My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 141



"Kau ini sungguh aneh." Tutur Sharon seraya menggelengkan kepalanya, dan Charles menatapnya penuh tanya. "Aku bahkan tidak memiliki kontaknya, dan kau takut jika aku menghubunginya?" Tawa Sharon tak bisa tertahan, dan menyadari hal tersebut membuat Charles menatap layar ponsel Sharon.


Benar, ponsel Sharon masih terkunci, dan dia benar-benar tidak melakukan panggilan apapun. Merasa di kerjai, Charles mengembalikan ponsel Sharon, dan berjalan meninggalkannya. Ia sungguh malu akan hal yang di lakukannya tadi, saat Charles berjalan meninggalkannya pun Sharon masih tertawa dengan begitu puas.


Ketika pria itu sudah memasuki lift, dengan cepat Sharon melangkah, ia bahkan sedikit berlari agar dapat masuk sebelum pintu tertutup. Meksi tengah kesal, Charles tetap menahan pintu tersebut menggunakan kakinya agar wanitanya bisa masuk.


Saat Sharon telah masuk, dan pintu lift tertutup. Charles menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, ia mengalihkan pandangannya agar tak memandang wanita di sisinya. Melihatnya terus mentertawainya sungguh membuat dirinya semakin kesal. Bahkan ketika pintu lift sudah terbuka, Charles kembali meninggalkannya.


Melihat reaksi Charles yang marah sungguh menjadi hiburan tersendiri untuk Sharon, karena itu adalah kejadian yang begitu langka. Tidak biasanya jika suaminya akan cemburu sampai seperti itu, saat bersama Kent dulu, sikapnya tidak sampai seperti sekarang. Namun, kenapa sekarang berbeda?


Sharon menghentikan langkahnya, dan menatap punggung Charles yang berjalan sudah sedikit jauh darinya. Kemudian, ia memegangi perutnya, ia terdengar merintih, dan Charles yang mendengar hal itu pun langsung menghentikan langkahnya.


Ingin rasanya ia berbalik, tapi dia merasa takut jika dirinya akan dikerjai lagi. Namun, rintihan itu terdengar semakin jelas, dan akhirnya mengharuskan dirinya untuk membalikkan tubuhnya.


Kedua matanya terbelalak saat melihat Sharon sudah terduduk seraya memegangi perutnya. Lalu, dengan langkah seribunya, Charles menghampirinya, dan menggendongnya menuju ruangan miliknya. Setelah berada di dalam, Charles membaringkannya di sofa yang berada dalam ruangannya.


Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menyambar telepon kantornya untuk menghubungi seseorang. Sayangnya, hal itu di tahan oleh Sharon, dan Charles mencoba menepisnya agar wanita itu tidak menghalangi dirinya untuk memanggil tim medis.


"Tidak perlu lakukan itu!" Sharon masih menahan lengan Charles.


"Kau kesakitan, mana mungkin aku diam saja? Itu pasti karena kau berlari kecil seperti tadi. Kau tengah hamil, dan tidak seharusnya kau melakukan hal tersebut. Kau ingin membahayakan calon anak kita?" Charles tampak marah saat mengatakan semuanya.


Sharon begitu terkejut mendengar penuturan pria di hadapannya. Nada suara yang tinggi, nada yang sungguh tak biasa di dengar olehnya. Hingga tanpa sadar air matanya pun menetes, dia menangis bukan karena ucapan atau nada bicara Charles yang di lontarkan kepadanya.


"Kau menangis? M-maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk memarahimu. Aku hanya khawatir saja." Kini Charles berlutuh di hadapannya seraya menyeka air mata yang membasahi kedua pipi Sharon. "Apa kau tersinggung dengan ucapanku?" Menanggapi itu, Sharon menggelengkan kepalanya.


