My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 63



Tidak menghiraukan keberadaannya, Sharon kembali pada pekerjaannya. Memang kesal berada dalam posisi seperti sekarang, ia bahkan menghentakkan jari-jarinya ketika tengah menggunakan keyboard komputernya.


Melihat hal tersebut justru membuat Charles terkekeh, karena sudah di tertawakan, Sharon langsung melayangkan satu berkas untuk memukul lengan Charles.


"Astaga, kenapa kau memukulku dengan dokumen setebal itu?"


"Aku kesal denganmu. Yang benar saja, kau, dan aku berada dalam satu ruangan? Bukankah seharusnya ruangan sekretaris itu ada di..."


"... khusus untukmu, aku tempatkan disini. Kau itu gadis nakal, dan bukan gadis penurut. Kau tidak boleh jauh dari jangkauanku, karena aku tidak ingin mengambil resiko lagi."


"Tapi tidak perlu sampai membuatku satu ruangan denganmu. Lagi pula, memang siapa yang berani untuk menyusup ke dalam kantormu?"


"Aku hanya mencegah sesuatu yang tidak di inginkan. Sebaiknya menurut, dan kerjakan dokumen itu. Aku akan keluar sebentar, saat aku kembali, kau harus sudah membereskannya."


"Dokumen ini sangat banyak, dan kau..."


"... aku percaya kau bisa." Charles membungkam bibir Sharon dengan sebuah ciuman di dahinya. Mendapatkan perlakuan itu sungguh membuatnya begitu tersipu, dan Charles segera keluar dari ruangannya.


Berusaha sekuat tenaga, Sharon mencoba menyelesaikannya, dan ingin membuat pria itu terkesan. Namun, semuanya tidak semudah yang ada dalam fikirannya. Ia masih tidak memahami alur dari semua berkas-berkas tersebut.


Kemudian, Sharon menghubungi salah satu seseorang. Ia menghubungi sekretaris 2 untuk membantunya, membantunya agar ia bisa mengetahui bagaimana alur dari berkasnya.


•••


Ketika siang tiba, Charles pun sudah kembali ke ruangannya. Setibanya di dalam, ia begitu terkejut ketika melihat berkas yang bertumpuk itu masih tidak berkurang banyak, dan ia juga tidak menemukan Sharon disana.


Lalu, pria itu berjalan ke arah meja Sharon, betapa terkejutnya dia ketika melihat Sharon justru tertidur di atas mejanya, ia tampak pulas dalam tidurnya, dan membuat Charles menatapnya dengan begitu lekat.


"Kau bebas melakukan apapun yang kau sukai, Sharon. Kau juga bebas meminta apapun yang kau inginkan. Aku akan sangat bersedia untuk memenuhinya, dan memberikannya padamu. Aku juga bersedia melindungimu. Namun, jika kelak aku tiada, percayalah satu hal, aku akan selalu mencintaimu, dan aku pergi bukan karena tidak ingin menjagamu lagi. Aku akan tetap melindungimu, namun dari tempat yang berbeda." Bisik Charles seraya menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah gadis tersebut.


"Apa kau akan pergi meninggalkanku?" Sharon membuka matanya, dan langsung memandang wajah pria di hadapannya. Mendengar hal tersebut sungguh membuat Charles terkejut.


"A-apa yang kau katakan?"


"Ketika tidur, aku dengar kau akan pergi."


"Jangan mengancamku seperti itu. Aku akan kembali bekerja, jika perlu aku akan lembur agar mampu menyelesaikannya hari ini." Sharon langsung duduk dengan tegap, dan kembali menatap layar komputernya.


"Bodoh." Charles menyentil dahi Sharon, dan gadis itu mempoutkan bibirnya seraya memegangi dahinya. "Ayo, kita makan siang dulu." Tuturnya lagi yang langsung menarik tangan Sharon.


Keduanya makan di kantin kantor, dan melihat Charles yang menginjakkan kaki di kantin karyawan pun sungguh membuat mereka yang ada disana begitu terkejut. Bagaimana tidak? Ini adalah pertama kalinya direktur mereka makan di tempat itu.


Pegawai wanita di sana pun semakin terpesona melihatnya, dan Charles hanya melempari mereka dengan senyuman miliknya. Kemudian, ia meminta Sharon untuk duduk, dan dirinya lah yang akan mengambil makanannya.


Banyak tatapan membunuh yang Sharon rasakan saat itu. Memiliki kekasih yang tampan, dan juga seorang direktur memanglah tidak mudah, begitulah yang ada di benaknya saat ini.


Charles yang memang tengah mengantri untuk mengambil makanan itu pun terlihat sedang di kerumuni oleh beberapa wanita disana. Melihatnya kewalahan menjadi hiburan tersendiri untuk Sharon.


Tidak terlihat ada perlawanan atau penolakan dari pria itu, dan ia berdiri disana sudah hampir 45 menit. Jam istirahat juga hampir berakhir, Sharon hanya menghela nafasnya saat itu.


Meski awalnya begitu menyenangkan, semakin lama terasa begitu membosankan. Terlebih lagi, tatapan-tatapan orang disana begitu menyeramkan untuknya.


"Apa dia tidak malu bersanding dengan tuan Charles?"


"Kau benar. Aku juga merasa bingung pada tuan Charles, sebenarnya apa yang dilihat dari gadis itu. Cantik memang, tapi dia sungguh tidak pantas bersama direktur kita."


Bisikkan itu terdengar hingga ke telinga Sharon. Kemudian, ia memilih untuk meninggalkan kantin tanpa sepengetahuan Charles, dan ketika dirinya pergi, seseorang menghentakkan baki makanan di atas meja orang tadi dengan senyuman andalannya.


"Jika kalian berani membicarakannya lagi, percaya tidak jika aku akan langsung melaporkan hal ini pada tuan Charles?" Orang itu tersenyum ke arah mereka, dan mereka begitu terkejut ketika melihat kedatangannya.


"T-tuan Key? Maaf, kami tidak akan mengulanginya lagi." Sesal mereka.


Bersambung..


 


Maafkan aku ya dear karena updatenya jadi semakin lama. Karena aku kerja, terkadang setelah pulang, langsung masuk ke alam mimpi. Tapi, aku akan terus usahakan agar bisa selalu maksimal..#edisicurcol #tebarkissdariCharles