tangan sang ayah.
"Bodoh. Sandiwaramu itu sungguh murahan. Sudah setengah mati aku mengkhawatirkanmu saat di perjalanan, takut terjadi sesuatu yang buruk padamu. Ternyata kau mempermainkan kami." Charlie yang tampak kesal itu pun melempari Charles dengan bantal yang berada di sofa.
"Ha Ha Ha. Ternyata kau sangat perduli denganku ya, Charlie." Charles terkekeh melihat reaksi saudaranya. "Maaf, tapi aku hanya ingin tahu reaksi wanita tadi ketika mengetahui penyakitku. Dengan begitu, aku bisa tahu, apa dia benar-benar mencintai diriku atau hanya sekedar ada udang di balik batu." Lanjutnya lagi.
"Lain kali, jangan lakukan hal seperti itu tanpa memberitahu kami." Tutur Bill, dan Charles menganggukkan kepalanya.
Bersambung ...