My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 12



Sharon yang tidak melihat keberadaan Charles di luar ruangan langsung membuat Charles masuk ke dalam. Dia senang karena dapat bertemu kembali dengan ibunya Sharon. Bersama dengannya, ia selalu merasa tengah bersama dengan ibunya.


"Sharon baru saja keluar mencarimu."


"Aku melihatnya tadi, namun aku tak memanggilnya." Sahutnya terkekeh.


"Apa kau benar mencintai putriku? Kau tahu bukan jika dia sangat sensitif dengan orang-orang kaya? Bagaimana kau akan meyakininya nanti?"


"Aku sedang memikirkan itu bibi. Yang jelas untuk saat ini, aku masih belum bisa memberitahunya. Jika aku memberitahunya sekarang, dia akan berfikir jika aku hanya bermain-main dengannya."


"Mengenai operasi. Jika terjadi sesuatu kelak, aku percayakan Sharon padamu. Aku mohon jaga dia untukku."


"Tidak akan terjadi sesuatu padamu bibi. Kau akan baik-baik saja. Jika perlu, aku akan membawa semua dokter hebat dari luar negeri untuk merawatmu."


"Kau terlalu berlebihan." Balasnya seraya memukul pelan dahi Charles.


"Charles. Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau sudah berada disini? Kenapa tidak memberitahuku?" Sharon menyeru secara tiba-tiba.


"Gadis bodoh. Ini rumah sakit, jangan berisik seperti itu." Sahut Charles yang berjalan menghampirinya. "Aku juga sudah mengatakan mengenai hubungan kita pada ibu, ibu merestui kita. Sepertinya kita harus secepatnya menikah." Bisiknya dengan nada meledek.


"Tidak mau secepat itu." Balasnya yang kemudian mendorong tubuh Charles menjauh.


"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Kau ingin pulang ke rumahmu atau tetap disini?"


"Aku akan di sini. Kau berhati-hati lah."


"Tentu saja." Kemudian Charles mencium ibu jarinya sendiri, setelah itu meletakkannya di bibir Sharon. "Ciuman tidak langsung dariku." Sambungnya dengan tersenyum.


•••


Kent yang sudah berada di bandara pun siap berangkat menuju Jerman. Grace yang mengantarnya pun merasa tidak ingin melepasnya pergi. Kemudian, ketika bagian informasi mengatakan jika pesawat yang hendak di tumpangi oleh Kent akan terbang, Kent pun segera melakukan check in.


Sebelum pria itu berlalu, Grace memeluknya erat, dan Kent mengusap punggung Grace dengan sangat lembut. Hingga ia pun melepaskannya, dan segera berjalan meninggalkan gadis tersebut.


"Cinta memang tak harus memiliki jiwa, dan raganya. Tapi cinta membuatku rakus untuk memilikimu seutuhnya, Kent." Ucapnya seraya memandang punggung pria itu yang semakin menjauh.


Ditempat yang berbeda, keluarga Austin tengah menikmati sarapannya. Charlie yang sudah menghabiskan makanannya pun menatapi saudaranya yang duduk tepat di seberangnya.


Charles yang menyadari hal tersebut pun merasa sangat kesal. Hingga membuat ia melemparkan sendok ke arah saudaranya tanpa menoleh sedikit pun.


Lemparan itu tepat mengenai dahi saudaranya, dan tuan Austin sangat terkejut ketika melihat sendok melayang di hadapannya.


"Apa salahku padamu? Teganya kau melemparkan sendok ini padaku." Gerutunya kesal.


"Hanya sendok tidak akan membuat kepalamu terluka. Lagi pula aku tidak melemparkannya dengan serius." Balas Charles yang masih menikmati hidangannya.


"Tapi tetap saja menyakitkan, bodoh."


"Siapa suruh kau memandangiku? Charlie, jangan-jangan kau ..." Belum melanjutkan ucapannya, Charles menutup mulutnya dengan terkejut. "... kau menyukaiku?"


"MANA MUNGKIN AKU MENYUKAIMU? AKU INI PRIA NORMAL, KAU TAHU?" Teriak Charlie menegaskan, dan pertengkaran tersebut justru menarik tuan Austin untuk tertawa.


Setelah menghabiskan sarapannya, Charles mengganti pakaiannya. Lagi-lagi tuan Austin sangat terkejut ketika melihat putranya harus menggunakan pakaian office boy.