"Ini salahku! Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu." Penuturan Sharon membuat Charles mengernyitkan dahinya. "Sebenernya aku baik-baik saja, aku tidak merasakan sakit atau apapun." Sharon menundukkan kepalanya, dan Charles langsung bangun dari posisinya setelah mendengar hal tersebut.


Kedua tangan Charles mengepal demi menahan emosinya. Tubuhnya berbalik membelakangi Sharon. Lalu, ia juga mengacak-ngacak letak rambutnya, terlihat jelas jika ia menghela nafasnya dengan begitu kasar.


"Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan itu? Bisakah tidak membuat lelucon seperti itu? Bagaimana mungkin kau menjadikan kehamilanmu sebagai bahan candaan? Apakah itu pantas, hah?" Kini, emosi Charles sudah meluap-luap, dan Sharon sesekali memejamkan kedua matanya saat mendengar kemarahannya.


"Maaf, aku terpaksa melakukan itu hanya untuk membuatmu berbalik, dan berjalan menghampiriku. Aku tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa supaya meredakan amarahmu. Jika tidak begitu, kau pasti akan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang sedikit pun."


"Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kedatanganku kemari awalnya hanya untuk mengantarkan sarapan untukmu, makanlah dulu sebelum bekerja!" Sharon meletakkan tas bekal di atas meja. Lalu, ia lekas berdiri untuk meninggalkan ruangan tersebut. Sesaat sebelum keluar, ia menahan langkahnya. "Aaahh satu hal yang ingin ku ucapkan sejak tadi, sebenarnya Yarry sudah memiliki istri, dan satu anak perempuan." Tuturnya lagi yang kemudian keluar dari sana.


Kata-kata itu membuat Charles terkejut. Bagaimana bisa dokter itu sudah memiliki istri, dan anak? Jika begitu, kenapa dokter itu masih senang menggoda Sharon? Apa dia tidak menghargai perasaan istrinya? Bagaimana jika istrinya tahu akan hal itu? Bukankah istrinya akan terluka? Tubuh Charles berbalik, dan Sharon sudah tidak berada di ruangannya.


Kemana dia pergi?


Charles membatin saat pandangannya meluas mencari keberadaannya. Kemudian, ia segera keluar untuk mencarinya. Ketika di lobby, Charles bertemu dengan Key, dan Key yang melihat atasannya itu pun langsung merasa tegang.


"Tuan, aku..."


"... apa kau melihat Sharon meninggalkan gedung?" Charles tampak mengabaikan sesuatu yang ingin di ucapkan oleh asistennya.


"Aku melihatnya pergi dengan taksi sekitar 2 menit yang lalu." Key menjelaskan, dan Charles langsung keluar dari Austin Industries untuk mencari keberadaannya. "Aku rasa tuan Charles sudah melupakannya. Baguslah jika seperti itu. Namun, apa yang terjadi pada mereka sekarang? Sungguh pasangan yang membingungkan." Batin Key seraya menggelengkan kepalanya.


Kau tidak menerima panggilanku, dan tidak membalas pesanku. Dimana kau sekarang?


Kini, Charles di penuhi rasa bersalah. Bagaimana pun memang tidak seharusnya dia memarahinya seperti tadi. Hal itu pasti sudah sangat mengejutkannya, kondisi Sharon yang tengah hamil muda pun semakin menambah rasa khawatir Charles.


Di waktu yang bersamaan, Sharon menatapi air danau yang begitu tenang. Ia memegangi panggar pembatas, dan terus menatapnya. Hingga seseorang datang menepuk bahunya, entah kenapa kedatangannya tidak membuatnya terkejut sedikit pun.


"Ternyata tempat ini masih menjadi tempat favoritmu, ya?" Tuturnya yang mengikuti jejak Sharon untuk menatapi air danau itu.


Bersambung ....


Jangan lupa untuk berikan like, komen kritik/sarsn untuk novel ini😍


Jangan lupa juga untuk mampir di ceritaku lainnya > Storm <


Terima Kasih💙