Charles menceritakan semuanya. Ia juga menceritakan hubungannya dengan Sharon. Tuan Austin mengerti hal tersebut, namun tetap meminta putranya untuk selalu waspada.


Ketika hendak berangkat, Charlie menahan lengan saudaranya, dan meminta dia untuk mengenalkan Sharon kepadanya. Charles menolak permintaan tersebut, dan berjanji akan membawanya di saat waktu yang tepat.


Mendapat penolakkan dari saudaranya membuat Charlie merasa kesal, dan berniat untuk mencari tahu sendiri akan gadis yang di sukai oleh saudaranya.


"Aku rasa Charles sangat menyukai gadis itu? Dia bahkan rela melakukan banyak hal demi dia."


"Aku juga merasa sepertimu. Jika gadis itu baik, aku tidak akan menentang hubungan keduanya." Ungkap tuan Austin. "Charlie, apa kau tidak mengurus cabang kita hari ini?"


"Aku hendak berangkat ayah."


Charlie pun memegang kendali di perusahaan cabang Austin Industries. Perusahaan yang di kelola Charlie adalah sebuah berlian. Bukan hanya Charles yang terkenal di mata orang luar, begitu juga dengan Charlie. Lebih tepatnya keluarga Austin memang memiliki nama baik yang bagus, baik dalam negeri maupun di beberapa negara lainnya.


Keterampilan Charlie membuat nama perusahaan semakin melambung, dan semakin banyak perusahaan yang ingin bergabung untuk bekerja sama. Tidak sedikit juga orang yang iri dengan keluarga Austin.


Bagaimana tidak? Kepopuleran yang terus menjulang, nilai saham yang semakin meningkat. Siapa yang tidak ingin merasakan semua itu? Untunglah tuan Austin mendidik kedua putranya dengan baik, sehingga keduanya tidak keluar dari jalur.


Berbeda dengan Charlie yang memerankan peran sebenarnya sebagai ceo, Charles justru tengah membersihkan jendela bersama dengan Sharon di lantai 8.


Key yang tiba-tiba melewati keduanya, langsung memberikan kode pada Charles. Ada hal yang ingin di bicarakan olehnya, Charles yang sadar dengan kode tersebut pun langsung menghembuskan nafasnya.


"Aku pergi ke toilet dulu. Jika sudah selesai, kau langsung kembali ke dapur." Ucap Charles yang menyerahkan kain serta pembersih kaca.


Melihat sekeliling, Charles sudah tiba di ruangannya. Key pun segera meminta izin untuk masuk, dan membawa beberapa dokumen penting.


"Tuan, Escape Group mengajukan diri untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan ini. Bukan hanya di Austin Industries, mereka juga melakukan hal sama dengan perusahaan adik anda, CBC Industries."


"Lantas apa Charlie menyetujuinya?"


"Dia belum menanda tangani dokumennya, tuan Charlie memintaku untuk bertemu dengan anda saat jam makan siang. Dia ingin membicarakan masalah ini secara langsung."


"Baiklah. Katakan padanya jika kita akan bertemu di Houl Cafe."


"Baik tuan."


Setelah urusan keduanya selesai. Charles segera meninggalkan ruangannya, dan memakai kembali topinya. Ketika menutup pintu, ia terkejut ketika melihat Sharon yang tengah berdiri di depan ruangannya.


Menyadari itu membuat Charles merasa gugup, dan takut jika Sharon mendengar semua pembicaraannya bersama Key.


Kini tatapan Sharon semakin lekat, dan tidak lama kemudian, Key pun keluar dari sana. Melihat kecanggungan antara Sharon, dan Charles, membuat Key langsung berfikir keras.


"Tuan muda Austin baru saja memuji kinerjamu. Lantas kenapa sekarang tidak melakukan pekerjaanmu? Jika tuan Austin tahu kau bermalas-malasan, sudah dipastikan jika dia akan memangkas gajimu bulan ini." Seru Key dengan menunjukkan wajah garangnya.


Charles sungguh tak menyangka jika Key akan berakting seperti itu. Batinnya mengumpat kesal karena sikap Key yang berani padanya. Kemudian, Charles pun mengajak Sharon untuk pergi dari sana.


"Ternyata menyenangkan bisa berkata seperti itu pada tuan Charles" Key tertawa bahagia ketika mengingat aktingnya tadi.


Bersambung ...